Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

5 Okt 2011

Pendidikan Pesantren Klasik Versus Pendidikan Modern


Jalan menuju ponpes Tanpa Papan Nama. Terlihat masih hijau dan rimbun. Lokasi ponpes letaknya menyendiri dari perkampungan masyarakat desa Jambuan.

Sungguh berbanding terbalik antara sistem pendidikan yang saya alami waktu bersekolah dengan sistem pendidikan pesantren disini. Berbanding terbaliknya bukan karena sekolahan itu untuk urusan duniawi. Sedang pesantren untuk urusan akherat. Pandangan demikian itu memilah antara kehidupan duniawi dan ukhrowi. Pendapat yang tidak berdasar. Padahal faktanya sekolahan juga telah banyak memasukkan materi pendidikan agama, dan pesantren juga telah banyak mengadopsi materi-materi sekolahan. Namun menurut saya, pendidikan di Ponpes ‘Tanpa Papan Nama ’ berbeda dengan pendidikan sekolahan maupun pesantren semi sekolahan.

Yang aku rasakan selama terlibat dua bulan dipesantren ‘Tanpa Papan Nama ’ini, (ditengah-tengah keterdesakan lembaga pendidikan pesantren lainnya dari arus modernisme dan kapitalisasi pendidikan), justru pesantren ‘Tanpa Papan Nama ’ tetap tak bergeming untuk berdiri kokoh dan tetap berjaga jarak dengan modernisme dan kapitalisasi pendidikan. Bahkan di pesantren ‘‘Tanpa Papan Nama ’, saya menemukan integralitas (kemanunggalan) antara proses pendidikan dengan realitas social, antara ilmu yang diajar dengan obyek kehidupan, antara kyai, santri, dan masyarakat sekitar, dan lain sebagainya.


Aku masih teringat dengan pandangan seorang filsuf pendidikan, Paulo freiree, bahwa pendidikan disekolah merupakan bentuk pendidikan kapitalis (penuh penindasan). Sekolah berjarak dan mengasingkan diri dengan realitas sosial. Sekolah merupakan kepanjangan tangan kaum kapitalis untuk menyiapkan siswanya menjadi tenaga kerja atau sebagai pelayan kepentingan para pemodal. Ilmu yang dijarkan kepada siswa disekolahan merupakan ilmu menetapkan kondisi social kapitalis, bukan keilmuan untuk tujuan merubah realitas social yang lebih baik. Siswa di sekolah tak lebih dianggap sebagai bahan mentah untuk diproses menjadi pekerja yang sesuai dengan standard kebutuhan kaum kapitalis. Aku tak perlu mengurai panjang lebar lagi tentang ini, banyak tokoh pendidikan bersepakat bahwa system pendidikan sekolah telah menuju dehumanisasinya (penghancuran kemanusiaan).

Itulah realitas dehumanisasi pendidikan sekolahan yang menurut saya sampai sekarang masih up todate. Namun Di pesantren 'Tanpa Papan Nama' kapitalisasi pendidikan tidak berlaku. Ponpes yang dipimpin Lora Nurul, terletak di desa Jambuan-kecamatan sumber Sari-Jember ini, menyadarkanku, bahwa modernisasi pendidikan yang telah mengkanibal pesantren klasik lainnya ternyata tak mempan menghabisi ponpes tanpa nama ini. Juga mengajariku, bahwa ponpes ini sedang menunjukkan diri melakukan perlawanannya pada dominasi kapitalisme.

Titik Pijak dan Orientasi Pendidikan Ponpes Tanpa Papan Nama
Setiap pagi pukul 06. 00 WIB, setelah mengaji kitab kuning, para santri mengambil tugas dan peran masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Ada yang menyapu halaman, mengolah kebun, memasak, berbelanja, dan lain lain. Sampai jam 09. 00 pagi, para santri sarapan pagi yang telah tersediakan di dapur pesantren. Selesai sarapan mereka kembali pada kegiatannya masing-masing. Tak terlihat ada iri tugas dan peran kegiatan diantara mereka. Semua saling bahu membahu. Yang sangat berkesan, bahwa mereka melakukan tugas dan perannya dengan penuh kesenangan bukan karena keterpaksaan diri. Berbeda dengan pengalamanku waktu sekolah, dimana ‘daftar piket menyapu ruang kelas’ telah memaksaku dan aku pun terpaksa melakukakan kegiatan menyapu ruang kelas. Di Ponpes ini tak ada daftar piket kegiatan bagi santri (daftar piket =undang-undang pemaksa siswa).

Mendekati adzan dhuhur mereka berhenti sejenak dari kegiatan untuk mandi dan mencuci pakaian. Tanpa perlu bunyi bel layaknya di sekolah (bunyi bel sekolah = pusat pengendalian kegembiraan siswa), semua santri pergi kesungai yang airnya teraliri dari bebukitan. Saya amati, tak terlihat diwajah para santri ada tekanan kejiwaan selama melakukan proses pendidikan di pesantern ini. Byuuur, byuur, byur..! para santri itu berlompatan mandi disungai sambil bersalto.
Sunga alami mengelilingi ponpes
Begitulah aktifitas pendidikan para santri setiap hari. Ada yang telah sampai 10 tahun, 7 tahunan, 3 tahunan mereka menetap tinggal dan hidup dipesantren ini. Selesai mandi mereka pergi kemasjid untuk sholat dhuhur, setelah itu melanjutkan kembali kegiatannya. Jika ada seorang santri yang merasa capek atau lelah, ia lalu istirahat tidur tanpa ada rasa iri dari santri lainnya. Menjelang malam mereka semua berkumpul dimasjid melanjutkan mengaji kitab kuning.

Awalnya saya fikir pemandangan pendidikan para santri ini tak lebih sebagai pendidikan keakheratan saja. Karena apa yang diajar di dalam kitab kuning akan sulit membumi ditengah-tengah masyarakat yang telah berubah sok modernis ini. Faktanya juga, para tetangga saya yang mayoritas santri setelah terjun ditengah masyarakat ternyata tak mampu berbuat banyak merubah keadaan sosial. Malah cenderung tak berdaya ikut arus perubahan social desa. Oleh karenanya, mengenai pendidikan yang diterapkan ponpes ini, banyak pertanyaan bergelantung di benak tertuju kepadanya:

Bagaimana kelak nasib para santri setelah lulus dari ponpes saat terjun didalam persaingan masyarakat yang membutuhkan keahlian dan keterampilan kerja? Bagaimana pula nasib wawasannya kelak jika mereka tidak dibekali pengetahuan umum (ilmu alam, social, dan kenegaraan)? Layaknya lembaga pendidikan lain, ponpes ‘Tanpa Papan Nama ’ tidak memperkenalkan model pendidikan berjenjang, dan tanda kelulusan (sertifikasi), lalu bagaimana bias nanti para santri masuk bekerja kejalur birokrasi, bekerja di perusahaan, menjadi kepala desa dan sebagainya jika mereka tak mengantongi ijasah Negara?

Setelah berkali-kali mengikuti ceramah pengajiannya Lora (kyai) Nurul (pimpinan pondok pesantren), baru aku mulai memahami apa arti pendidikan yang di inginkan dan dikembangkan oleh Ponpes 'Tanpa Papan Nama' ini. Dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan atas kegiatan pendidikan santri diatas akan terjawab dengan sendirinya.

Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan hasil dari bawaan berfikir sepihak kita atas dunia pendidikan selama ini. Pertanyaan yang berangkat dari pemikiran pragmatis, yang terbiasa menilai bahwa segala proses pendidikan yang dilakukan oleh para siswa/santri harus berorientasi pada kesuksesan. Kita kadung terbiasa menganggap bahwa lembaga pendidikan adalah untuk ‘mencetak manusia’ berdaya saing. Kita terlanjur mendarah daging menganggap ijasah adalah bekal utama untuk mencapai kesuksesan hidup. Kita terlalu percaya buta bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan untuk untuk menata segala kehidupan ini. Seakan melebihi kepercayaan kepada Tuhan: “sekolah adalah lembaga untuk mencetak manusia pintar. Jika ingin pintar maka wajib bersekolah”. Benarkah itu semua?

Realitasnya banyak kesimpang siuran dan kekeliruan keyakinan kita atas dunia pendidikan selama ini. Banyak sekolah didirikan untuk mencetak manusia sukses namun kenyataannya semakin merajalelanya korupsi, hutan-hutan banyak yang gundul, angka kriminalitas dan pengangguran semakin tinggi. Banyak universitas meluluskan para sarjananya yang menempati posisi sebagai pejabat Negara namun kenyataannya kondisi negara tidak berubah menjadi lebih baik. Banyak manusia pintar, manusia cerdas, manusia unggul produk sekolahan/ pesantren semi sekolahan, namun yang jujur bisa dihitung dengan jari padahal jujur itulah kunci kemaslahatan ilmu dan amalnya bagi manusia lain.

Titik pijak (paradigma) dan cara memandang pendidikan yang demikian diatas menjadikan kekeliruan kita dalam mengorientasi proses pendidikan itu sendiri. Pengertian umumnya, pendidikan adalah proses siswa untuk menguasai dan menjadikan alam dan social sebagai obyeknya yang harus ditundukkan. Sehingga yang dominan adalah sifat ego sentris siswa kelak. Titik pijak demikian menyeluruh dalam dunia pendidikan sekarang, sehingga orientasi dari pendidikan itu sendiri amat materialistik. Maka wajar jika komersialisasi pendidikan terjadi dimana-mana. Dan ukuran keberhasilan siswa kelak terukur dengan, sejauh mana ia telah mendapat dan menguasai materi duniawi.

Padahal pendidikan itu sendiri adalah proses kehidupan yang teramat luas. Bukan lah sekedar di sekat dalam tempat bergedung setelah selesai maka berarti telah selesai pula proses pendidikannya. Kita kadung salah kaprah memandang antara proses pendidikan dengan pelatihan. Padahal apa yang terjadi disekolah dan di unversitas realitasnya tak lebih sekedar lembaga pelatihan bagi siswa bukan proses pendidikan utuh itu sendiri.

Pendidikan dalam pengertian Pondok pesantren Tanpa Papan Nama, adalah proses kehidupan siapapun yang selalu akan mendapat ujian hidup dari Allah yang akan terus berkelanjutan. Pendidikan adalah proses hidup untuk mengabdi sebagai kholifah Allah dimuka bumi dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan selalu medekatkan diri pada Allah sampai ajal menjemput karena segalanya dari Allah dan pasti kembali kepada Allah. Ponpes adalah sekedar alat dari banyak alat dalam proses pendidikan hidup. Pembelajaran bagi santri 'Ponpes Tanpa Papan Nama' tidak terikat pada sosok tertentu dan ruang tertentu pula. Ia bisa belajar dari masyarakat sekitar dan ditempat yang lebih luas dari sekedar ruangan kelas. Sedang kitab kuning adalah kerangka diri untuk menuntunnya agar selalu berada dijalan kemaslahatan.

Pendidikan dipesantren tanpa papan nama berpijak pada garis “tiada Tuhan selain Allah”, bahwa Allah yang maha segalanya mencipta, maha mengatur, maha berkehendak, atas segala proses pendidikan yang terjadi di ponpes “tanpa papan nama.” Kyai, Santri, Masyarakat pesantren hanyalah sebagai hamba yang tak bisa apa-apa dan hanya bisa jika dibisakan oleh Allah. Pendidikan ada karena diadakan oleh Allah. Proses pendidikan dan penyelenggaraanya ada karena digerakkan Allah. Sedang kyai, Santri dan masyarakat hanyalah pekerja Allah yang hanya melaksanakan perintah-perintah Allah. Untuk menjalani perintah Allah sebaik-baiknya kita harus berpegang teguh pada Alqur`an dan Al-hadist. Untuk mampu memahami hikmah dibalik kejadian-kejadian perintah Allah, dan agar selalu mengingat Allah, pesantren bersama masyarakat harus selalu mengkajinya bersama-sama dengan merujuk pada kitab Al-Hikam.

Bahwa pembelajaran bagi para santri dalam sehari-hari adalah merekam data-data yang ada dalam kitab kuning kedalam pikiran dengan selalu mendekatkan hati untuk selalu tertuju pada Allah. Selain itu santri juga harus bekerja setiap harinya. Disini pengertian bekerja adalah melaksanakan perintah Allah sebaik-baiknya. Pekerjaan adalah ketetapan mengerjakan sesuatu sesuai yang diperintahkan Allah melalui sebab kyai. Berbeda devinisi kerja umumnya. Pekerjaan selalu dipahami sebagai kegiatan untuk mendapat uang. Namun definisi pekerjaan diPonpes Tanpa Nama yakni proses melaksanakan perintah Allah melalui sebab mengerjakan sesuatu dan berakibat (hasil) juga karena perintah Allah melalui untung atau kerugian. Maka santri sedang menyapu halaman, mencuci, memasak, berbelanja, dan sebagainya itu berarti mereka sedang bekerja. Dan titik tekan dari pekerjaan adalah ibadah yakni untuk mendapat ridho Allah dan supaya tidak mendatangkan kemudharatan. Pekerjaan itu adalah ibadah dengan maksud untuk menjadikan kemaslahatan diri dan manusia lainnya.
Asrama santri dan kolam ikan yang diharapkan bisa menjadi milik publik..
Mengenai tentang nasib kelak setelah santri dinyatakan cukup mumpuni untuk menjadi masyarakat, maka Kyai dan pesantren menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Karena Allah lah yang maha menentukan (khoirihi wa sarrihi minallihita`ala: baik dan buruk segala sesuatunya Allah yang menentukan). Menjadi apapun kelak jika ia telah sesuai dengan koridor dijalan yang benar dan lurus diridhoi Allah maka itu adalah nikmat hidup yang harus di sukuri. Sebab dunia ini tak lebih persinggahan sementara para santri untuk mewujudkan rahmatan lil `alamin demi kehidupan abadi kelak. Tak perlu gelisah untuk ikut arus realitas sosial yang masih penuh kesimpang siuran.

Mengenai wawasan umum terkait dengan kehidupan sosial adalah alat bukan tujuan itu sendiri. Ia tak lebih dari sekedar data untuk dikaji dan diambil manfaatnya. Bukan kepentingan mutlak. Sebagai data maka wajib bagi santri untuk merekamnya dalam nalar dengan tujuan untuk menambah pengatahuan hikmah dan untuk memperkokoh keimanan. Tak perlu mengggantung kepada apapun dan siapapun selain kepada Allah. Hanya kepada Allah-lah kelak nasib para santri ditentukan. Bukan kepada ijasah, bukan kepada pemerintah. Allah-lah yang maha penolong. Bukan karena modal, bukan karena jabatan, bukan karena realitas kapitalistik sehingga Allah di tiadakan dan menjerumuskan kedalamnya.

Demikianlah titik pijak dan orientasi pendidikan para santri Tanpa Papan Nama, saya urai sesuai dengan pengamatan saya dan perbandingannya dengan realitas pendidikan pada umumnya. Banyak hal mengenai makna-makna didalamnya yang perlu juga diketahui teman-teman, namun kerena keterbatasan saya, sehingga catatan ini masih banyak kekurangan disana sini. Namun aku bangga mampu menuliskannya, karena ternyata model pendidikan seperti di 'ponpes tanpa papan nama' walau bukan satu-satunya di nusantara, namun telah menunjukkan taringnya berhadap-hadapan dengan model pendidikan kapitalistik.

Terkahir ingin saya sampaikan, bahwa kapitalisme tak bisa dirobohkan oleh sistem sosialis atau oleh sistem apapun. Banyak bukti mengenai ketangguhan sistem kapitalisme. Jika tak mampu merobohkan sistem kapitalisme maka hanya tinggal dua pilihan: ikut didalamnya atau memisah darinya, bekerja sama denganya atau tidak bekerja sama sekali denganya. So, bukankah pendidikan model Pesantren Tanpa Papan Nama telah menunjukkan gelagat dirinya untuk memisah dan tidak bekerja sama dengan sistem dunia kapitalis? Tidakkah kita menaruh respek kepadanya? wallahu`alam bisshawab.

Beberapa Santri Berpose Di asrama bambu.Membangun individu bertauhid guna terbentuk masyarakat tauhid Jambuan Jember


SALAM KENTHIR

4 Okt 2011

Hiruk Pikuk Maksiat Ditengah Gemuruh Suara Adzan


Dikampung  halamanku, dusun Karang Kontradiktif, RT Agamis-Simbolis  (Masuk wilayah Kecamatan Balung-Jember Selatan) yang luas wilayah dusunnya sekitar 10 hektaran, dihuni oleh 50 rumah tangga, mempunyai 5 musholla plus satu buah masjid besar. Masing-masing musholla mengumandangkan panggilan adzan menggunakan corong speaker. Setiap corong speaker (pengeras suara)  bisa terdengar sampai jarak 1 KM-an. Deret antara musholla satu dengan musholla lain berjarak sekitar 200 Meteran. Bila sudah waktu magrib tiba semua serentak mengumandangkan suara adzan. Seperti tak mau kalah dengan musholla disekitarnya, suara adzan yang terdengar dari masjid besar itu lebih kencang suaranya  sampai jarak sejauh 3 KM-an. Maklum disamping telah dilengkapi dengan sound system yang memadai, corong speakernya  dipancang jauh lebih tinggi daripada yang ada di musholla, yaitu, ditempatkan diatas menara masjid yang punya ketinggian 30 Meter an, dengan jumlah 4 corong speaker dipuncak  menara dan 2 lagi disamping kubah, masing-masing corong speaker tersebut menghadap kearah enam  penjuru. Belum lagi ditambah suara adzan yang terdengar dari radio dan telivisi yang dinyalakan  oleh masing-masing penduduk sekitar.
Bisa dibayangkan seperti apakah situasi kampung halamanku bila magrib dan isya` telah tiba. Namun jangan terburu mengklaim dan memvonis kalau kampung halamanku telah merepresentasikan  dirinya sebagai masyarakat religius.

Seharusnya bila semakin banyak musholla disertai adanya masjid besar disebuah dusun dalam panggilan massal, apalagi menggunakan corong speaker,  berarti volume yang berjamaah berjumlah banyak. Semakin keras suara panggilan muadzinnya berarti orang yang terpanggil untuk datang sholat semakin tinggi. Nyatanya, Kuhitung yang datang berjamaah dimusholla sebelah rumahku saja hanya 4 orang yakni; tukang adzannya, imamnya, dan 2 orang lagi pemilik mushollanya sepasang suami-isteri. Pun di musholla yang lain tak jauh berbeda kondisinya. Sedang dimasjid besar yang waktu pembangunannya menghabiskan dana 1 M lebih, hanya terdapat 5 jamaah laki-laki dan 3 perempuan. Esoknya dan seterusnya hasil surveiku menunjukkan angka masih tetap sama dengan hari sebelumnya, dan orang-orang yang sholat berjamaah masih yang itu-itu juga.

Pernah suatu ketika saat aku baru pulang dari begadang semalaman, aku tak bisa tertidur sebab terganggu suara kaset orang mengaji yang diputar keras-keras menggunakan corong speaker menjorok tepat kearah rumahku.  Kejadian seperti itu selalu terjadi setiap jam 3 dini hari.  Padahal waktu adzan subuh masih 1/2 jam-an lagi. Mau protes tidak mungkin karena pemiliknya adalah keluarga pamanku sendiri. Esoknya saat orang-orang sekitar musholla mulai bekerja disawah, aku masuk mushollah pura-pura akan sholat. Didalam musholla aku mulai beraksi dengan merusaki  alat-alat didalam pendorong  corong speaker. Aksiku berhasil dengan sangat sukses. Walhasil selama sebulan, setip pulang dari begadang semalaman aku dengan aman tertidur pulas tanpa teror suara bising  corong speaker lagi. (Adegan ini tidak boleh ditiru. Aksi ini kulakukan waktu aku masih menjadi pemberontak kemapanan simbolisasi agama didusunku)

Dilihat sekilas dari sisi simbolisasi agama pada kampung halamanku paling tidak perilaku sosial masyarakatnya seharusnya lebih mendekati moralitas nilai-nilai agama yang dianut. Nyatanya keberhasilan simbolisasai agama Islam disana tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial masyarakatnya. Adanya 5 musholla, 1 masjid besar, 1 TK Islam, 1 Madrasah, pengajian rutin jama`ah kaum bapak, pengajian rutin kaum muslimat dan fatayat, ceramah agama setiap jum`at, namun kontradiktif dengan kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat  kampung halamanku:

  • ”Sepuluh wanita muda nan cantik berprofesi menjadi tukang pijat plus dijakarta dan dua orang menjadi mucikari dibatam dan di manado. Tiga cowok menjadi gigolo dijakarta. Seperempat penduduknya pelanggan tetap togel. Tiga orang menjadi pengedar togel yang dua orang sekarang dipenjara.  Dua orang haji kaya tapi kikirnya minta ampun. Empat orang stress berat. Satu orang menjadi maling spesialis sapi (Entah sekarang sudah tobat atau belum). Sepuluh anak remaja menjadi penguntil barang-barang ditoko (Dua anak remaja sudah pernah dipenjara). Dua orang kyai langgar terlibat dalam skandal perselingkuhan, yang satu dengan guru TK dan  satunya dengan perempuan pengepul barang besi tua.  Satu orang kyai langgar lagi yang menjadi pengumpul dana hibah dari penduduk yang melacur ditanah rantau untuk sebuah acara pengajian akbar dan merenovasi mushollanya. Selebihnya mayoritas penduduk berprofesi sebagai buruh tani tertindas. Sisanya menjadi pemuda penggangguran atau menjadi perantau dinegeri Jiran. Oh ya, satu lagi pemuda murtadnya yang sekarang sudah bertaubat, yakni saya sendiri, he he.”  (Sumber: Mata- telingaku plus gosip para tetangga)

SALAM KENTHIR

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More