Aku sebenarnya tidak mempunyai bakat dan pengalaman menulis bergaya
fiksi. Apalagi yang berkaitan dengan dunia percintaan dua insan. Selama
satu setengah tahun menghuni FB aku hanya bisa menulis realitas sosial
remeh temeh yang sedang terjadi disekitarku.
Pernah
bersusah payah menulis semalaman, ketika tulisaan selesai dibuat,
ternyata tidak ada yang mengkomentari sama sekali. Padahal sudah
puluhan orang yang sudah saya tag. Berharap, paling tidak ada yang klik
jempol. Ditunggui sampai satu semingguan tidak jua muncul.
Lantaran
aku ini manusia biasa yang juga butuh karyanya diberi apresiasi, miris
juga melihat nasib catatan-catatanku tak seperti milik teman-teman
yang lain begitu berlimpah dengan komentar dan acungan jempol.
OKB. Aku harus tahu diri. Harus menyadari kalau aku ini salah satu dari rakyat rendahan yang sok bermain-main didunia maya.
LS017073
Suatu
ketika, entah mengapa, ada keinginan menggebu menuliskan sebuah kisah
tentang cinta masa laluku. Perasaan ingin mengurai cerita cinta itu
begitu kuat. Aku seperti mendapat dorongan energi lebih diluar
kewajaran potensi diri.
Aku sendiri buta menulis dengan model fiksi (cerpen, novel, dll) yang membuat pembacanya hanyut dalam alur ceritanya.
Disampinga
buta , aku berpikir ulang untuk membongkar kisah lama dengan gadis itu,
sementara statusnya, kabar yang ku dengar ia sudah menikah dan telah
mempunyai anak. Tidak etis membongakar hubungan masa lalu dengan orang
yang sudah menjadi isteri orang. Ku takutkan si suaminya jadi tahu lalu
keharmonisan rumah tangganya jadi retak.
Desakan hasrat
menuliskan kisah itu tetap menggebu-gebu. Terlintas untuk memakai nama
dan tempat kejadiannya disamarkan. Toh tak akan kehilangan esensi kisah
kasihnya. Dengan demikian aku bisa tetap mengurai masa lalu kisah
cintaku, tanpa merusak keharmonisan rumah tangganya.
Ketika
jari mulai mengetik, energi yang mengisnpirasi imajinasi malah tidak
jalan. Memori yang menampung jejak kenangan bersamanya juga menjadi
tertutup.
Aku terdiam linglung didepan komputer yang
masih menyala. Sementara dorongan itu masih begitu kuat untuk lekas
menuliskan kisahnya. Cerita cinta yang menurutku sangat indah dan tak
kan bisa kudapatkan lagi melebihinya. Masalahnya, kira-kira teman-teman
FB ku respek nggak, ya, dengan tumpahan kisahnya? Jangan-jangan hanya
indah bagiku, tapi norak buat yang lain.
Ah, persetan
dengan semuanya. Pokoknya aku harus menumpahkan. Agar, dorongan energi
yang meletup-letup itu terbebaskan. Pokoknya aku kudu ngeluarin semua
kisah cintaku yang telah bikin sesak ingatan. Harus jujur apa adanya,
baik nama dan tempat kejadiannya. Blak-blakan ae lah, biar imajinasi
masa lalu dan memori yang menampungnya bisa terbuka kembali.
Tapi
kayaknya tidak seru juga bila hasil tulisan kisah cintaku tetap tak ada
yang mereaksi. Antara masih takut dan malu-malu (kuciiing!)
mengungkapkannya, pada tanggal 7 Juli 2010 aku menulis pembukaan dengan
judul, "Cinta Adalah Titik Titik". Dengan isi kalimat yang provakitif
seperti ini: " Dengan congkak aku berkata, semua harus tahu, bahwa aku
yang bernama saiful, orang biasa saja, terlahir sebagai anak biasa
saja, yang sering diremeh-temehin orang, ternyata. Wow, punya
pengalaman cinta bak orang luar biasa dengan cerita yang sangat
istimewa” (Bisa dibaca ulang pada:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=407705353670)
Kalau
memang ternyata masih tak ada yang tertarik mengapresiasinya, aku telah
ancang-ancang diri memilih sikap tak peduli. Pokoknya menulis kisah
cintaku, sukur dibaca, lebih bersukur lagi ada yang tertarik, kagum,
dan banyak yang mengkoment. Hemm, ternyata ada seorang teman bernama
Santi isnaya yang terprovokasi bersedia menunggu kisah cintaku
selanjutnya.
(San, bila kulihat wajahmu itu mirip banget dengan saudara sepupuku. Manis banget bila dilihat dari sedotan. Just kidding)
Susah
banget merangkai cerita cinta dua insan kalau tidak biasa nulis fiksi.
Tapi mau gimana lagi, si Santi kadung menunggui. Sementara dorongan
dari dalam diri mendesak untuk menguraikannya. Dengan teramat kepepet,
akhirnya, aku memakai metode penulisan fiksi pokoknya menulis dan
mengurai apa yang ada didalam memori kenangan.
Sementara
itu memori kenanganku masih bingung mau ngeluarin kisah yang mana dulu.
Begitu melimpah dengan makna-makna berserakan yang masih perlu aku
rajut satu persatu. Aku Butuh waktu lima harian berkonsentrasi
merangkai makna-makna yang tercecer dan menyusun ulang dalam kisah yang
bisa dipaham oleh orang lain. Dan hasilnya tulisan cerita cinta
terpendamku mengalir juga lewat catatan yang kupublis dengan judul,
"Ketika Cinta Berganti Tasbih"
Hihi..Si Santi komentnya mendadak
jadi cengeng. Katanya teringat dengan cinta yang dialaminya sendiri.
Coba ingat-ngat San, komenmu kok jadi melankolis begitu, ya? (Baca lagi
di..
http://www.facebook.com/notes.php?id=100000023672347¬es_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=409584778670)
Lumayan
reaksi teman-teman mulai dari yang komen maupun yang ngasih jempol. Ada
sekitar 43 orang yang mengkomen dan 10 orangan yang menjempol. Daripada
sebelumnya nasib catatanku kebanyakan mati suri. Alhamdulillah tulisan
fiksi cinta perdanaku berhasil mencuri hati teman-teman. Walau bila
dibanding dengan catatan tulisan yang populer lainnya, maka, catatanku
masih kalah jauh.
Aku teramat bahagia walau hanya
segelintir teman yang mengkoment karena yang kurasakan mereka
memberinya dengan tulus. Biar ratusan orang yang klik 'like', tapi bila
jempolnya pada bauk semua, mending dapat sedikit, tapi bisa
mengharumkan kamar pengap hatiku. (Hehe..beladiri.co.id. Ngene iki aku
niru-niru gayamu, San!)
Apalagi aku dapat kado koment
pujian dari si Uly Giznawati yang sering nulis dikompasiana, dan bila
update status jumlahnya yang koment rata-rata diatas 50-an orang.
Pujian itu racunnya hati loh ul! Hehe..tapi gak papa deh, walau
racunnya hati! Sering-sering kamu muji, ya! Semoga kamu masih ingat
dengan komenmu yang ini,
"...Cerita yang sangat menyentuh Qalbu
religius
sekali hingga sang penulis tak mau menduakan cinta Allah, tetapi
bukankah selain berhubungan dengan Allah kita juga mesti berhubungan
dengan manusia? tanpa untuk mencederai cinta kita pada Yang Maha
Tunggal itu? sungguh perenungan yang tajam dalam rangkaian paragraf"
Ini Uly Giznawati
Foto Uly Waktu Nongkrong Di Kompasiana
Diakhir
tulisan sengaja tidak aku tutup dengan kata tamat. Tetapi bersambung
minggu depan. (Duh, pede amat. Padalah catatan "Ketika Cinta Berganti
Tasbih" itu saja ngerangkainya, susahnya minta ampun!) Sengaja ku
beri aba-aba bersambung, agar teman-teman bersedia menunggu kisah cinta
berikutnya. Lantaran memang masih banyaknya stok kisah cinta yang
mustahil bisa dituangkan seluruhnya dalam satu catatan.
Dalam
waktu semingguan, aku menepati deadline bersambung yang kujanjikan, aku
mempubliskan kisah cinta berikutnya dengan Judul, "Cinta Menuntunku
Menembus Batas Gender". Kali ini koment si Santi begitu mensupport
kesahajaan Nining dibalik makna kisahnya dengan komennya yang panjang:
"
Mantap pul..... g byk cewek spt nining ddunia ini. Kbykn cewek
menempatkan cinta setara dgn materi, kedudukan sosial, dan kalo bisa
dpt cowok yg bs bikin dia tmbah keren dimata temen2. Saluuut bgt sm
Nining, dia liat Ipul g pake mata mgkn, tp, pake hati! * ini g
bermaksud lbh menegaskan ipul adalah org yg ..... hemmm serba pas2n lo,
ya!0.* Kembali ke basic pul, "CINTA MISTERI" dan punya kekuatan yg
sangat dasyat. (q jg punya itu he he g kalah dasyat jg sm kalian).
Gender......., materi, keren, ..... apalagi......?? G penting!!"
He he..Santi, Santi! Dibalik support heroikmu kok masih sempet-sempetnya bilang,
"q jg punya itu he he g kalah dasyat jg sm kalian"
. Kwkwkwk...! Eh, San. Baca bibirku tanpa berkedip, ya? Sekarang, kamu
itu manis banget, biarpun ngelihatnya gak usah pakai sedotan sekalipun.
Ini Santi Isnarya
Foto Santi Di Zoom Jarak Dekat
Juga,
dapat tambahan komen manis dan menginspirasi dari Rei Bangga:
"Hmmm...ceritanya emang Kerbiz, keren abiz...tapi kok masi bersambung?
:P Jadiin novel aja mz... :D". Ku pikir selama ini kata keren banget
itu kedudukannya sudah lebih tinggi dari kata keren. Eh, ternyata masih
kalah sama Keren habis atau disingkat Kerbis. Hihi jadi malu sama Rei.
Ketahuan kalau si penulisnya masih Jadul dan oot dengan istilah-istilah
terkini. ( Rei, terima kasih, ya. Pujian kerbismu telah menginspirasi
tulisan-tulisan berikutnya)
Ini Rei Bangga
Foto Kerbis Rei Memimpin Barisan
Dibawah panggung narasi
Sejak
saat itulah aku hampir setiap hari terbayang akan kisah cinta tanpa
memiliki pada Nining Setihari layaknya kembali pada realitas hidup 11
tahun yang lalu. Tanpa terasa telah delapan episode cerita yang sudah
kupublis dan direspon hangat dan haru biru dalam aplikasi catatan ini.
Foto Nining Mirip Wulan Guritno Atau Foto Wulan Guritno Mirip Nining
Tulisan-tulisan yang
Live in
dan bernuansa utopis itu, awalnya memang sebatas menuruti dorongan
energi diri yang aneh dan meletup-letup, disamping pula untuk menepati
janjiku sendiri yang sedang diitunggu Santi. Namun berikutnya, pasca
catatan "ketika cinta berganti tasbih" terselesaikan dengan
tertatih-tatih, sepertinya, gendang telingaku mulai dihembusi oleh
bisikan-bisakan aneh dan mewujud datang menjadi rasa jiwaku yang aneh
dan nyata. Seterusnya menguasai ruhku, memerintahku untuk terus
menuliskan semua kicah cinta bersamanya. Tak boleh ada sedikitpun kisah
yang tercecer.
Ya sejak saat itulah sosok Nining Setihari
setiap hari hadir dihadapanku bagai benar-benar nyata saat aku mulai
menuliskan kisahnya didepan komputer.
Menjadi aneh banget
dan tak bisa kupahami, bila ia tak hadir dihadapanku, aku yang sudah
berhadapan dengan komputer itu tak bisa lagi mengurai setiap jejak
ceritanya.
Waktu menulis seringnya kulakukan pada tengah
malam, saat suasana sudah sunyi (Dikantor Yayasan Kemanusiaan Kec.
Sukorambi-Jember). Suatu kesunyian yang menghanyutkan
kesepian-kesepianku. Bila nuansa jiwaku sudah demikian maka Nining
akan datang dan duduk disebelahku. Dan mengajak bercengkrama seperti
dulu lagi. Tapi bedanya kini kami sudah saling jujur akan rahasia hati
masing-masing. Bila aku mulai kelupaan akan kata-kata yang pernah
diucapkannya, maka, Nining membantu mengulang apa saja yang telah
dikatakannya padaku. Aku yang tak berbakat menulis fiksi dengan adanya
dia didekatku, jariku menjadi pandai menari-nari dengan merangkai
kalimat dengan detail peristiwa demi peristiwa yang kami alami
bersama.
Kawan, sekarang aku jadi ingat (mulai dari
'cintaku menembus batas gender sampai cerber yang ke enam), selama
tulisan-tulisan itu mengalir, hari-hariku merasa berlimpah dengan
kebahagiaan (Walau dalam kondisi nasib yang sangat memprihatinkan.)
Terima kasih buat Niningku, karena legenda bersamamu aku mulai banyak
mendapat sahabat-sahabat FB yang peduli dan mau berbagi hati walau tak
pernah bertatap muka langsung. Tak masalah bagiku. Aku rasa kemayaan
suatu ruang tak menghalangi kenyataan eratnya sebuah jalinan
persahabatan.
Dan yang lebih utama dari kebahagiaanku
adalah, Nining seringkali hadir menemani kesendirian hidupku tidak saja
aku sedang ada didepan komputer mengetik kisahnya. Namun Nining
menemaniku dimanapun saat aku sendirian dan merasakan kesepian. Dengan
adanya Nining disisiku, aku menjadi betah dengan kesendrian hidup dalam
dunia nyata yang fana ini
Setiap aku selesai membantu
kerja (mengajar) teman-teman Yayasan, selekasnya aku menyingkir mencari
ruang kosong. Bila diwarung kopi sebelah yayasan sedang sepi orang, aku
bergegas kesana, menyiapkan sebuah ruang tamu hati, merapikan dua
pasang kursi batin untuk tempat percakapannya. Sambil memesan kopi dan
sebatang rokok, aku pun menjadi asik kembali bercengkerama dengannya.
"Yang koment catatanmu kebanyakan, kok cewek semua, sih?" Ujar Nining Protes
"Yah,
habis tulisannya kan berkisah tentang cinta, Ning! Biasanya Sinetron
cinta yang di TV itu, yang suka kan kaum cewek. Mana ada kaum cowok
yang suka dengan cerita cengeng seperti itu, iya kan?"
"Bukan itu maksudnya!" Nining cemberut
"Terus
apa dong, say!" Aku menyabarkan biar tidak ngambek. Biasanya kalau
sudah ngambek, dia bisa-bisa selama dua sampai tiga harian tak mau
datang lagi kepadaku.
"Gimana yang cowok mau koment bila yang
kamu tag kebanyakan kaum cewek. Ya risih lah, cowok ikutan berkomentar
ditengah sekian cewek-cewek yang kamu incar itu"
"Aku kan gak berniat seperti itu, Ning. Kamu cemburu ya?" Aku Mencoba memancing kehangatan darinya.
"Ih, ngapain cemburu. Apalagi pada tiga cewek pengkomen setiamu itu. Dan sok tahu tentang apa cinta itu! Gak level, lah!"
"Jangan ngomong gitu lah, Ning! Mereka tulus banget kok. Itu keluar dari hati nuraninya"
"Minggu depan, cowok yang ditag harus lebih banyak dari ceweknya. Awas kalau nggak!"
"Iya, ya! Entar cowok semua dech yang aku tag!"
"Huh, nyebelin kamu" Ia berlalu begitu saja dan menghilang, berbarengan dengan temanku yang datang menghampiriku.
Bila sudah ngambek begitu. Nining tak kan datang lagi selama dua hari sampai tiga hari.
Begitulah
kawan. Selama kurang lebih 1 bulan setengah hari-hariku menjadi seperti
berada dalam dunia 11 tahun lalu. Saat awal aku dan Nining mulai saling
mengenal sampai akrab dan sampai aku mencintainya dengan teramat
sangat. Yah, kesendirianku kini telah menjadikan diri sebagai manusia
yang hidup pada masa lalu dalam tubuh yang berdiri diatas masa kini.
Seperti yang telah kubilang, justru aku menjadi teramat bahagia dengan
keadaan seperti itu. Dan satu lagi, hidupku merasa tidak sepi karena
Nining sering hadir menemani kesengsaraan hari-hari ku.
Mohon
itu jangan dimaknai aku sedang masuk pada fase awal kegilaan. Biar
tidak semakin mencabik-cabik perasaanku. Walau pun aku sendiri tak
keberatan dan membantahnya sedikitpun.
Awas loh, ya! Jangan bilang aku sudah mulai gila, ya?
(Aku
jadi sedih, nih!). Sejak tulisan yang kedua berjudul "Cinta Menuntunku
Menembus Batas Gender" dimulai, hampir di tiap hariku yang sepi dan
malam-malam sunyiku, ia akan selalu bercengkerama denganku. Walaupun
aku tak memintanya untuk ditemani, ia akan datang dengan sendirinya.
Kecuali, aku sedang membantu mengajar sekolah yayasan, berinteraksi
dengan teman-teman, atau saat aku di warnet, pasti ia tahu diri dan
tidak mau ada disampingku.
Ia begitu baik banget kawan!
Puisi dengan judul 'Tidur' yang dulu membuatnya terpingkal-pingkal
didepan mading kampus, ia bacakan berulang-ulang ketelingaku untuk
menghibur. Terasa sangat dekat, kawan. Benar-benar sangat dekat sekali,
sampai bait demi baitnya menjalar keseluruh saraf-saraf otakku. Indah
sekali suaranya sekaligus menggelikan. Ia membaca puisinyanya hanya
mengulang-ulang kalimat pada bait awal , " Aku ingin tidur. Aku ingin
tidur dan tertidur. Aku ingin tidur dan tertidur. Tidur lagi, ah!"
Begitu terus di ulang-ulang. Nyebelin, ia merapalnya sampai menyita
waktu setengah jam-an.Tapi memang aku orangnya tak bisa marah padanya.
Kalimat-kalimat
pendek itu terdengar sampai kerelung hati. Dan menjadi terdengar
menggelikan. "Tidur lagi, ah! Tidur lagi, ah!" Suaranya diperlambat dan
dilamatkan seperti orang yang sedang ngantuk beneran. Nining
terpingkal-pingkal. Jadinya aku kepingin ikut terpingkal-pingkal
bersamanya. Untung aku lekas menyadarkan diri dari situasi yang
mengitari yang tidak memungkinkan aku ikut tertawa bersamanya. Lalu
secepatnya aku membaur dengan teman-teman yayasan. Kalau aku sudah
bersikap melarikan diri demikian. Nining pun enggan menemaniku.
Yah,
satu setengah bulanan jarum jam hidupku menjadi berputar pada masa lalu
persis seperti aku sedang mengalami dengan sangat nyata akan cinta
tanpa memilikinya selama tiga tahunan. Padahal sebelum menjadi penulis
cerita kisahnya yang bersambung, Nining sudah aku buang pada kotak
sampah kenangan. Tertumpuk oleh pengalaman-pengalaman baru selama 8
tahunan.
Selama itu pula, aku tak pernah berjumpa atau
pun ingin menjumpainya. Hanya dapat kabar dari Aan Subiyanto 3 tahun
yang lalu kalau Nining sudah menikah dengan anak Akmil (Akademi
Militer) yang dulu tak pernah dicintainya itu. Ia telah punya seorang
anak laki-laki. Dan kabar terakhir yang ku dengar dari mulut Aan,
bahwa, Nining mengalami kondisi depresi berat. Katanya Aan, Nining
sering membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok.
Walau
begitu, aku hanya sekilas lalu saja mendengar dan memikirkan
kabar-kabar tentang keadaan Nining. Bagi aku Nining adalah sosok masa
lalu yang tak perlu dihadirkan kembali dalam masa kiniku. Takdir
cintaku padanya adalah cinta yang tak harus memiliki selamanya.
Sampai
suatu ketika kesibukan hari-hariku bercengkerama dalam sepi bersama
Nining, terputus oleh sebuah realitas, bahwa, hari Raya Idul Fitri
tinggal sebulan lagi. Aku tersadar. Aku tidak boleh terus-terusan asik
sendiri bercengkerama dengan Nining. Terbayang bila hari raya Idul
Fitri biasanya keponakanku yang lucu itu kubelikan baju lengakap plus
uang ngelencernya. Teringat juga akan ibu dan Nenekku yang sangat
perlu uang untuk kebutuhan hari raya.
Aku tidak boleh
egois dengan kebahagiaan aneh yang telah kumilik itu. Aku harus lebih
mengutamakan kebahagian keponakan, Ibu, dan nenek di hari raya Idul
Fitri. Yah, aku harus rela berjarak meninggalkan sejenak
percengkeraman dengan Nining dalam setiap sepiku.
Aku pun
menerima tawaran dari seorang teman yang sering membantu kesulitan
hidupku, untuk bekerja sebagai pekerja sosial pendampingan anak-anak
miskin yang difasilitasi oleh ILO (International Labour Organization).
Untuk sementara waktu aku mempersembahkan diri dan pikiranku dalam
pekerjaan itu walau pun aku tak pernah cocok dengan ideologi
pragmatisnya orang-orang yang bekerja didalamnya.
Cuma
digaji 1 juta, kawan. Apalah arti uang segitu, begitu hari raya Idul
fitri usai uang itu pun ludes untuk 3 keponakan, ibu dan Nenekku.
Praktis uang itu tak ada sisa untukku. Tapi biarlah, yang penting
keponakan-keponakan lucuku itu tersenyum bahagia karenanya.
Pasca hari raya Idul Fitri
Aku
memutuskan diri berhenti dari pekerjaan itu walau pun aku sangat
membutuhkannya. Banyak sebabnya, terutama aku tak ingin idealisme
hidupku tercabik-cabik dengan menjadi pekerja sosial pendidikan
anak-anak miskin, tetapi orang-orang yang bekerja didalamnya,
ideologinya pragmatis semua. "Atas nama memajukan pendidikan anak-anak
miskin tapi sebatas untuk mendapat dan mengelolanya sebagai data mati
demi kontrak lembaganya diperpanjang oleh penyandang dananya." Kulihat
tak ada jiwa pengabdian sosial sedikitpun diantara mereka.
Sementara
uang gajian sudah ludes. Aku kebingungan setelah berhenti dari
pekerjaan itu. Akankah kembali lagi keYayasan Kemanusiaan di Sukorambi,
atau mengabdi di Ponpes Tanpa Papan Nama bersama rakyat desa jambuan
mengembangkan usaha ekonomi mandiri? Dimana, kedua-duanya masih sangat
mengharap aku kembali kesana. Atau, menerima tawaran seorang teman yang
telah jadi pejabat dijember itu untuk kerja sama bisnis jasa biar bisa
membahagiakan hidup emmak? Entahlah.
Seminggu setelah
hari raya Idul Fitri, diwarung kopi Buk Yon, ditengah kebingunganku,
terlintas untuk kembali gila-gilaan bercengerama dengan Nining. Tapi,
entah kenapa selama sebulan puasa sampai hari ke 7 Idul fitri itu,
Nining tak pernah hadir lagi seperti sebelumnya. Dalam kesendirian
duduk diwarung Buk Yon, walaupun aku telah merasakan kesepian mendalam,
Nining tak jua hadir. Agenda untuk merampungkan catatan cerita yang
masih belum kelar itu, jadi malas untuk meneruskannya.
Dua jam sendirian duduk di warung Kopi Buk Yon. Teman ku yang bernama Satria datang dan langsung duduk disampingku.
"Oh, ya Gus Ipul. Sampai lupa. Mohon maaf lahir batin."
"Iya,
sama-sama. Gimana kabar advokasi-advokasi perempuanmu?" Aku membuka
obrolan agar ia bercerita panjang lebar dan bisa mengusir rasa sepiku.
"He he..sek sek. Aku tak bales dampingan advokasi terbaruku" Selorahnya kembali asik dengan dunia sms nya.
Biasanya
anak ini suka mengumbar kata kaitan filsafat dengan perempuan, agama
dengan perempuan, hubungan ilmu kimia dengan perempuan, apapun selalu
dikaitkan dengan nilai-nilai yang ada dalam perempuan.
Kali
ini dia lebih asik dengan SMSnya daripada membicarakan dunia perempuan.
Temanku ini unik. Tidak mau dibilang pacaran saat kencan dengan pacar
barunya, tetapi lebih senang disebut sebagai kerja mengadvokasi kaum
perempuan.
Aku mulai terkena virus pingin ikutan SMS atau
menelpon seperti yang dilakukannya. Tapi perempuan siapa yang akan ku
telpon? Wong selama ini aku tidak punya kenalan perempuan keculai teman
FB.
"Wah, kalau sampean jangan ikut-ikutan saya Gus. Bukan jamannya lagi bagi sampean"
"Halah, kamu itu ngemeng epe. Nelpon Nining, ah! Mumpung masih suasana hari raya idul fitri. "
HP
Fleksi jadulku yang pulsanya tinggal Rp. 1500-an kupencet tombol nomor
0334520xxx.. Itu Nomor rumah Nining. Walau aku tak pernah menelpon
Nining selama 8 tahunan, tapi aku masih sangat hapal luar kepala sampai
sekarang.
Dengan sisi pulsa yang tinggal sedikit. Berbicara secukupnya dan Berharap kabar Nining baik-baik saja
"Tuut tuut ..." Menunggu telponnya diangkat dengan hati yang deg-degan.
"Hallo" Suara seorang ibu setengah baya menyapa.
"Assalamu`alaikum, buk" Sapaku mengakrabkan diri biar tidak dicurigai macam-macam.
"Waalaikum salam. Ini dari siapa?"
"Saya
Saiful. Teman kuliahnya Nining 8 tahun yang lalu, buk. Saya hanya mau
ngucapkan minal aidin saja. Nining nya ada Buk. Kalau boleh saya ingin
bicara sebentar"
"Waduh mas, sampean belum tahu kabar Nining, ya?" Terdengar nadanya sedih.
"Nggak tahu buk. Emang kabarnya Nining kenapa. Dia sehat saja kan Buk?" Aku mulai cemas dan penasaran dengan kabar Nining.
"Nining sudah meninggal dunia, mas. Sekarang sudah dapat satu tahunnya."
"Innaliilahi wa innaa ilaihi roji`un." Aku menjadi lunglai. Temanku yang sedari asik dengan sms mendekatkan telinganya ke HP ku.
"Saya ikut berduka cita buk. Saya ikut merasa kehilangan. Kalau boleh tahu meninggalnya karena sakit apa buk?"
"Iya terima kasih. Sakit itu, ehmm..sakit paru-paru mas!"
"Tut..Tuut..." Telpon terputus, pulsaku tak cukup melanjutkan percakapan.
Tidur
Aku ingin tidur
Mataku capek melihatnya
Tubuhku lelah merasakannya
Aku hanya ingin tidur dan tertidur
Buat apa bangun, jika bangun membuat aku hanya ingin tidur
Aku hanya ingin tidur dan tertidur
Buat apa bangun jika bangun membuat mataku selalu minta tidur
Aku hanya ingin tertidur
Dengan tertidur aku bisa bermimpi indah
Dengan tertidur aku tidak resah
Tidur membuat mataku tak berdosa
Tidur membuat hati dan pikiran terasa disurga
Tidur lagi, ah!
Mimpi lagi, ah!
Created By: Saiful Rahman, 5 Nofember 1999)
=========>>>>
Selamat
jalan kekasih. Engkau benar. Cinta memanglah bukan untuk memiliki. Ia
hanya cukup dirasakan. Ketika cinta itu telah saling memiliki justru
menyengsarakan hidup para pecintanya.
Oh itu, ya? Pantesan kamu sebulan lebih sebelum puasa rajin datang kepadaku sebagai sepasang kekasih yang saling memiliki.
Oh itu, ya? Walaupun aku tak bisa menulis kisah fiksi kamu terus mendorong pokoknya aku menuliskan kisahnya.
Oh itu, ya? Sehingga tanpa sengaja puisi Tidur 11 tahun yang lalu itu kutemukan kembali diantara tumpukan buku-buku usangku.
Ya ya. Aku paham sekarang. Ternyata itu semua sebagai tanda salam perpisahanmu kepadaku.
Terima
kasih ya. Atas semua darimu yang datang kepadaku. Mohon maaf aku tak
bisa segera ke tempat peristirahatan barumu sekarang. Kelak aku pasti
kesana.
Aku sekarang masih berlumuran penderitaan hidup.
Aku tak ingin saat kamu melihatku lalu menjadi iba. Kelak aku pasti
bermain ketempat damaimu sambil membacakan puisi "Tidur" itu dan kita
bisa terpingkal-pingkal bersama disana.
TAMAT