Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

30 Sep 2011

Gara Gara Propaganda Cap PKI, Ortuku Ikut-ikutan Impor Nama Arab


Nama asliku Muhaimain Iskandar. Nama ini pemberian orang tua saya sejak lahir. Sebutan nama kearab-araban seperti nama saya di Jawatimur tempat kelahiran saya sudah jamak. Mayoritas penduduk Jawa Timur Pasca Tragedi kemanusiaan 30 September 1965 berduyun duyun melekatkan nama pada anaknya yang baru lahir dengan nama Arab.
Maka orang tua saya pun ikut-ikutan memberikan nama kepada saya , dengan nama Arab. Sedang kedua orang tua saya sendiri masih memakai nama lokal khas Jawa Timur tempo dulu. Ibu saya bernama Juminten, sebuah nama yang tak ada padanannya di luar Jawa Timur. Juminten adalah nama khas yang sering dipakai penduduk Jawa Timur sebelum penduduk Jawa Timur dibombardir oleh nama impor dari arab.
Bapak saya bernama Mujiono. Sama dengan nama Juminten, Mujiono adalah produk lokal nama Jawa Timur tempo dulu. Kesamaannya, kedua nama orang tua saya adalah nama khas orang jawa timur sebelum Islamisasi nama menggurita.
Saya sebagai Anak bungsu dari tiga bersaudara. kedua kakak saya pun diberi nama-nama yang di impor dari Arab. Kakak yang pertama bernama Imam Syahrowi dan kakak kedua bernama Nurhasanah. Saya tidak mengerti mengapa kedua orang tua saya memutus begitu saja ketersambungan nama anak-anakny dengan nama mereka yang khas Jawa Timur.
Saya pikir kedua orang tua saya seenaknya sendiri asal ikut-ikutan dalam memberikan nama pada ketiga anaknya. Padahal nama ibu saya masih bersinambung dengan nama kakek saya yang bernama “Sarminto”. Sedang nama bapak saya masih ada titik temu kejawaannya dengan nenek saya yang bernama ‘Ngatini’. Tetapi kenapa saya yang diberikan nama Muhaimin Iskandar yang jelas tidak ada kesinambungannya dengan nama Juminten dan Mujiono. Ternyata apa yang saya alami atas kepunyaan nama Arab tersebut, juga banyak dipakai oleh teman-teman sebaya waktu itu (era 70-an sampai 80-an).
Lalu apa sebenarnya yang terjadi di balik pemberian nama Muhaimin Iskandar (sosio-historis dan kultural)?
Di tahun 1970, 1980, sampai 1990-an demam panggilan nama bermerek Arab di Desa saya telah terjadi. Di tahun-tahun tersebut diiringi dengan pertumbuhan pesat Islamisasi (santrinisasi) dan pertanda mulai memudarnya Jawanisme. Disamping Arabisasi, faktor modernisasi juga terlibat meminggirkan nama-nama yang ber-merk lokal Jawa Timur.
Tanda-tanda kemenangan islamisasi yang dipelopori kaum sarungan (baca santri) terlihat pada momen-momen penting di desaku yang bisa aku catat:
“Di dusun Tanjungan, desa Balung Lor, asal dusun ayah saya dibesarkan sebelum tahun 1970-an masih di dominasi oleh kaum abangan (berafliasi pada PNI dan PKI, bahasa sehari-hari campur sari dari bahasa jawa mataraman dan using banyuwangi). Setiap pemilihan kepala desa dari tahun 11920 sampai 1966 selalu dimenangkan oleh kelompok abangan. kaum santri beberapa kali (berafiliasi dg partai Masyumi sampai partai NU) mencalonkan diri tak pernah berhasil jadi pemenang. Bisa dikatakan sebelum tahun 1970-an kaum santri di tingkat desa tidak berposisi sebagai penguasa pemerintahan desa. Namun sejak 1990-an nama-nama kepala desa dengan merek arab mulai bermunculan. Konon setelah penumpasan serentak nyawa orang-orang komunis Indonesia, banyak orang abangan ketakutan dan menyembunyikan identitasnya dengan rame-rame meniru cara sosio-kultural kaum santri”
Situasi politik nasional pasca Gestapu (1966) merubah drastis politik kultural dimana-mana. Banyak orang abangan yang sebelumnya banyak menjadi penguasa di birokrasi pemerintahan disingkirkan dan tak diberi tempat lagi oleh kelompok militer. Namun pula kaum santri juga tak di beri tempat dalam birokrasi. Biasanya kaum santri menjadi patner utama dalam kebijakan yang menyangkut soal pertanian. Jadi bukan berarti kekalahan kaum abangan dijalur birokrasi menjadi kemenangan kaum santri. Karena jalur birokrasi masih dikuasai oleh orang militer. ‘
Kaum abangan terus terdesak sampai di jalur kultural dan kepercayaan. Stigmatisasi sebagai orang yang berbau komunis terus dikumandangkan oleh berbagai pihak. Sehingga gerakannya dalam mengekspresikan identitasnya benar-benar terancam. Mau tidak mau pilihan satu-satunya mengekpresikan diri didalam ruang batin (gerakan kebatinan) .Mereka hanya bisa beralibi jika praktek ritualnya diketahui publik, bahwa apa yang dilakukannya sekedar untuk menjaga dan menghormati tradisi nenek moyongnya.
Kelompok abangan benar-benar terdesak. sementara Kaum santri yang telah berjasa besar dalam menumpas PKI sampai ke akar-akarnya lebih leluasa (karena diberi ruang keleluasaan oleh negara) dalam ruang kultural dan praktek kepercayaannnya. Mengenai keterdesakan secara kultural dan kepercayaan kaum abangan, banyak orang menceritakan seperti ini:
” ditahun-tahun tersebut Banyak orang kejawen (kaum abangan) yang mulai belajar sholat,ngaji, pada tokoh-santri, bahkan tokoh kejawen yang kaya juga ikut naik haji. Sepulang dari haji biasanya namanya juga di rubah menjadi nama orang arab.”
Kaum santri yang selalu diolok-olok oleh kaum nasionalis dan PKI, sebagai kaum sarungan yang bisanya hanya menghitung tasbih ditangan, merasa perlu untuk segara memainkan politik kulturalnya memanfaatkan momen situasi dan kondisi yang mendukung mereka. Karena struktur kenegaraan masih dikuasai orang-milter maka ruang kultural adalah pilihan realistis untuk dimenangkan.
“Adalah pak Gumbrek, sesepuh kaum abangan di dusun Tanjungan (basis kaum abangan di desa saya) oleh bapak haji Jainuddin (tokoh kaum santri dusun karang anyar) di naikkan haji dengan biaya ditanggung oleh haji Jainuddin. Awalnya pak haji Jainuddin menawari bapak Gumbrek naik haji. Jika pak gumbrek bersedia, mulai dari proses persiapan belajar sampai keberangkatannya ditanggung oleh haji jainuddin. (cerita ini saya dapat dari tetangga saya). Padahal bapak gumbrek juga termasuk orang terkaya di dusunnya. Kalau untuk ongkos haji sangat mampu membayarnya. tetapi itu adalah barter kultural antara dua tokoh abangan dan santri ditingakat dusun. Bentuk kesepakatan kultural yang hanya mereka berdua yang tahu. Atau permainan simbol kemenangan dan kekalahan secara kultural. Pak gumbrek harus menerima tawaran haji Jainuddin untuk pertahanannya dari mara bahaya. Sedang haji jainuddin membuat penawaran tersebut sebagai simbol kemenangan tak kentara pada posisi sosial dan kulturalnya.”
Itu diatas hanya contoh kecil kasus, bagaimana posisi kaum abangan yang sangat terdesak, dan bagaimana intrik kultural kaum santri memanfaatkan situasi yang sedang berpihak padanya. Keberhasilan kaum santri dengan islamisasinya di desa saya, puncaknya ditandai dengan pembangunan masjid oleh Haji Jainuddin disamping rumahnya dimana jamaahnya mencakup sampai didusun bapak Gumbrek. Sedang pendanaannya dibiayai oleh kepala desa (kelompok militer) dan diresmikan oleh Bupati jember Abdul Hadi (TNI aktif).
Situasi politik, sosial, dan kultural didesa tempat saya di lahirkan waktu itu tak memungkinkan orang tua dalam memberikan nama-nama pada anaknya bebas menentukan sesuai pilihannya sendiri. Bapak saya tidak terdidik sebagai santri. Ayah ibunya mengajarkan nilai-nilai kejawenn kepadanya. Ia dibesarkan dilingkungan orang2 abangan. Pun ibu saya demikian. Kekalahan orang abangan dan keterdesakannya secara kultural dari kaum santri, membuat orang tua saya menyerahkan pemberian nama pada anak2nya yang baru lahir kepada Kyai untuk perlindungan sosialnya:
Jadi teman-teman semua itulah latar historis dan kultural penamaan saya. Dan itulah kenapa sekarang saya menggunakan nama pena Santri Kenthir, karena ternyata nama saya bukan terlahir dari Doa orang tua, tapi dari dampak sejarah kelam bangsa 30 September 1965 yang sampai kini masih belum terang dan menjadi keinsyafan bangsa ini kedepan.

SALAM KENTHIR

28 Sep 2011

Obrolan Hot Di Facebook: Apakah Takdir itu Bisa Diubah, atau Tidak Sih?


Biasanya saya jarang ngobrol dimedia facebook bersama teman-teman dengan tema yang ruwet-ruwet. Saya sudah bertahun-tahun tak sempat dan jarang memikirkan fenomena hidup yang lebih luas dan mendalam. Hari-hari saya selalu disibukkan dengan survival hudup diri dan keluarga (menghidupi nenek dan ibu). Adalah pak Ketut teman facebook baru saya, tanpa sengaja kita telah mendiskusikan takdir tuhan walau tak sampai klimaks dan mendalam namun isi obrolan itu masih terngiang dan meliarkan pikiran saya kemana-mana. 
17:08 Saya: halo pak …slmat sore
17:08Ketut: selamat sore.apa kabar?
17:08 Saya: saya baik…bapak ini agamanya islam ya
17:09 Ketut: yup kenapa?
17:09 Saya: kok gak nyambung dengan nama ketutnya
17:09 Ketut:aku orang bali yang kebetulan lahir sebagai muslim
17:10 Saya: oh gitu ya…asik …dong…saya jawa tapi pakai nama arab
maka kelihatannya saya islam padahal saya ateis
17:12Ketut: nah, nama tidak menunjukkan apa2 kan?
17:12Saya: iya…nama kita membenarkan apalah arti sebuah nama

Perlu di ketahui itu pula awal chatting saya  dengan Ketut syahruwardi abbas terjadi beberapa bulan lalu di obrolan Facebook. Obrolan dengan Ketut syahruwardi abbas sengaja saya copy paste ini apa adanya. Bagaimanapun ia telah menginsiparasi saya untuk merenungkan kembali pikiran-pikiran yang saya miliki agar lebih difreshkan lagi.
Atau mungkin pula sebaliknya untuk Ketut  He..he.. 
Sungguh teramat asik, obrolan demi obrolan dengan Ketut syahruwardi abbas mengalir santai walau ada arus deras ideologi didalamnya, walau kita baru kenal tapi  terkesan penuh keakraban:

17:13 Ketut: kayaknya santri jadian ama temenku ya?
selamat ya
17:13Saya: jadian dua kali. kemarin sempat putus karna soal debat perubahan
17:15Ketut: hehehe. dia anak yang baik
17:16Saya: saya juga anak yang baik
tapi kebanyakan orang bilang saya bukan anak baik2
17:17Ketut: ukuran baik-buruk sangat tidak mutlak kan?
setiap orang punya ukurannya sendiri2. jadi, aku sih, nggak peduli orang mau bilang baik atau nggak
17:18 Saya: iya tuh …ternyata ukurannya berelasi dengan kekuasaan dan persepsi…sudah keliling pasar saya siaran dimasjid kalo aku nih anak baik2…ternyata…masih aja saya dipersepsikan ank tidak baik2
17:20Ketut: ya rebutlah itu kekuasaan dan bentuk persepsi baru
17:20 Saya: semua sedang berebut termasuk saya
17:21 Ketut : nanti kalau kalah, ya terima saja
17:22 Saya: kalah dan menang rasanya sama saja pak…tak mengubah kehakikian…he,,…he kata siti jenar disini dan disana sama saja rasanya sory
17:22Ketut: itu karena siti jenar belum pernah menang
hehehehe
17:24 Saya: dia sudah menang….pak! menang menurut diri dan kelompoknya
17:24Ketut : lagi2 soal persepsi

Perbincangan diatas berpijak pada “kebenaran adalah persepsi”. jika kebenaran adalah persepsi maka kebenaran itu relatif. Persepsi sepihak bagi yang mempersepsikan. Kebenaran itu relatif berarti kebenaran itu tidak mutlak, hanya berlaku pada ruang dan waktu tertentu. Demikianlah, kira-kira tentang ‘lagi-lagi persepsi’ yang melatari setiap perbedaan cara pandang antara saya dengan pak ketut. perbincangan terus mengalir, sampai kepada “apakah takdir tuhan itu adalah persepsi”? apakah tidakinclude antara nasib yang dialami manusia dengan takdir yang ditentukan tuhan. apakah takdir hanya memuat hal-hal yang berkait dengan kejadian material??

17:25:Saya: Soal definisi kebudayaan dan agama…saya sempat komentar sedikit
jadi malu saya

17:26 Ketut: Kenapa harus malu? saya orsng yang sangat terbuka. saya tidak pernah memutlakkan kebenaran. Karena aku percaya ada tuhan, maka satu2nya yang aku anggap berhak memegang kebenaran mutlak itu hanya tuhan. tapi, ya, sayangnya, tuhan nggak pernah bicara langsung dengan saya. jadi saya nggak tahu kebenaran mutlaknya
17:28Saya: sama…kebenaran itu relatif gara2 ada keyakinan maka kebenaran kelihatannya jadi mutlak
17:29Ketut : bagi aku, yang aku yakini adalah kebenaran (relatif), sedangkan yang lain tidak salah
17:29Saya: Sama sama benar. asalkan tidak saling bertabrakan
17:29Ketut: Tidak salah, bukan “benar”. tidak selalu benar
17:30Saya: tidak selalu benar itu keraguan
17:30Ketut:gak masalah untuk ragu kan?
17:31 Saya: Ragu yang cipatakan tuhan juga
17:31Ketut: aku menganggap yang aku yakini benar itu benar. sedangkan yang lain “tidak salah”
17:31 Saya: yang ateis ciptakan tuhan juga
17:31Ketut: Paradoks: ateis diciptakan tuhan?
17:32Saya: sama dengan iblis yang nyiptakan tuhan juga kan?
hoirihi wasarrihi minallahi ta`ala
17:32 Saya:Lho, keyakinan ateis kok dihubungkan dengan tuhan?
17:33 Saya: bukankah tuhan adalah maha pencipta?
17:33Ketut: bukankah ateis meyakini kebetulan2 dan meniadakan tangan tuhan?
17:34Saya: bukan kah segala yang terpikir dan yang sudah terpikir adalah takdirnya
17:34Ketut: you ateis atau nggak sih? atau hanya setengah ateis?
17:35Saya: Bukankah takdir ada lah ciptaan tuhan. Menurut pak ketut saya dipersepsikan apa? 
17:39Ketut:bagi saya, takdir itu hanya berkaitan dengan hal2 yang bersifat materi
ingat surat yasin: dan bumi berputar pada porosnya, itulah takdir allah
17:39Saya: atas dasar apa tafsir demikian itu?
17:40Ketut:lihatlah di al quran, semua kata takdir dikaitkan dengan materi
kalau kita menanam padi maka pasti tumbuh padi
itulah takdir tidak ada hubungannya dengan “nasib” yang kita pahami
takdir adalah hukum besi, kepastian allah yang menjadikan hidup kita lebih terjamin kepastiannya kalau kita mencampur dua hidrogen dengan satu oksigen, pasti akan menjadi uap air tidak akan tiba2 menjadi batu. begitu seterusnya. itulah takdir, menurut aku
17:44Saya: Ok. itu menurut pak ketut. tapi menurut saya, seingat saya  bahwa takdir kita telah ditentukan mulai dalam rahim…sampai di alam kubur.

.....Dan menurut para pembaca, apa itu takdir? bila saya adalah atheis apakah itu juga bagian dari takdir Tuhan?

 Blinkie Graphics Generator at TextSpace.net

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More