Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

Tampilkan postingan dengan label Atas Nama Cinta Kasih Ia Memberiku Pendidikan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atas Nama Cinta Kasih Ia Memberiku Pendidikan Hidup. Tampilkan semua postingan

19 Okt 2011

Tipe-Tipe Cowok Menyikapi Cewek lagi Nangis

Berikut ini adalah beberapa tipe & cara cowok menghadapi cewek yang lagi nangis. Dikelompokkan menurut kriteria karakter sang cowok. Termasuk yang manakah anda??

1. Cowok Jaim: "Plis dunk jangan bikin malu gue, masa nangis sih! (malu dilihat orang)"

2. Cowok Gak Sabaran: "Hari gene masih nangis, plis dech!!?"

3. Cowok Sensitif: "Malah ikutan nangis memble..(di sebelah ceweknya)"

4. Cowok Ahli Hipnotis: "Saya hitung 1,2,3...Dihitungan ketiga anda melupakan semuanya... Lupakan semuanya...Lupakan...OK!"

5. Cowok Kritis: "Emang ada apaan sih? Siapa? Kenapa? Dimana? Kemana? Kok bisa sih? Ya udah...Ambil positifnya aja lah"

6. Cowok Pasrah: "Terserah lo deh...!"

7. Cowok Cuek: "Biarin aja, paling ntar diam sendiri..(sambil mainan FB)"

8. Cowok Naif: "Ceweknya dibeliin gulali sama balon warna-warni..."

9. Cowok Buaya Darat: "Dipeluk dan dikecup seluruh muka (pelan2 gitu deh), sambil berkata "if I could share ur pain..I would..(ga jelas)"

10. Cowok Analis: "Kenapa kamu menangis? Apakah kamu menangis bahagia atau sedih? Jika bahagia, apa yang menyebabkan kamu bahagia? Jika sedih, apa yang menyebabkan kamu sedih? Sejak kapan kamu menangis? Kalo kita proyeksikan ke depan, apakah kamu akan terus menangis? (cewek nya keburu pingsan)"

11. Cowok Idaman: "Menangislah sepuasnya dipundakku, sambil tangannya melingkar melindungi si cewe (sok jantan, sama kecoa aja takut)"

12. Cowok Kaya: "Gue beliin Mobil, Handphone, laptop...Ya? (duit bapaknya)"

13. Cowok Romantis: "Bacain Puisi, dinyanyiin lagu Nina Bobo pake gitar.."

14. Cowok Bete: "Dipeluk sambil dibisikin "kita putus aja ya". Abisnya kamu cengeng banget sih, say.."

15. Cowok Narsis: "Sibuk ngambil foto diri sendiri pake Nokia N73 trs di upload ke FB.."

16. Cowok Dermawan: "Ngeluarin recehan sambil bilang May God Bless You...(kaya ngasih pengamen)"

17. Cowok Kere: "Sory nih say, aku ga bisa beliin tissu, duitku hbs..."

18. Cowok Santri: "Astagfirullah....Yang tabah, dibalik cobaan ada anugerah..(lewat telp)"

19. Cowok Tulalit: "Kamu nangis dapet bonus apa ditinggal mati orang sih? Hiiii...kamu bisa juga nangis yah?"

20. Cowok Matre: "Cewe kere Lo...Nangis mulu nyusahin gue doank!"

21. Cowok Kejam: "Hahaha...Ini belum seberapa sayang...Nanti aku bisa bikin kamu tambah sengsara sampe meraung-raung...Lebih parah lagi..Mau nangis lagi?? Mau mau??"

22. Cowok Ilmiah: "Wah...Hebat ya, ternyata kamu tau juga, kalo menangis itu sehat buat bersihin mata"

23. Cowok Banci: " Aihhh..Akikah jadi ikut sedih deh Neh...Emang cowo2 itu pengen sedikit ditowelll biar tau rasanya kalo nangis itu bikin hidup jadi malaysiaaa (males) bow..." trus lanjutannya. .."Ini Tissuenya tapi balikin yaa dari Lekong.... Gw Neh"

24. Cowok Kebapakan: "Sini sama om... Cup..Cup, jangan nangis lagi yah..(sambil ngusap2 rambut)"

25. Cowok Puitis: " Your tears are my tears...Air matamu bagaikan sungaii bengawannn swolooooo...(kelelep)"

26. Cowok Ilmuwan: "Sayang, air matanya kumpulin pake tissu sebanyak mungkin trus di timbang volumenya untuk mengukur berapa kemampuan manusia mengeluarkan air mata dalam 1X menangis. (serasa lg praktikum jaman SMA)"

27. Cowok Bego: "Sayang, kok mata mu keluar air kaya kran ya?? (Sambil garuk2 kepala + ngliatin cewek nya)"

28. Cowok Autis: "Ga sadar & ga tau kalo cewenya nangis!"

(Hanya guyonan.....Hehehe...:D)
Sumber: Anonim

5 Okt 2011

Pendidikan Pesantren Klasik Versus Pendidikan Modern


Jalan menuju ponpes Tanpa Papan Nama. Terlihat masih hijau dan rimbun. Lokasi ponpes letaknya menyendiri dari perkampungan masyarakat desa Jambuan.

Sungguh berbanding terbalik antara sistem pendidikan yang saya alami waktu bersekolah dengan sistem pendidikan pesantren disini. Berbanding terbaliknya bukan karena sekolahan itu untuk urusan duniawi. Sedang pesantren untuk urusan akherat. Pandangan demikian itu memilah antara kehidupan duniawi dan ukhrowi. Pendapat yang tidak berdasar. Padahal faktanya sekolahan juga telah banyak memasukkan materi pendidikan agama, dan pesantren juga telah banyak mengadopsi materi-materi sekolahan. Namun menurut saya, pendidikan di Ponpes ‘Tanpa Papan Nama ’ berbeda dengan pendidikan sekolahan maupun pesantren semi sekolahan.

Yang aku rasakan selama terlibat dua bulan dipesantren ‘Tanpa Papan Nama ’ini, (ditengah-tengah keterdesakan lembaga pendidikan pesantren lainnya dari arus modernisme dan kapitalisasi pendidikan), justru pesantren ‘Tanpa Papan Nama ’ tetap tak bergeming untuk berdiri kokoh dan tetap berjaga jarak dengan modernisme dan kapitalisasi pendidikan. Bahkan di pesantren ‘‘Tanpa Papan Nama ’, saya menemukan integralitas (kemanunggalan) antara proses pendidikan dengan realitas social, antara ilmu yang diajar dengan obyek kehidupan, antara kyai, santri, dan masyarakat sekitar, dan lain sebagainya.


Aku masih teringat dengan pandangan seorang filsuf pendidikan, Paulo freiree, bahwa pendidikan disekolah merupakan bentuk pendidikan kapitalis (penuh penindasan). Sekolah berjarak dan mengasingkan diri dengan realitas sosial. Sekolah merupakan kepanjangan tangan kaum kapitalis untuk menyiapkan siswanya menjadi tenaga kerja atau sebagai pelayan kepentingan para pemodal. Ilmu yang dijarkan kepada siswa disekolahan merupakan ilmu menetapkan kondisi social kapitalis, bukan keilmuan untuk tujuan merubah realitas social yang lebih baik. Siswa di sekolah tak lebih dianggap sebagai bahan mentah untuk diproses menjadi pekerja yang sesuai dengan standard kebutuhan kaum kapitalis. Aku tak perlu mengurai panjang lebar lagi tentang ini, banyak tokoh pendidikan bersepakat bahwa system pendidikan sekolah telah menuju dehumanisasinya (penghancuran kemanusiaan).

Itulah realitas dehumanisasi pendidikan sekolahan yang menurut saya sampai sekarang masih up todate. Namun Di pesantren 'Tanpa Papan Nama' kapitalisasi pendidikan tidak berlaku. Ponpes yang dipimpin Lora Nurul, terletak di desa Jambuan-kecamatan sumber Sari-Jember ini, menyadarkanku, bahwa modernisasi pendidikan yang telah mengkanibal pesantren klasik lainnya ternyata tak mempan menghabisi ponpes tanpa nama ini. Juga mengajariku, bahwa ponpes ini sedang menunjukkan diri melakukan perlawanannya pada dominasi kapitalisme.

Titik Pijak dan Orientasi Pendidikan Ponpes Tanpa Papan Nama
Setiap pagi pukul 06. 00 WIB, setelah mengaji kitab kuning, para santri mengambil tugas dan peran masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Ada yang menyapu halaman, mengolah kebun, memasak, berbelanja, dan lain lain. Sampai jam 09. 00 pagi, para santri sarapan pagi yang telah tersediakan di dapur pesantren. Selesai sarapan mereka kembali pada kegiatannya masing-masing. Tak terlihat ada iri tugas dan peran kegiatan diantara mereka. Semua saling bahu membahu. Yang sangat berkesan, bahwa mereka melakukan tugas dan perannya dengan penuh kesenangan bukan karena keterpaksaan diri. Berbeda dengan pengalamanku waktu sekolah, dimana ‘daftar piket menyapu ruang kelas’ telah memaksaku dan aku pun terpaksa melakukakan kegiatan menyapu ruang kelas. Di Ponpes ini tak ada daftar piket kegiatan bagi santri (daftar piket =undang-undang pemaksa siswa).

Mendekati adzan dhuhur mereka berhenti sejenak dari kegiatan untuk mandi dan mencuci pakaian. Tanpa perlu bunyi bel layaknya di sekolah (bunyi bel sekolah = pusat pengendalian kegembiraan siswa), semua santri pergi kesungai yang airnya teraliri dari bebukitan. Saya amati, tak terlihat diwajah para santri ada tekanan kejiwaan selama melakukan proses pendidikan di pesantern ini. Byuuur, byuur, byur..! para santri itu berlompatan mandi disungai sambil bersalto.
Sunga alami mengelilingi ponpes
Begitulah aktifitas pendidikan para santri setiap hari. Ada yang telah sampai 10 tahun, 7 tahunan, 3 tahunan mereka menetap tinggal dan hidup dipesantren ini. Selesai mandi mereka pergi kemasjid untuk sholat dhuhur, setelah itu melanjutkan kembali kegiatannya. Jika ada seorang santri yang merasa capek atau lelah, ia lalu istirahat tidur tanpa ada rasa iri dari santri lainnya. Menjelang malam mereka semua berkumpul dimasjid melanjutkan mengaji kitab kuning.

Awalnya saya fikir pemandangan pendidikan para santri ini tak lebih sebagai pendidikan keakheratan saja. Karena apa yang diajar di dalam kitab kuning akan sulit membumi ditengah-tengah masyarakat yang telah berubah sok modernis ini. Faktanya juga, para tetangga saya yang mayoritas santri setelah terjun ditengah masyarakat ternyata tak mampu berbuat banyak merubah keadaan sosial. Malah cenderung tak berdaya ikut arus perubahan social desa. Oleh karenanya, mengenai pendidikan yang diterapkan ponpes ini, banyak pertanyaan bergelantung di benak tertuju kepadanya:

Bagaimana kelak nasib para santri setelah lulus dari ponpes saat terjun didalam persaingan masyarakat yang membutuhkan keahlian dan keterampilan kerja? Bagaimana pula nasib wawasannya kelak jika mereka tidak dibekali pengetahuan umum (ilmu alam, social, dan kenegaraan)? Layaknya lembaga pendidikan lain, ponpes ‘Tanpa Papan Nama ’ tidak memperkenalkan model pendidikan berjenjang, dan tanda kelulusan (sertifikasi), lalu bagaimana bias nanti para santri masuk bekerja kejalur birokrasi, bekerja di perusahaan, menjadi kepala desa dan sebagainya jika mereka tak mengantongi ijasah Negara?

Setelah berkali-kali mengikuti ceramah pengajiannya Lora (kyai) Nurul (pimpinan pondok pesantren), baru aku mulai memahami apa arti pendidikan yang di inginkan dan dikembangkan oleh Ponpes 'Tanpa Papan Nama' ini. Dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan atas kegiatan pendidikan santri diatas akan terjawab dengan sendirinya.

Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan hasil dari bawaan berfikir sepihak kita atas dunia pendidikan selama ini. Pertanyaan yang berangkat dari pemikiran pragmatis, yang terbiasa menilai bahwa segala proses pendidikan yang dilakukan oleh para siswa/santri harus berorientasi pada kesuksesan. Kita kadung terbiasa menganggap bahwa lembaga pendidikan adalah untuk ‘mencetak manusia’ berdaya saing. Kita terlanjur mendarah daging menganggap ijasah adalah bekal utama untuk mencapai kesuksesan hidup. Kita terlalu percaya buta bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan untuk untuk menata segala kehidupan ini. Seakan melebihi kepercayaan kepada Tuhan: “sekolah adalah lembaga untuk mencetak manusia pintar. Jika ingin pintar maka wajib bersekolah”. Benarkah itu semua?

Realitasnya banyak kesimpang siuran dan kekeliruan keyakinan kita atas dunia pendidikan selama ini. Banyak sekolah didirikan untuk mencetak manusia sukses namun kenyataannya semakin merajalelanya korupsi, hutan-hutan banyak yang gundul, angka kriminalitas dan pengangguran semakin tinggi. Banyak universitas meluluskan para sarjananya yang menempati posisi sebagai pejabat Negara namun kenyataannya kondisi negara tidak berubah menjadi lebih baik. Banyak manusia pintar, manusia cerdas, manusia unggul produk sekolahan/ pesantren semi sekolahan, namun yang jujur bisa dihitung dengan jari padahal jujur itulah kunci kemaslahatan ilmu dan amalnya bagi manusia lain.

Titik pijak (paradigma) dan cara memandang pendidikan yang demikian diatas menjadikan kekeliruan kita dalam mengorientasi proses pendidikan itu sendiri. Pengertian umumnya, pendidikan adalah proses siswa untuk menguasai dan menjadikan alam dan social sebagai obyeknya yang harus ditundukkan. Sehingga yang dominan adalah sifat ego sentris siswa kelak. Titik pijak demikian menyeluruh dalam dunia pendidikan sekarang, sehingga orientasi dari pendidikan itu sendiri amat materialistik. Maka wajar jika komersialisasi pendidikan terjadi dimana-mana. Dan ukuran keberhasilan siswa kelak terukur dengan, sejauh mana ia telah mendapat dan menguasai materi duniawi.

Padahal pendidikan itu sendiri adalah proses kehidupan yang teramat luas. Bukan lah sekedar di sekat dalam tempat bergedung setelah selesai maka berarti telah selesai pula proses pendidikannya. Kita kadung salah kaprah memandang antara proses pendidikan dengan pelatihan. Padahal apa yang terjadi disekolah dan di unversitas realitasnya tak lebih sekedar lembaga pelatihan bagi siswa bukan proses pendidikan utuh itu sendiri.

Pendidikan dalam pengertian Pondok pesantren Tanpa Papan Nama, adalah proses kehidupan siapapun yang selalu akan mendapat ujian hidup dari Allah yang akan terus berkelanjutan. Pendidikan adalah proses hidup untuk mengabdi sebagai kholifah Allah dimuka bumi dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan selalu medekatkan diri pada Allah sampai ajal menjemput karena segalanya dari Allah dan pasti kembali kepada Allah. Ponpes adalah sekedar alat dari banyak alat dalam proses pendidikan hidup. Pembelajaran bagi santri 'Ponpes Tanpa Papan Nama' tidak terikat pada sosok tertentu dan ruang tertentu pula. Ia bisa belajar dari masyarakat sekitar dan ditempat yang lebih luas dari sekedar ruangan kelas. Sedang kitab kuning adalah kerangka diri untuk menuntunnya agar selalu berada dijalan kemaslahatan.

Pendidikan dipesantren tanpa papan nama berpijak pada garis “tiada Tuhan selain Allah”, bahwa Allah yang maha segalanya mencipta, maha mengatur, maha berkehendak, atas segala proses pendidikan yang terjadi di ponpes “tanpa papan nama.” Kyai, Santri, Masyarakat pesantren hanyalah sebagai hamba yang tak bisa apa-apa dan hanya bisa jika dibisakan oleh Allah. Pendidikan ada karena diadakan oleh Allah. Proses pendidikan dan penyelenggaraanya ada karena digerakkan Allah. Sedang kyai, Santri dan masyarakat hanyalah pekerja Allah yang hanya melaksanakan perintah-perintah Allah. Untuk menjalani perintah Allah sebaik-baiknya kita harus berpegang teguh pada Alqur`an dan Al-hadist. Untuk mampu memahami hikmah dibalik kejadian-kejadian perintah Allah, dan agar selalu mengingat Allah, pesantren bersama masyarakat harus selalu mengkajinya bersama-sama dengan merujuk pada kitab Al-Hikam.

Bahwa pembelajaran bagi para santri dalam sehari-hari adalah merekam data-data yang ada dalam kitab kuning kedalam pikiran dengan selalu mendekatkan hati untuk selalu tertuju pada Allah. Selain itu santri juga harus bekerja setiap harinya. Disini pengertian bekerja adalah melaksanakan perintah Allah sebaik-baiknya. Pekerjaan adalah ketetapan mengerjakan sesuatu sesuai yang diperintahkan Allah melalui sebab kyai. Berbeda devinisi kerja umumnya. Pekerjaan selalu dipahami sebagai kegiatan untuk mendapat uang. Namun definisi pekerjaan diPonpes Tanpa Nama yakni proses melaksanakan perintah Allah melalui sebab mengerjakan sesuatu dan berakibat (hasil) juga karena perintah Allah melalui untung atau kerugian. Maka santri sedang menyapu halaman, mencuci, memasak, berbelanja, dan sebagainya itu berarti mereka sedang bekerja. Dan titik tekan dari pekerjaan adalah ibadah yakni untuk mendapat ridho Allah dan supaya tidak mendatangkan kemudharatan. Pekerjaan itu adalah ibadah dengan maksud untuk menjadikan kemaslahatan diri dan manusia lainnya.
Asrama santri dan kolam ikan yang diharapkan bisa menjadi milik publik..
Mengenai tentang nasib kelak setelah santri dinyatakan cukup mumpuni untuk menjadi masyarakat, maka Kyai dan pesantren menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Karena Allah lah yang maha menentukan (khoirihi wa sarrihi minallihita`ala: baik dan buruk segala sesuatunya Allah yang menentukan). Menjadi apapun kelak jika ia telah sesuai dengan koridor dijalan yang benar dan lurus diridhoi Allah maka itu adalah nikmat hidup yang harus di sukuri. Sebab dunia ini tak lebih persinggahan sementara para santri untuk mewujudkan rahmatan lil `alamin demi kehidupan abadi kelak. Tak perlu gelisah untuk ikut arus realitas sosial yang masih penuh kesimpang siuran.

Mengenai wawasan umum terkait dengan kehidupan sosial adalah alat bukan tujuan itu sendiri. Ia tak lebih dari sekedar data untuk dikaji dan diambil manfaatnya. Bukan kepentingan mutlak. Sebagai data maka wajib bagi santri untuk merekamnya dalam nalar dengan tujuan untuk menambah pengatahuan hikmah dan untuk memperkokoh keimanan. Tak perlu mengggantung kepada apapun dan siapapun selain kepada Allah. Hanya kepada Allah-lah kelak nasib para santri ditentukan. Bukan kepada ijasah, bukan kepada pemerintah. Allah-lah yang maha penolong. Bukan karena modal, bukan karena jabatan, bukan karena realitas kapitalistik sehingga Allah di tiadakan dan menjerumuskan kedalamnya.

Demikianlah titik pijak dan orientasi pendidikan para santri Tanpa Papan Nama, saya urai sesuai dengan pengamatan saya dan perbandingannya dengan realitas pendidikan pada umumnya. Banyak hal mengenai makna-makna didalamnya yang perlu juga diketahui teman-teman, namun kerena keterbatasan saya, sehingga catatan ini masih banyak kekurangan disana sini. Namun aku bangga mampu menuliskannya, karena ternyata model pendidikan seperti di 'ponpes tanpa papan nama' walau bukan satu-satunya di nusantara, namun telah menunjukkan taringnya berhadap-hadapan dengan model pendidikan kapitalistik.

Terkahir ingin saya sampaikan, bahwa kapitalisme tak bisa dirobohkan oleh sistem sosialis atau oleh sistem apapun. Banyak bukti mengenai ketangguhan sistem kapitalisme. Jika tak mampu merobohkan sistem kapitalisme maka hanya tinggal dua pilihan: ikut didalamnya atau memisah darinya, bekerja sama denganya atau tidak bekerja sama sekali denganya. So, bukankah pendidikan model Pesantren Tanpa Papan Nama telah menunjukkan gelagat dirinya untuk memisah dan tidak bekerja sama dengan sistem dunia kapitalis? Tidakkah kita menaruh respek kepadanya? wallahu`alam bisshawab.

Beberapa Santri Berpose Di asrama bambu.Membangun individu bertauhid guna terbentuk masyarakat tauhid Jambuan Jember


SALAM KENTHIR

1 Okt 2011

Atas Nama Cinta Kasih Ia Memberiku Pendidikan Hidup


Diterminal tawang alun Jember, matahari bersinar begitu angkuh bertengger menyengat kepala. Hiruk pikuk penumpang dan teriakan para kenek terminal semakin membisingkan kegalauan hidup orang-orang pinggiran yang terus terdesak oleh laju jaman. Aku masuk pada salah satu angkutan pedesaan yang siap berangkat menghantar pulang. Duduk berdesakan dengan para ibu-ibu buruh gudang tembakau, hendak pulang selesai menerima uang gaji mingguan yang ditaruh pada kutangnya agar terselamatkan sampai dirumah. Berdesakan dengan mereka hidungku mencium aroma bau yang khas: “Setengah harian mereka bergelut dengan daun-daun tembakau kering dan bercampur aduk dengan bau keringat yang menyembur dari ketiak-ketiaknya, hemm!!, ruang sesak mobil angkutan pedesaan yang kutumpangi seperti memberi pernyataan simbolik; Inilah kota Suwar-Suwir Jember. Kamilah peng- ekspor tembakau terbesar di Indonesia”.
 Disaat mobil sedang melaju, ku alihkan pikiran pada deretan persawahan yang terlihat semakin terdesak oleh perumahan para pendatang. Melewati persawahan, kulihat rumah-rumah desa semakin padat tak beraturan. Ocehan pak Sopir, memperkeruh ketidakberdayaan rakyat bawah: “Penumpang sepi. Semua orang beralih pada kendaraan bermotor!!” Jalan utama penguhubung antar desa semakin padat dengan lalu-lalang kuda besi, sementara, jalan yang dilalui ukurannya tetaplah seperti dahulu kala, masih sama, seperti saat kolonial Belanda rajin mengangkuti rempah-rempah dari pedesaan.

Sesampai dirumah, aku lekas-lekas mandi, sholat, memempersiapkan sepeda pancal, manata bakul dan memasukkan kerupuk-kerupuk rambak kedalamnya. Kulihat kakak pertamaku (laki-laki yang telah berposisi sebagai ‘juraganku’), tersenyum sambil memujiku sebagai orang rajin. Dia telah menjadi orang berhasil sebagai juragan kerupuk. Mampu membeli mobil kelas menengah kebawah. Sudah bisa membangun rumah agak mewah. Memiliki dua sepeda motor, punya 9 anak buah. Punya pendamping isteri super cerewet dan dua anak yang manis-manis. Semua orang kampung memujinya sebagai pemuda sukses. Sering kali pujian-pujian orang kampung dengan sengaja diperdengarkan dekat ketelingaku. Tak terhitung khotbah-khotbah para kerabat ibuku menasehati agar aku selalu mencontohnya.

Aku tak habis mengerti mengapa mereka selalu membandingkan aku dengan kakakku yang telah berhasil secara ekonomi. Dan kenapa pula aku harus mencontohnya. Bukankah aku dengan dia memang beda. Bukankan yang beda tidak bisa sama dan sebaliknya yang sama tak bisa beda?

Biarlah, aku gak perlu protes. Mereka hanyalah orang-orang lugu desa. Toh, omongan mereka merupakan kenyataan struktur sosial yang terjadi dalam masyarakat desa: “Kelas atas-kelas bawah. Kaum kaya-kaum miskin. Majikan-buruh tani. Golongan penindas-golongan tertindas”. Bukanlah kenyataan dimata tuhan: “posisi manusia adalah sama. Derajat ketakwaanlah yang berbeda dimata tuhan.” (Sedih sekali bila teringat dusunku kini sedang tergagap menghadapi gempuran modernisasi dan terus melaju dengan dis-orientasi sosialnya).

 Kakakku menjadi kaya (ukuran orang dusunku) karena ia telah mampu melewati jalan umum menjadi kaya yang benar dan lurus: “ Sarat menjadi orang kaya dan cara mempertahankan kekayaannya yakni; bekerja harus melebihi dari rejeki orang lain, selalu bertindak dan berfikir demi modal, harus kikir, harus tegaan pada sesama, berfikir curigaan, menindas upah buruh, mengurangi bersenang-senang, mengurangi baca novel, pintar bersiasat ekonomi, dan seterusnya”.

Dimana semua syarat-syarat tersebut haruslah mendarah daging dalam ideologi individualis: “Waktu adalah uang. Jiwa dan tubuh adalah mesin uang!”.

Jika tak mampu memenuhi syarat-syarat jalan umum menjadi kaya, namun masih memaksa ingin kaya maka bisa lewat jalan tol keberuntungan; misalnya, menjadi menantu orang kaya, menang Togel, korupsi proyek pemerintah, korupsi jabatan, menjadi intelektual tukang, menjadi Markus, merampok, dan seterusnya.

Sedang aku sendiri takkan pernah bisa berada diantara kedua pilihan menjadi orang kaya diatas. Baik melalui jalan umum maupun jalan tol.
Sedari kecil ibuku tak pernah mendoktrin aku harus jadi begini atau begitu. Mengajari ini, itu. Apalagi mengajari menabung.

Tatkala pertanian terus menerus mengucilkan kehidupan buruh tani. Ibuku beralih menjadi pedagang kecil-kecilan dipasar antar kota. Aku menyebut profesinya PNS: Pencari Nafkah Serabutan (“…..kasihnya seperti udara aku takkan mampu membalasnya.....”). Ibu tak bisa baca tulis. Keterpaksaan ekonomi membuat ia tak bisa mengasuh dan menunggui anak-anaknya dirumah. Selain lebih banyak ditinggali keluar rumah; aku hanya dimanja dengan sedikit materi, diasuh nenek, dan selebihnya aku hanya menyaksikan peperangan demi peperangan yang terjadi antara bapak dan ibu. Setiap minggu peperangan hebat pasti terjadi selama puluhan tahun. Oleh karenanya yang berkaitan dengan pengetahuan, kebenaran, cinta, cita-cita, dan keyakinan hidup, aku mendapatkan semuanya dari luar rumah.

Dulu, sangat kecewa sekali pada mereka. Semua teman-teman bergelimangan dengan kasih sayang dan perhatian keluarga, sementara aku hanya cukup mengangankan. Dikemudian hari aku baru sadar; ternyata, itulah pendidikan terjujur orang tuaku dalam mengajarkan filsafat kehidupan kepadaku: “Hubungan manusia itu pada dasarnya tidak sedang baik-baik saja, tetapi penuh dengan konflik kepentingan”.

Aku juga berterima kasih bahwa pengajaran tertinggi ibuku adalah; ia tidak mendikteku menjadi seperti ini atau seperti itu, harus begini harus begitu. Daripada melarang ibu lebih banyak membolehkan. Satu lagi, ibuku tak pernah tega membangunkanku sewaktu sedang tertidur. Setiap bangun tidur, bersiap akan berangkat sekolah, uang sakuku telah diselipkan dibawah bantal. Itu semua menyebabkan aku lebih senang bersosialisasi, terkadang menyendiri untuk sekedar berimajinasi, merenung dan berfikir dengan keras. Aku lebih bebas menjadi diri sendiri dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Yang sangat mengesankan, aku tak pernah diperbolehkan bekerja mengandalkan otot (“Diajari tak tergerus arus mainstream”). Makanya, seringkali aku diajaknya keluar kota ikut berdagang, daripada bekerja disawah menjadi buruh tani.
Selain memang tidak ditradisikan bekerja dengan otot, aku tidak pernah bisa berdisiplin dan berkonsentrasi dalam teknis pekerjaan. Tubuh yang bekerja tapi pikiran tetap melayang kemana-mana. Makanya saat berjualan kerupuk keliling dari warung kewarung sejauh 30 km-an, kaki mengayuh sepeda pancal, mata awas kedepan, namun hati dan pikiran melayang-layang mencari kebenaran sejati. Hati selalu bertasbih dengan bacaan sholawat pada kanjeng nabi, sementara pikiran memikirkan ajaran hidup yang sedang aku jiwai. Lagi pula aku tak terlalu pintar mempertahankan daya tawar harga dihadapan pembeli. Aku gak tegaan, sering mengiyakan bujuk rayu para pembeli daripada menolaknya.

Didalam perjalanan pulang pergi berjualan kerupuk, aku hampir tak pernah berfikir bagaimana teknik penjualannya agar lebih maju; namun pikiranku sibuk memikirkan apa sebenarnya kehidupan itu? Bukan bagaimamana cara menghadapi pembeli, tapi bagaimana kehidupan itu harus disikapi. Aku lebih sibuk mencari jawaban-jawabannya, dan sibuk mengurainya berputar-putar dalam angan, sambil menjajakan kerupuk dengan semangat yang kurang gigih.

Jika mujur dagangan kerupuk itu habis dengan sendirinya, jika tidak, kerupuk itu akan meratapi kememplemannya. Rata-rata barang dagangan yang kubawa pulang masih banyak tersisa. Dan itu cukup untuk mendapatkan imbalan teguran berupa muka masam kakakku. Ia pasti mencemooh, aku ini hanyalah pemuda pemalas.

 Kebiasaanku pulang dari berjualan tak langsung menghitung perolehan penjualan: “Setelah mandi dan berganti pakaian, aku tak langsung menyetorkan modal hasil penjualan; cukup mengambili tiga ribu perak dari kantong buat beli rokok, dan selekasnya ngacir kerumah Cak Sul bersama-sama pergi kerumah Mbah Kyai Mudhar mendiskusikan segala macam pemikiran yang aku dapatkan dijalanan sampai larut malam”.

Jadi bukannya aku tidak mau rajin bekerja keras, tapi bekerja menjadi tukang jual kerupuk yang sedang aku lakoni adalah siksaan teramat berat bagi fisik dan mentalku. Terpaksa semua itu harus aku jalani.

SALAM KENTHIR

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More