Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

8 Okt 2011

Dari Negeri Seberang


BY: NLB
Menonton lintasan berita
Tentang negeriku indonesia tercinta
Sebagai pengobat rindu pada keluarga
Ah..
Tapi apa yang kurasa
Pemandangan miris terasa sesak di dada
Tetes”butiran air mata
Jatuh begitu saja dengan mudahnya
Ya ALLAH
Inikah wujud nyata
INDONESIA tanah air tercinta
Yang dulu makmur &sentosa
Dari Negeri Seberang
Sedang kini yang terlihat oleh mata
Kebiadaban angkara murka
Yang meraja rela di mana”
Yang kaya makin kaya
Rakyat jelata makin sengsara
Kemerdekaan hanya tuk mereka yang berharta
Ya ILLAIHI
Kau bukakan mata hati ini
Meski aku di luar negeri
Jauh dari keluarga terkasih
Namun ku masih dapat menikmati
Fasilitas lengkap setiap hari
Terbayang
Saat anak”jalanan
Tidur di kolong jembatan
Tanpa selimut kedingingan
Indahnya sinar bintang
Tiada lagi mereka rasakan
Bila perut lapar keroncongan
Ah
Sempat ku merasa
Seperti mereka kiranya
2th lamanya
Tidur tanpa kasur
Pada gudang tak berpintu
Bila musim dingin tiba
Menggigilku tiada berdaya
Tapi ku brtahan demi mencari nafkah
Melapor pada pemerintah
Tambah masalah tiada gunanya
sebuah kenangan yang tak mungkin ku lupa
Aku layaknya robot mainan
Ya ALLAH
Lindungilah mereka anak”jalanan
&rakyat yang terlantarkan
Berikan mereka kesabaran
Keiklasan dalam menghadapi setiap cobaan
Yang kau berikan
Karna sesungguhnya merekalah mahluk yang kau sayang
Jauhkan mereka dari keluhan
Semoga kelam kan lekas kembali benderang
Untukmu anak” jalanan
Malam ini kudoakan
Moga semua dapat merasakan kenikmatan
Tidur nyenyak sampai pagi datang.amin.


Loading...

Published by: Santri Kenthir

7 Okt 2011

Berguru pada Gus Dur: Tak Perduli dengan Gengsi



Oleh : Nuruddin Hidayat

Suatu ketika Gus Dur berkenan menghadiri undangan di daerah tegal, seperti biasa Gus Dur selalu di dampingi pengawal dan sepri serta beberapa orang lain yang menemani perjalanan beliau. Perjalanan ini merupakan rangkaian dari beberapa undangan dari warga Nahdliyin kepada beliau untuk menghadiri acara Khaul para Kyai dan acara PKB di daerah yang ketika itu di pimpinnya. Dari Jakarta kami ke Surabaya dan keliling ke beberapa daerah di jawa Timur diteruskan ke Jawa Tengah. Dari Semarang kami melanjutkan ke daerah Tegal lewat jalan darat, memang ada pengusaha yang menawarkan Helicopter untuk di pergunakan selama perjalanan oleh beliau, namun dengan halus beliau menolaknya. Suatu ketika aku bertanya :
NH :“ Pak, itu pak …(X)… nawarin Heli kok dipun tolak?
GD : ra sah numpak heli nanti kita lewat jalan darat saja sekalian mampir ziarah ke makam para ulama dulu yang tidak kamu kenal. La wong dia nyediain heli karena ada maunya….
NH : “nyuwun sewu gadah kepentingan napa pak”
GD : “ O dia lagi ada masalah, sekarang belum ada apa-apa tapi nanti bakalan di usut, dan jadi rame…………
Aku : O ….ngaten to?
Dan ternyata beberapa tahun kemudian memang pengusaha tersebut tersangkut masalah.
Akhirnya rombongan kami pun sampai di kota Tegal dan langsung menuju ke lokasi acara di sebuah desa di selatan kota Tegal. Ribuan orang sudah memadati lapangan sejak pagi untuk mendengarkan tausiyah dari Gus Dur dalam acara Khaul salah satu Kyai pendiri pesantren di tegal. Seperti biasa ketika acara berlangsung aku pergi memisahkan diri dari rombongan jalan-jalan di seputar lokasi acara sambil melihat langsung kehidupan masyarakat desa.
Selesai acara haul rombongan kami hendak kembali ke Jakarta dengan menggunakan Kereta Api dari stasiun Tegal. Hiruk pikukpun terjadi di stasiun tegal, semua pejabat di Tegal ikut mengantar keberangkatan beliau tak lupa juga kepala stasiunnya. Masyarakat yang tidak menduga kalau Gus Dur akan naik KA berebut ingin bersalaman hanya ingin ngalap “barokah” suatu hal yang biasa di masyarakat NU .
Tiba waktunya kami berangkat di gerbong eksekutif yang sudah kami pesan duduk bersama dengan para penumpang yang sudah naik terlebih dahulu dari kota-kota sebelumnya.
15 menit setelah kereta api berjalan Gus Dur panggil pengawal kalo mau tidur di bawah saja. Kamipun bingung, aku beranikan diri menjawab : “ Pak nyuwun sewu ini di Kereta pak,” Kata beliau “ emang kenapa kalo di kereta? Din rakyat kecil kalo naik kereta itu pada tiduran di bawah, cepet dang to di gelari koran” aku hanya terdiam mendengar jawaban beliau.
Akhirnya kursi kami putar saling berhadapan dan di lantai kami gelari selimut, dan dengan nikmatnya beliau tidur dan mendengkur tanpa memperdulikan status yang melekat pada dirinya (mantan Presiden RI ). Kamipun akhirnya duduk di lantai KA dan mungkin karena sungkan para penumpang yang duduk dekat dengan kami akhirnya pada duduk di lantai mengobrol bersama dan diantaranya ada yang menitikkan air mata karena terharu melihat kerendahan hati beliau. Tulisan ini hanya sebagai obat rinduku kepada Gus Dur…..ila khadroti habibina wa syafi’ina sayyidi syech KH. Abdurrahman Wahid Al Fatehah ……
Jakarta, 21 Januari 2011
Sumber: http://gusdurian.net/news/2011/04/22/16/gus_dur_____tak_perduli_dengan_gengsi____.html

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More