Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

19 Sep 2011

Hati-Hatilah Banyak Bencong Bergentayang di Facebook!!!



Facebook yang sudah ngetred dalam dua tahun terakhir ini, pada kenyataannya tidak hanya menjadi life style, tapi juga merupakan budaya kita sehari-hari. Rasanya tidak enak, ada yang kurang, jika semenit saja tidak nongol dalam dunia pesbuk. Pesbuk sebagai budaya peradaban mutakhir orang2 modern, tidak hanya merambah wilayah kota, tapi sudah sampai didesa. Pun semua kalangan mulai dari yang tua sampai anak-anak semuanya meramaikan budaya pesbuk. Tidak hanya dari yang berjenis seks heterogen namun pula yang seks homogen juga tak luput hidup bersemi dipesbuk. Banyak kepentingan yang dibawa oleh para pengguna pesbuk, mulai dari sekedar say hello, tempat untuk mencari perselingkuhan, berjejaring sosial, sampai untuk kepentingan bisnis. segala macam kepentingan bisnis; mulai dari bisnis yang umum sampai bisnis esek-esek.
Aku sendiri mulai akrab dengan dunia pesbuk, kurang lebih 1, 5 tahun. Sekarang jumlah temanku kurang lebih 1500-an. Banyak pengalaman dan rasa yang aku dapat kan selama itu. Mulai dari jaringan bisnis baru, informasi yang berlimpah, gaya hidup, jejaring pertemanan baru, dan sebagainya sampai dapatkan pacar via pesbuk, putus nyambung-putus nyambung via pesbuk. Jumlah teman 1500-an yang aku dapat memang tak disaring terlebih dahulu. Jadinya banyak yang tidak benar-benar kenal daripada yang dikenali.
JIka dapat chattingan dari teman yang tak kukenal, berkata tak senonoh, biasanya langsung aku delete. Jarang aku chatting dengan cowok, kalaupun terjadi itu biasanya dari teman yang telah kukenal didarat. Atau kalau dapat sapaan dari cowok biasanya berkait dengan share pengetahuan atau berbincang kondisi kehidupan praktis. namun lebih banyak chattingku dengan teman berjenis cewek. Bukan apa-apa itu hanya untuk hiburan belaka. Pernah juga gak kepingin chatt sama cewek tapi kaum hawa ini mendesak untuk dilayani. Maklum aku cakep sih ya? he...he...
Kejadiannya tadi siang. Tiba-tiba aku mendapat sapaan chatting dari teman cowok yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Biasanya aku jarang meladeni. tapi, entah kali ini, walau agak lama aku membalas sapaannya. Setiap ia menyapa, aku membalasnya agak lama. Belum aku balas dia sudah kirim balasan dengan nada agak feminis. Aku agak curiga dengan orientasi seksual orang ini. tapi biarlah, dalam batinku berkata, positif thingking aja, lah! Namun lama-lama aku tersentak dengan pertanyaan dan pernyataannya. Lebih jelasnya Chatting ku dengannya seperti berikuti:
Eaman Yaa Iman
siamg om...?
14:17
Saya
siang
14:21
Eaman Yaa Iman
ganggu ga nih..?
14:26
Eaman Yaa Iman
na lo ko diem..?
14:26
Saya
nggak juga..siapa nih
14:2
Eaman Yaa Iman
eman,, om orang mana,..?
14:31
Eaman Yaa Iman
tuh kan diem..
14:31
Saya
jawa timur
14:32
Eaman Yaa Iman
ow... o ya om boleh tanya gak..
14:32
Saya
apa?
14:38
Eaman Yaa Iman
tau gak om..?
14:40
Saya
tau apanya
14:41
Eaman Yaa Iman
artinya om tau gak..
artinya peju apa,,?
14:42
Saya
mani
14:43
Eaman Yaa Iman
masa sih..?
14:44
Saya
iya
14:49
Eaman Yaa Iman
ow,, om aku mau dong isep peju om..?
15:48Eaman sedang offline.
Cowok ini, karena saya penasaran, saya klik profilnya. Cowok tulen. berumur 20 tahunan. Sebenarnya saya tak ingin menshare ini pada teman-teman, karena ini prifasinya. Tapi dia lancang, sih. Menurut aku kalimat chatting terakhirnya diatas merupakan pemaksaan orientasi seksual. atau dia sekedar coba-coba? mungkin dikiranya sy punya orientasi seksual yang sama dengannya. Atau aku ini emang guannteng banget gitu, ya? Jangan kan dari kaum hawa, dari kaum adam pun tergila-gila, qiqiqi...(ganteng dari hongkong!).
Tapi perbuatannya diatas tidak sopan sih? ATau dengan tulisan ku ini dia malah berterima kasih, ya? Siapa tahu, tulisan ini bisa menolongnya mendapatkan mangsa. Siapa tahu teman-teman cowokku yang telah kukenal tapi gak ketahuan biseksualnya, secara diam-diam mengklik tautan nama Eaman Yaa Iman diatas dan ngajak kencan. He..He..
Cerita diatas semua sungguh pengalaman mewahku didunia pesbuk yang tak ingin ku ulang. Cukuplah sekali ini saja. WKWKWK
Berhati-hatilah teman,  kalian harus  selektif lagi agar facebookmu  tidak tersusupi oleh kaum transeksual yang sedang mencari mangsa di dunia maya.
Salam Santri Kenthir

18 Sep 2011

Teori Modernisme


 Pengertian Modernisasi
Menurut  Astrid S Susanto (1977) modernisasi adalah proses pembangunan kesempatan yang diberikan oleh perubahan demi kemajuan. Senada dengan Astris, menurut Widjojo Nitisastro: modernisasi mencangkup suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis
Modernisasi dalam pengertian kekinian sangat apik dilontarkan oleh  Soerjono Soekanto: modernisasi adalah suatu bentuk perubahan sosial, yan bisanya perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan Sosial Planing .


Syarat-syarat Modernisasi.
-Cara berfikir ilmiah ( Scientific thinking) yang institutionalized dalam the ruling class maupun masyarakat.
-Sistem administrasi negera yang baik, yang benar-benar mewujudkan bureaucracy (birokrasi).
-Adanya system pengumpula data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu.
-Penciptaan iklim yang favoureble dan masyarakat terhadap modernisasi dengan cara pengunaan alat-alat komunikasi masa.
-Tingkat organisasi yang tinggi, yang disatu pihak berarti disiplin, sedangkan dilain pihak berarti pengurangan kemerdekaan.
-Sentrasi wewenang dalam social planning.

 Warisan pemikiran Modernisasi

Sejak awal perumusan, aliran pemikiran modernisasi secara sadar mencari suatu bentuk teori. Dalam usahanya menjelaskan persoalan pembangunan negara-negara Dunia Ketiga, perpektif ini banyak menerima warisan pemikiran dari teori evolusi dan teori fungsionalisme. Ini terjadi kerena pengaruh teori evolusi telah terbukti mampu membantu menjelaskan proses masa peralihan dari masayarakat tradisional ke masyarakat modern negara-negara Eropa Barat, selain juga mampu menjelaskan arah yang perlu ditempuh negara Dunia Ketiga dalam proses modernisasinya.

Pewarisan pemikiran struktural-fungsionalisme ke dalam teori modernisasi terjadi lebih disebabkan oleh kenyataan, bahwa sebagian besar pendukung utama teori modernisasi seperti: Daniel Larner, Marion Levy, Neil Smelser, Samuel Eisenstadt, dan Gabriel Almond, lebih banyak terdidik dalam aliran pemikiran struktural-fungsionalisme, sewaktu mereka tengah berada dalam bangku kuliah dahulu. Oleh karena itu, kan bermanfaat apabila sebelum menyampaikan secara detail konsep-konsep pokok teori modernisasi, disampaikan terlebih dahulu secara singkat pola pikir teori evolusi dan teori fungsionalisme.


Teori Evolusi

Teori evolusi lahir pada awal abad ke-19 sesaat sesudah Revolusi Indistri dan Revolusi Perancis yang merupakan dua revolusi yang tidak sekedar menghancurkan tatanan lama, tetapi juga membentuk acuan dasar baru. Revolusi Industri menciptkan dasar-dasar ekspansi ekonomi, sedangkan Revolusi Perancis meletakkan kaidah-kaidah pembangunan politik yang berdasarkan keadilan, kebebasan, dan demokrasi.

Teori Evolusi menggambarkan perkembangan masyarakat, pertama, yaitu teori evolusi mengganggap bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah seperti garis lurus. Masyarakatnya berkembang dari masyarakat primitif menuju masyarakat maju. Kedua, teori evolusi membaurkan antara pandangan subjektif tentang nilai dan tujuan akhir perubahan sosial. Perubahan menuju bentuk masyarakat modern, merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Oleh kerena itu masyarakt modern merupakan bentuk masyarakat yang dicita-citakan.


Teori Stuktural Fungsionalisme

Pemikiran Talcott Parsons memandang masyarakat manusia tak ubahnya seperti organ tubuh manusia, dan oleh kerena itu masyrakat manusia dapat juga dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia.

Pertama, seperti struktur tubuh manusia yang memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh kerena itu, masyarakat menurut Parson juga mempunyai berbagai kelambagaan yang saling terkait dan keterhantungan satu sama lain.

Kedua, karena setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan spesifik, maka dengan demikian pula setiap bentuk kelambagaan dalam masyarakat. Parson merumuskan istilah ”fungsi pokok” (fungtional imperative) untuk menggambarkan empat macam tugas utama yang harus di lakukan agar masyaraklat tidak ”mati”, yang terkenal dengan sebutan AGIL (adaptation to the envorontment, goal attaintment, integration dan latency).

Analogi dengan tubuh manusia mengakibatkan Parson merumuskan konsep ”keseimbangan dinamis-stasioner” (homeostatic equilibrium). Jika satu bagian tubuh manusia berubah, maka bagian lain akan mengikutinya. Ini dimaksudkan untuk menguragi ketegangan intern dan mancapai keseimbangan baru. Demikian juga yang terjadi pada masyarakat. Masayarakat selalu mengalami perubahan, tetapi teratur. Perubahan sosial yang terjadi pada satu lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru.

Namun demikian, teori fungsionalisme sering disebut sebagai konservatif, karena menganggap bahwa masyarakat akan selalu berada pada situasi harmoni, stabil, seimbang, dan mapan. Bias ini terjadi karena analogi dari masyarakat dan tubuh manusia yang dilakukan oleh Parson bisa diilustrasikan, bahwa tidak mungkin terjadi konflik antara tangan kanan dengan tangan kiri dengan tangan kanan, demikian pula tidak mungkin terjadi ada satu tubuh manusia yang membunuh dirinya sendiri dengan sengaja. Demikian pula karakter yang terdapat dalam masyarakat. Lembaga masyarakat akan selalu terkait secara harmonis, berusaha menghindari konflik, dan tidak mungkin akan menghancurkan keberadaannya sendiri.

Parson merumuskan konsep ”faktor kebakuan dan pengukur (pattern variables), dalam rangka menjelaskan perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Faktor kebakuan dan pengkur (FKP) ini menjadi alat utama untuk memahami hubungan sosial yang langgeng, berulang dan mewujud dalam sistem kebudayan, yang bagi Parson merupakan sistem yang tertinggi dan terpenting.

Selanjutnya, dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada sesuatu yang disebut dengan hubungan ”kecintaan dan kenetralan” (affective dan effective-neutral). Masyarakat tradisional cenderung memiliki hubungan ”kecintaan”, yakni hubungan yang mempribadi dan emosional. Masayarakt modern memiliki hubungan kenetralan, yakni hubungan kerja yang tidak langsung, tidak mempribadi dan berjarak. Parson juga merumuskan hubungan ”kekhususan dan universalitas” (particularistic dan universalistic). Masyarakat tradisional cenderung untuk berhubungan dengan anggota masyarakat dari satu kelompok tertentu, sehingga ada rasa untuk memilkul beban tanggung jawab bersama, sementara anggota masyarakat modern berhubungan satu sama lain dengan batas-batas norma universal, lebih tidak terkait dengan tanggung jawab kelompok dan kekhususan. Masyarakat tradisional biasanya memiliki kewajiban-kewajiban kekeluargaan, komunitas dan kesukuan (orientasi kolektif), sementara masyarakat modern lebih bersifat individualistik (orientasi diri-self orientation). Parson juga mneyatakan, bahwa masyarakat tradisional memandang penting status warisan dan bawaan (achievement). Selanjutnya Parson menyatakan bahwa masyarakat tradional belum merumuskan fungsi-fungsi kelembagaannya secara jelas (functionally diffused) dan karenanya akan terjadi pelaksanaan tugas yang tidak efisien, sebaliknya masyarakat modern tidak merumuskan secara jelas tugas masing-masing kelembagaannya (functionally specific)

Smelser : Differensiasi Struktural

Baginya modernisasi akan selalu melibatkan diferensiasi struktural. Ini terjadi karena, dengan proses modernisasi, ketidakteraturan masyarakat yang menjalankan berbagai fungsi yang lebih khusus. Bangunan bari ini sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai substruktur yang terkait dalam menjalankan keseluruhan fungsi yang dilakukan oleh bangunan struktur lama. Perbedaannya, setelah adanya diferensiasi struktural, pelaksanaan fungsi akan dapat dijalankan secara efisien.

Contoh klasik diferensisasi struktural dapat dijumpai pada lembaga ”keluarga”. Pada masa lalu, keluarga tradisional memilki struktur yang tidak teratur rumit. Didalam suatu atap berdiam banyak keluarga, terdiri dari berbagai generasi, dan biasanya berjumlah banyak. Keluarga hanya bertanggung jawab terhadap beban penerusan keturunan dan penanggungan emosi bersama, melainkan juga bertanggung jawab terhadap produktivitas kerja (ladang pertanian bersama), pendidikan (proses sosialisasi), kesejahteraan (memberikan perawatan manusia usia lanjut) dan pendidikan agama (pemujaan kepada arwah orang tua yang meninggal).


2.3 Implikasi Kebijaksanaan pembangunan

Pertama, teori modernisasi membantu memberikan secara implisit pembenaran hubungan kekuatan yang bertolak-belakang antara masyarakat ”tradisional” dan ”modern”. Kerena Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat disebut sebagai negara maju dan negara Dunia Ketiga dikatakan sebagai tradisional dan terbelakang, maka negara Dunia Ketiga perlu melihat dan menjadikan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat sebagai model dan panutan.

Kedua, teori modernisasi menilai idiologi komunisme sebagai ancaman pembangunan negara Dunia Ketiga, jika negara Dunia Ketiga hendak melakukan modernisasi, mereka perlu menempuh arah yang telah dijalani oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat, dan oleh karena itu mereka hendaknya berdiri jauh dari pahan komunisme. Untuk mencapai tujuan itu, teori modernisasi menyarankan agar negara Dunia Ketiga melakukan pembangunan ekonomi, meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan melembagakan demokrasi politik.

Ketiga, teori modernisasi mampu memberikan legitimasi tentang perlunya bantuan asing, khususnya dari Amerika Serikat. Jika dan kerena yang diperlukan negara Dunia Ketiga adalah kebutuhan investasi produktif dan pengenalan nilai-nilai modern, maka Amerika dan megara maju lainnya dapat membantu dengan mengirimkan tenaga ahli, mendorong para pengusaha untuk melakukan investasi di luar negeri dan memberikan bantuan untuk negara Dunia Ketiga.

Hasil Kajian Teori Modernisasi Klasik

Menurut Inkeles, mausia modern akan memiliki berbagai karakteristik pokok berikut ini:

 Terbuka terhadap pengalaman baru. Ini berarti, bahwa manusia modern selalu berkeinginan untuk mencari sesuatu yang baru.

 Manusia modern akan memilki sikap untuk semakin independen terhadap berbagai bentuk otoritas tradisional, seperti orang tua, kepala suku dan raja.

 Manusia modern percaya terhadap ilmu pengetahuan, termasuk percaya akan kemampuannya untuk menundukkan alam semesta

 Manusia modern memiliki orientasi mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi. Mereka berkehendak untuk meniti tangga jenjang pekerjaannya.

 Manusia modern memilki rencana jangka panjang. Mereka selalu merencanakan sesuatu jauh didepan dan mengetahui apa yang kan mereka capai dalam waktu lima tahun kedepan.

 Manusia modern aktif terlibat dalam percaturan politik. Mereka bergabung dengan berbagai organisasi kekeluargaan dan berpartisipasi aktif dalam urusan masyarakat lokal.


 Kritik Terhadap Teori Modernisasi

Pengkritik meyatakan keberatannya pada asumsi teori fungsionalisme, tentang pertentangan antara tradisi dengan modern. Pertama, menanyakan tentang apakah sesungguhnya yang disebut dengan tradisi? Apakah benar bahwa Dunia Ketiga memiliki seperangkat nilai tradisional yang hogen dan harmonis? Menurut mereka, negara Dunia Ketiga memiliki sistem nilai yang heterogen. Di negara Dunia Ketiga , misalnya, dapat dijumpai nilai tradisional kebesaran yang dimilki oleh para elite masyarakatnya, dan sekaligus juga nilai tradisional kebanykan yang dimilki oleh massa rakyat banyak. Elite masyarakat memilki rasa dan apresiasi yang tinggi terhadap puisi, lukisan, tarian, pemburuan, kenikmatan, dan filsafat; sementara massa rakyat banyak memberikan rasa apresiasi yang tinggi pada kerja keras, ketekunan, kehematan, dan ketidaktergantungan pada penghasilan.

Kedua, menanykan tentang apakah sesungguhnya nilai tradisional dan nilai modern selalu bertolak belakang? Disatu pihak, menut pengkritik, dalam masyarakat tradisional juga terdapat nilai-nilai modern. Sebagai contoh, didalam masyarakat tradisisonal Cina yang memberikan nilai penting pada status warisan dan bawaan, disaat yang sama juga memberikan nilai penting pada sistem ujian yang tidak mengenal hubungan pribadi dan juga menekankan pentingnya kebutuhan berprostasi. Di pihak lain, nilai-nilai tradisional juga dijumpai dan hadir dengan tagar ditengah-tengah masyarakjat modern. Nilai-nilai khusus, seperti usia, suku, jenis kelamin, tidak mungkin dapat dihilangkan sama sekali dalam, misalnya, proses penarikan dan promosi tenaga kerja pada birokrasi modern. Oleh karena itu, menurut pengkritik ini, nilai tradisional dan nilai modern akan selalu hidup berdampingan.

Ketiga, menyatakan tentang apakah sesungguhnya nilai-nilai tradisional selalu menghambat modernisasi? Apakah selalu diperkirakan untuk menghilanghkan nilai-nilai tradisional jika hendak mencapai modernisasi?. Bagi pengritik, terkadang nilai-nilai tradisional sangat membantu dalam upaya modernisasi. Sekadar contoh, dalam proses modernsasi Jepang. Nilai-nilai tradisional seperti ”loyalitas tanpa batas pada kaisar” akan dengan mudah untuk diubah menjadi ”loyalitas pada perusahaan”, yang akan membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mengurangi perputaran dan perpindahan tenaga kerja antarperusahaan.

Terakhir, pengritik meragukan tentang kemampuan proses modernisasi untuk secara total menghapuskan niali tradisional. Untuk pengkritik dengan jelas menyatakan, bahwa nilai tradisisonal memang masih akan selalu hadir ditangah proses modernsasi. Ini seperti yang telah dijelaskan oleh teori kelambatan budaya (cultural lag theory), bahwa nilai tradisional masih akan tetap hidup untuk jangka waktu yang panjang, sekalipun faktor situasi awal yang menumbuhkan nilai tradisional tersebut telah tiada.


Hasil Kajian Baru Teori Modernisasi

Dengan adanya berbagai pengritik tentang teori modernisasi klasik, maka teori ini menguji kembali berbagai asumsi dasarnya. Jika demikian halnya, maka hasil kajian baru ini, dalam batas-batas tertentu yang berarti, berbeda dengan teori modernisasi klasik dalam beberapa landas pijak berikut ini.

Pertama, hasil kajian baru teori modernsasi ini sengaja menghindar untuk memperlakukan nilai-nilai tradisional dan modern sebagai dua pengkat sistem nilai yang secara total bertolak belakang. Dalam hasil kajian baru ini, dua perangkat sistem nilai tersebut bukan saja dapat saling mewujud saling berdampingan, tetapi bahkan dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, hasil kajian batu ini tidak lagi melihat bahwa nilai tradisional merupakan faktor penghambat pembangunan, bahkan sebaliknya, kajian baru ini secara sungguh-sungguh hendak berusaha menunjukkan sumbangan positif yang dapat diberikan oleh sistem nilai tradisional. Konsepsi ini telah banyak membukua pintu dan merumuskan agenda penelitian baru, yang oleh karenanya, peneliti teori modernisasi, kemudian lebih banyak memberikan perhatian kepada pengkajian nilai-nilai tradisonal (seperti: familisme, agama rakyat, budaya lokal), dibanding pada masa-masa sebelumnya.

Kedua, secara metodologis, kajian baru ini juga berbeda. Hasil harya baru ini tidak lagi berstandar teguh pada pada analisa yang abstrak dan tipologi, tatapi lebih cenderung untuk menberikan perharian yang seksama pada kasus-kasus nyata. Hasil kajian baru ini tidak lagi merupakan unsur keunikan sejarah. Sejarah sering dibggap sebagai faktor yang signifikan untuk menjelaskan pole perkembangan dari satu negara tertentu. Bahkan dalam kajian kasus-kasus yang mendalam sering di jumapi dibantui dengan analisa dari perspektif studi bandingnya. Karya baru ini secar jernih menanyakan berbagai kemungkinan dan sebab mengapa seperangkat pranarta sosial yang sama memainkan pern yang berbeda di negara yang berbeda.

Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan analisa anggapan tentang gerak satu arah pembangunan yang menjadikan barat sebagi satu-satunya model. Sebagai gantinya, karya-karya penelitian ini kemudian begitu saja menerima kenyataan bahwa negara Dunia Ketiga dapat memilki kesermpatan untuk menempuh arah dan menentukan model pembangunannya sendiri.

Terakhir, hasil kajian baru teori moderinsasi ini lebih memberikan perhatian pada faktor eksternal (lingkungan internasional) dibanding pada masa sebelumnya. Sekalipun perhatian utamanya masih pada faktor internal, perana faktor internasional dalam mempengaruhi proses pembangunan Negar Dunia Ketiga ini juga menaruh perhatian pada faktor konflik. Bahkan dalam analisanya, karya baeru ini sering berhasil mengintegrasikan dengan baik faktor konflik kelas, dominasi idiologi dan peranan agama.

Tabel persamaan dan perbedaan antara teori modernisasi klasik dengan teori modernisasi baru


Teori Modernisasi Klasik

Teori Modernisasi Baru

Persamaaan



Keprihatinan

Negara Dunia Ketiga

Sama

Tingkat analisa

Nasional

Sama

Variable pokok

Faktor internal:

Nilai-nilai budaya pranata sosial

Sama

Konsep pokok

Tradisional dan modern

Sama

Implikasi kebijaksanaan

Modernisasi memberi muatan positif

Sama

Perbedaan



Tradisi

Sebagai penghalang pembangunan

Faktor positif pembangunan

Metode kajian

Abstrak dan kontruksi tipologi

Studi kasus dan analisa sejarah

Arah pembangunan

Garis lurus dan menggunakan USA dan negara-negara Eropa Barat sebagai model

Berarah dan mermodel banyak

Faktor ekstern dan konflik
Tidak memperhatikan

Lebih memperhatikan

Modernisasi Di Indonesia

Negara Indonesia merupakan Negara yang sedang berkembang yang sedang berupaya membangun masyarakatnya dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Hal itu dilakukan dengan adanya pembangunan masyarakat secara keseluruhan dalam bidang modernisasi.

Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia agar setara dengan masyarakat modern bangsa lain. Oleh sebab itu modernisasi di Indonesia dapat dikatakan terbuka, artinya bahwa dalam proses modernisasi tidak tertutup kemungkinan untuk menerima unsur-unsur dari luar. Namun tentunya harus ada filterisasi (penyaringan) terhadap unsur-unsur dari luar.

Gejala-gejala yang tampak dari proses modernisasi di Indonesia meliputi segala bidang, baik teknologi, politik, sosial, ekonomi, agama dan kepercayaan

Salam Santri Kenthir

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More