Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi/Nyata/Kenthir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi/Nyata/Kenthir. Tampilkan semua postingan

3 Nov 2011

Sebelum dan Sesudah Menikah


SEBELUM MENIKAH

P: Akhirnya sudah lama saya menunggu2...
W: Kamu ingin meninggalkanku?
P: Tidak! Jangan pernah berpikir begitu...
W: Apakah kamu mencintaiku?
P: Tentu saja setiap saat..
W: Pernahkah kamu membohongiku?
P: Tidak.. kenapa kamu berkata begitu?
W: Maukah kamu menciumku?
P: Setiap saat ada kesempatan..
W: Apakah kamu mau memukul aku?
P: Apakah kamu gila? Aku bukan orang seperti itu!
W: Bisakah aku mempercayaimu?
P: Ya..
W: Oh Sayangku..

SETELAH MENIKAH

Bacalah ulang dari bawah ke atas..

2 Okt 2011

Kisah Cinta Kenthirku Menginterupsi Ideologi Feminisme (Fiksi Maskulin Studies)


Banyak orang bersepakat terutama kaum feminis, bahwa jender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial. Jenis perempuan distreotipkan sebagai mahluk yang lemah gemulai, bersifat feminis, pemalu, dan seterusnya. Sedang Jenis laki-laki distreotipkan kebalikannya dari kaum perempuan yakni, berjenis jantan, maskulin, kuat, tangguh, mapan, memimpin, menguasai dan seterusnya.
Hubungan laki-laki dan perempuan dalam relasi jender, menurut para ahli dan para aktifis perempuan menyimpulkan, bahwa telah terjadi ketimpangan sosial jender yang mengakibatkan ketidakadilan bagi kaum perempuan. Dalam relasi jender kaum laki-laki lebih diuntungkan dengan sistem sosial patriarkisnya, dan perempuan cenderung menjadi korban kekerasan strukturalnya.
Pada pengalaman cinta saya dalam kontek relasi maskulin vs feminin, maka, kesimpulan para ahli dan para aktifis kaum perempuan pada relasi jender diatas tidaklah benar dan patut digugat keabsahannya.
Ketika cinta menuntun menembus batas-batas jender,  ketika,  rasa cinta dalam relasi jender dialpakan keberadaannya, perlulah  merefleksi kembali bangunan konsep ilusionis atas nama kesetaraan jender yang sering diteriakkan kaum feminisme.
Dan cerpen maskulin studies saya ini adalah menginterupsi ideologi suci para aktifis perempuan atas nama dan demi pemberdayaan, kesetaraan kaum perempuan. Pertanyaan adalah, “benarkah ketimpangan jender hanya mengakibatkan ketidak adilan bagi perempuan? Benarkah relasi jender hanya persoalan ketimpangan struktural tanpa ada keterlibatan agensi cinta personal didalamnya?”
—————————————————————-
Konstruksi jender yang menstruktur saya berjenis laki-laki- selama menjalin hubungan relasional  dengan Ning Ma  yang berjenis perempuan, justru mengakibatkan ketidakadilan dan ketidak nyamananan bagi saya menyandang predikat sebagai laki-laki yang terbalut dalam baju kebesaran diri sebagai maskulin miskin. Betapa menderintanya –‘aku’- dalam wadah maskulinitas, betapa mindernya,-‘sebagai aku’- dengan label sebagai pejantan tangguh yang tak berdaya dihadapan betina cantik, elok, mewah, bernama Ning Ma.
Tidak adil rasanya kalau hanya bercinta dengan gadis cantik, kaya, cerdas, elok, priyayi seperti Ning Ma, saya harus melewati sarat-sarat patriarkis menjadi maskulin yang bermateri, lebih cerdas, keren ala cowok metropolis, berwibawa, dan sebagainya. Padahal faktanya, saya hanyalah pemuda anak dari keluarga buruh tani miskin. Jangankan untuk menyamainya dalam penampilan, untuk ongkos berangkat kuliah dan biaya kuliahnya saja sudah megap-megap!
Tidakkah cinta itu anugerah dari tuhan? Tidakkah yang berjenis laki-laki kere itu juga berhak mendapatkan cinta gadis kaya yang aku puja tanpa perlu menanggung beban kelamin sosial patriarkis? Kenapa pula cinta harus melewati relasi ketimpangan jender seperti ini?
Sementara dibalik diri sebagai pemuda miskin, konstruksi sosial menjadi laki-laki dengan sifat, watak, pembawaan, sebagai mana layaknya kaum laki-laki telah sedemikian memental dalam diri saya:
“Sebagai anak yang dibesarkan dilingkungan pedesaan, aku tidak luput pula terkonstruksi sedemikian rupa untuk bersikap dan memandang dirinya sebagai layaknya laki-laki. Memandang dan menilai perempuan posisionalnya haruslah dibawah saya. Alasan-alasan itulah, tanpa sadar, saya enggan dan menyebabkan ke-minder-an diri tampil diruang-ruang public saat dengan dengan Ning Ma. Seakan semua akan menyorot dan menyoraki relasi kejenderan yang sedang kubangun dengan Ning Ma.”
Rasa aman terbaik bagiku agar hantu relasi jender itu tidak merongrong mentalku saat bersamanya, yakni membentengi diri dengan “ideology sensitif jender”
“Ideology sensisitf jender adalah sebuah paham saya, cara saya, untuk lebih sensisitif dalam setiap melakukan relasional dengan gadis yang aku cintai ini agar kuasa jender saya tidak terjatuh.  Baik waktu mengobrol, berjalan, bersikap, memilih tempat nongkrong, saya lebih mawas supaya kelelakian saya tak tertelanjangi. Saya akan merekayasa diri, mensiasati situasi, agar pertemuan-pertemuan dengan Ning Ma tergiring keruang-ruang yang bebas dari relasi jender seperti; ngobrol berjam-jam diperpus, duduk berdua dibangku panjang yang jauh dari sorotan mata teman-teman, rame-rame duduk dikantin, menghindar pulang bareng dan lain-lain. Dengan sensitif jender, saya mengimani maskulinitas saya aman dari kenistaaan.”
Bukan karena aku ini laki-laki penakut dan tak bernyali. Aku ini lelaki hebat yang luar biasa ketika berdebat diruang publik (radio, ruang kelas, lintas kelompok, dll) yang berkait dengan komunitas marginal, rakyat tertindas, kesewenang-wenangan penguasa, dan sebagainya. Namun aku takkan berani dan punya nyali sedikitpun untuk beberapa hal sepele seperti berikut:
“Duduk bersama Ning Ma diruang kelas, jalan bareng Ning Ma, bertandang sendirian kekosannya Ning Ma, makan berdua dengan Ning Ma diwarung, dan seterusnya.”
Dituntun menembus batas benteng pertahanan patriarki
Kepingin banget! jalan bareng disepanjang jalan karimata, dan Ning Ma ada disamping kiriku, makan bareng diwarung-lesehan dengan sorot lampu temaram, atau berkencan ria dikos-kosannya. Sebenarnya sih tak ada yang melarang. Ning Ma sudah tidak punya pacar, bahkan kutangkap, Ning Ma telah berulang kali memberi sinyal untuk itu. Tapi benteng jender ini begitu dalam memental menjadi watakku, sampai berwujud keminderan diri dan aku tak bernyali sama sekali untuk urusan seperti itu.
Kepinginnya sih kepingin. Tapi gimana, yah? Disamping aku ini ndesit dan miskin, terus terang saja aku tak punya pengalaman sebelumnya:
“Bila jalan bareng, pasti temen-temenku akan nyoroti cara jalanku. Jika aku bener-bener bertandang kekosannya Ning Ma, gosip tak sedap akan cepat berkembang. Mereka akan bilang, kasihan Ning Ma diapeli cowok kere!. Apalagi sampai makan bareng diwarung. Saat membayar, aduh betapa memalukannya dihadapan Ning Ma mengeluarkan uang dari dompet murah yang berisi 5 ribuan kumel.”
Padahal Ning Ma sudah berulangkali menyuruhku, “daripada uang mu buat nelpon aku terus, kan mending buat naik angkot ketemu dikosan sini.  Atau sekalian kamu kos aja. Cari kos yang murah disekitar sini. Dari pada bolak-balik pulang pergi. Kan lebih enak, aku bisa main kekosmu atau kamu bisa sering main kekosanaku.” Ning Ma mulai bosan mendengar alasan ngelesku menghindar main ketempat kosnya.
Suatu ketika, entah setan mana yang mendorongku punya keberanian bertandang kekosannya. Tatkala pagi, dihari Minggu, aku menelpon Ning Ma. “ Sori yo, aku gak bisa lama lama telpon. Kalau sampean mau, sampean kesini saja. rinio ae tak enteni” suara Ning Ma terdengar ketus.  Terpaksa aku bilang sori juga jika telponku telah mengganggunya. “Ya wis, assalamualaikum, Ning.” Aku mengakhiri percakapan.
“Aku kangen! Aku harus pergi ketempat kosnya Ning Ma!”  Mulai dari pagi aku melobi pak De ku yang super kikir itu agar ia berkenan dipinjam motornya. Akhirnya pak De luluh juga. Bisa dipinjam asal waktunya sore hari, plus diisi bensinnya. Setelah urusan melobi pak De beres, aku juga masih cari pinjaman baju dan celana kerumah teman yang bisa membuatku tampil keren dihadapan Ning Ma dan teman-teman kosnya.
Setelah dirasa sudah siap, aku telpon dulu Ning Ma.
“Ning, kamu gak punya acara keluar?”
“Nggak, kenapa?”, sahut Ning Ma.
“Gini, aku mau main kekosmu sekarang sambil ngantarkan buku yang pingin kamu baca kemarin!”. “He..he….bener ya? Tak tunggu lho?” timpal Ning Ma terdengar girang.
Tepat jam empat sore aku berangkat sendirian. Tampilanku terlihat sudah keren. Padahal kata teman-temanku yang memergoki, tampilanku masih terlihat Norak! Tengok sana-sini cari karimata E 59, akhirnya ketemua juga alamatnya. Sepeda motor pak De kikir ku parkir, pintu gerbang ku buka: ”Pakai assalamualaikum atau pencet bel ya? Kalau ucap salam, kan gak mungkin kedengeran dari dalam? Pasti pakai bel, nih! Aduh, dimana pencetan belnya? Ingat-ingat letak bel rumah yang biasanya dipakai orang kaya desa, itu dimana? Ow, itu dia belnya! Tet…Tet…!”
Tanpa disangka yang membukakan pintunya Ning Ma sendiri. Hufh! Mudah-mudahan tampilanku dari hasil pinjaman ini, tak memalukan Ning Ma dihadapan teman-temannya. Setelah dipersilahkan duduk, aku agak grogi mencoba duduk layaknya laki-laki gaul yang sudah biasa main kekos-kosannya cewek. dengan pandangan lurus kedepan, wajah dirilekskan, dan badan tegap.
Rupanya Ning Ma tahu bahwa saya sedang nervous. Dia memulai obrolan ringan-ringan yang memancing omonganku agar menjadi santai.  Ning Ma juga mengenalkanku dengan seorang teman yang sekamar dengannya. “Oh, ini  namanya Santri ? Kenalkan mas, aku Diah.  Santai aja mas!. Ning Ma banyak bercerita tentang sampean”. Diah kelihatannya sangat familiar walau tampilannya sangat narsis.
Aduh, tapi kenapa Ning Ma pakai cerita-cerita segala tentang aku, ya? Apakah Ning Ma tidak malu menceritakan aku? Mungkinkah Ning Ma bangga telah akrab denganku? Atau kah dia juga merindukanku, sehingga perlu curhat pada Diah?
Tak berselang lama sekitar 10 menitan, tukang borju lewat dengan teriakannya yang khas, borju! borju! Ning Ma menawarkan makan borju dan langsung memanggil tukang borju tersebut. Selain rasa malu ditraktir cewek, aku belum tahu borju itu jenis makanan seperti apa, maka langsung saja tawaran itu aku tolak.
“Sialan!, dari pada ngisin-ngisini!”, Gumanku dalam hati. “Andai aku tahu kemudian hari, bahwa borju itu adalah singkatan dari bubur kacang ijo, murah, enak, dan gampang cara makannya, tentu aku pasti mau”
Melihat teman-teman kos Ning Ma banyak yang ikutan beli Borju, segera aku bergegas pamit pulang sebelum mereka menyelidik kejenderanku.
“Ning, aku pamit pulang dulu. Soalnya ditetanggaku entar lagi ada acara tahlilan. Ini bukunya, Ning. Assalamualaikum!”
Sengaja buku itu ku berikan dengan agak dipamerkan, supaya teman-teman Ning Ma tak curiga bahwa kedatanganku kesana dalam rangka kencan terselubung. Walau Ning Ma agak keberatan, karena dua mangkok bubur yang dipesannya sudah dibuatkan. Aku tetap ngotot dan seperti terburu-buru, akhirnya ia merelakan ku pergi dan terdengar berkata, “hati-hati dijalan.”
Seminggu kemudian, rupanya Ning Ma tidak puas aku berkunjung hanya sekali. Dia berharap obrolan asik yang biasa dilakukan di perpus berpindah kekosannya. Bahkan sering ia memaksaku agar mau berjalan bareng pulang dari kampus. Tidak hanya cukup sampai disitu, Ning Ma meneror stabilitas relasi jenderku dengan mengajakku makan malam berdua diwarung lesehan.
“sebaiknya kamu gak usah pulang kerumah nanti. Kamu menginanp saja dikosannya Aan. Atau boleh pulang dulu, tapi jam tujuh (malam) kekosanku. Makan malam bareng. Ojok kuwatir, aku sing bayar.”
Demikianlah, Ning Ma dengan caranya sendiri terus menuntunku keluar dari kungkungan batasan pertahanan patriarkis yang tak berpihak padaku.  Dengan bijak (tidak risih), ia mengajakku berduaan tampil keruang-ruang publik.  Pada awalnya ter-engah-engah mengikuti tuntunannya. Namun dengan pelan-pelan aku bisa menyesuaikan penampilan, menyiapkan mental pergaulan, belajar beradaptasi dalam relasi jender baru yang ditawarkannya.
Alhasil, aku pun menjadi kecanduan dan terbiasa diruang-ruang sensitif jender yang ku hindari selama ini. Aku menjadi tak takut lagi akan resiko terjatuh dari bangunan patriarki saat berdua dengannya diruang relasi jender.
“Terima kasih, Ning Ma telah banyak mengajariku tentang warna hidup, mungkin ini kelihatan sepele bagi pemuda lainnya. Seumur-umur kamulah perempuan satu-satunya menuntunku berani berkunjung ke-tempat kos perempuan. Karena kamulah aku punya pengalaman, hebat, jadul, kenthir sekaligus indah dikenang; pertama makan diwarung bersamamu. Berdua jalan bariringan disepanjang jalan karimata. Dan sebagainya…dan sebagainya. Memukau bin menegangkan setiap melawati momen menyejarah. Istimewa nan indah setiap cinta yang bersemi dalam hati mampu menembus standar baku patriarki klasik.”
Berkat tuntunannya dan diikuti oleh cinta mendalamku, banyak menu-menu kehidupan yang selama ini tertutup tirai relasi jender menjadi aku kenali dan aku pahami. Relasi jender patriarkis akhirnya hanyalah sebuah misteri, bukan ideologi kaku yang sudah final kebenarannya dan tak selalu merugikan kaum perempuan (isme). Menembus batasan patriarkis kolot, merupakan permainan petualangan kehidupan yang mengasikkan sekaligus menegangkan untuk selalu aku ulang dan berulang bersamanya
Benar kata orang bijak, bahwa cinta itu mampu menembus gunung. Cinta itu bisa menjungkar balikkan dunia. Pun begitu denganku. Cintaku yang telah lama dipendam kuat-kuat, akhirnya selalu ingin menembus batas-batas benteng relasi jender yang kupertahankan dalam ketidak-PD-an.  Demi Ning Ma, demi cinta, aku siap dan rela jika batasan jender yang aku tembus ini kemudian menjatuhkanku dari atas tangga patriarkis. Apapun aku rela, walaupun tuntunan Ning Ma menembus batas jender ini, telah menelanjangiku diatas pangung perebutan kuasa relasi jender.
Darinya aku mendapatkan pengalaman makna diri menjadi antara, maskulin sekaligus feminin, feminin sekaligus maskulin. Terkadang tak berdaya terkadang pula amat kuat. Terkadang menerima dan terkadang memberi, dan banyak hal lainnya.

SALAM KENTHIR

1 Okt 2011

Atas Nama Cinta Kasih Ia Memberiku Pendidikan Hidup


Diterminal tawang alun Jember, matahari bersinar begitu angkuh bertengger menyengat kepala. Hiruk pikuk penumpang dan teriakan para kenek terminal semakin membisingkan kegalauan hidup orang-orang pinggiran yang terus terdesak oleh laju jaman. Aku masuk pada salah satu angkutan pedesaan yang siap berangkat menghantar pulang. Duduk berdesakan dengan para ibu-ibu buruh gudang tembakau, hendak pulang selesai menerima uang gaji mingguan yang ditaruh pada kutangnya agar terselamatkan sampai dirumah. Berdesakan dengan mereka hidungku mencium aroma bau yang khas: “Setengah harian mereka bergelut dengan daun-daun tembakau kering dan bercampur aduk dengan bau keringat yang menyembur dari ketiak-ketiaknya, hemm!!, ruang sesak mobil angkutan pedesaan yang kutumpangi seperti memberi pernyataan simbolik; Inilah kota Suwar-Suwir Jember. Kamilah peng- ekspor tembakau terbesar di Indonesia”.
 Disaat mobil sedang melaju, ku alihkan pikiran pada deretan persawahan yang terlihat semakin terdesak oleh perumahan para pendatang. Melewati persawahan, kulihat rumah-rumah desa semakin padat tak beraturan. Ocehan pak Sopir, memperkeruh ketidakberdayaan rakyat bawah: “Penumpang sepi. Semua orang beralih pada kendaraan bermotor!!” Jalan utama penguhubung antar desa semakin padat dengan lalu-lalang kuda besi, sementara, jalan yang dilalui ukurannya tetaplah seperti dahulu kala, masih sama, seperti saat kolonial Belanda rajin mengangkuti rempah-rempah dari pedesaan.

Sesampai dirumah, aku lekas-lekas mandi, sholat, memempersiapkan sepeda pancal, manata bakul dan memasukkan kerupuk-kerupuk rambak kedalamnya. Kulihat kakak pertamaku (laki-laki yang telah berposisi sebagai ‘juraganku’), tersenyum sambil memujiku sebagai orang rajin. Dia telah menjadi orang berhasil sebagai juragan kerupuk. Mampu membeli mobil kelas menengah kebawah. Sudah bisa membangun rumah agak mewah. Memiliki dua sepeda motor, punya 9 anak buah. Punya pendamping isteri super cerewet dan dua anak yang manis-manis. Semua orang kampung memujinya sebagai pemuda sukses. Sering kali pujian-pujian orang kampung dengan sengaja diperdengarkan dekat ketelingaku. Tak terhitung khotbah-khotbah para kerabat ibuku menasehati agar aku selalu mencontohnya.

Aku tak habis mengerti mengapa mereka selalu membandingkan aku dengan kakakku yang telah berhasil secara ekonomi. Dan kenapa pula aku harus mencontohnya. Bukankah aku dengan dia memang beda. Bukankan yang beda tidak bisa sama dan sebaliknya yang sama tak bisa beda?

Biarlah, aku gak perlu protes. Mereka hanyalah orang-orang lugu desa. Toh, omongan mereka merupakan kenyataan struktur sosial yang terjadi dalam masyarakat desa: “Kelas atas-kelas bawah. Kaum kaya-kaum miskin. Majikan-buruh tani. Golongan penindas-golongan tertindas”. Bukanlah kenyataan dimata tuhan: “posisi manusia adalah sama. Derajat ketakwaanlah yang berbeda dimata tuhan.” (Sedih sekali bila teringat dusunku kini sedang tergagap menghadapi gempuran modernisasi dan terus melaju dengan dis-orientasi sosialnya).

 Kakakku menjadi kaya (ukuran orang dusunku) karena ia telah mampu melewati jalan umum menjadi kaya yang benar dan lurus: “ Sarat menjadi orang kaya dan cara mempertahankan kekayaannya yakni; bekerja harus melebihi dari rejeki orang lain, selalu bertindak dan berfikir demi modal, harus kikir, harus tegaan pada sesama, berfikir curigaan, menindas upah buruh, mengurangi bersenang-senang, mengurangi baca novel, pintar bersiasat ekonomi, dan seterusnya”.

Dimana semua syarat-syarat tersebut haruslah mendarah daging dalam ideologi individualis: “Waktu adalah uang. Jiwa dan tubuh adalah mesin uang!”.

Jika tak mampu memenuhi syarat-syarat jalan umum menjadi kaya, namun masih memaksa ingin kaya maka bisa lewat jalan tol keberuntungan; misalnya, menjadi menantu orang kaya, menang Togel, korupsi proyek pemerintah, korupsi jabatan, menjadi intelektual tukang, menjadi Markus, merampok, dan seterusnya.

Sedang aku sendiri takkan pernah bisa berada diantara kedua pilihan menjadi orang kaya diatas. Baik melalui jalan umum maupun jalan tol.
Sedari kecil ibuku tak pernah mendoktrin aku harus jadi begini atau begitu. Mengajari ini, itu. Apalagi mengajari menabung.

Tatkala pertanian terus menerus mengucilkan kehidupan buruh tani. Ibuku beralih menjadi pedagang kecil-kecilan dipasar antar kota. Aku menyebut profesinya PNS: Pencari Nafkah Serabutan (“…..kasihnya seperti udara aku takkan mampu membalasnya.....”). Ibu tak bisa baca tulis. Keterpaksaan ekonomi membuat ia tak bisa mengasuh dan menunggui anak-anaknya dirumah. Selain lebih banyak ditinggali keluar rumah; aku hanya dimanja dengan sedikit materi, diasuh nenek, dan selebihnya aku hanya menyaksikan peperangan demi peperangan yang terjadi antara bapak dan ibu. Setiap minggu peperangan hebat pasti terjadi selama puluhan tahun. Oleh karenanya yang berkaitan dengan pengetahuan, kebenaran, cinta, cita-cita, dan keyakinan hidup, aku mendapatkan semuanya dari luar rumah.

Dulu, sangat kecewa sekali pada mereka. Semua teman-teman bergelimangan dengan kasih sayang dan perhatian keluarga, sementara aku hanya cukup mengangankan. Dikemudian hari aku baru sadar; ternyata, itulah pendidikan terjujur orang tuaku dalam mengajarkan filsafat kehidupan kepadaku: “Hubungan manusia itu pada dasarnya tidak sedang baik-baik saja, tetapi penuh dengan konflik kepentingan”.

Aku juga berterima kasih bahwa pengajaran tertinggi ibuku adalah; ia tidak mendikteku menjadi seperti ini atau seperti itu, harus begini harus begitu. Daripada melarang ibu lebih banyak membolehkan. Satu lagi, ibuku tak pernah tega membangunkanku sewaktu sedang tertidur. Setiap bangun tidur, bersiap akan berangkat sekolah, uang sakuku telah diselipkan dibawah bantal. Itu semua menyebabkan aku lebih senang bersosialisasi, terkadang menyendiri untuk sekedar berimajinasi, merenung dan berfikir dengan keras. Aku lebih bebas menjadi diri sendiri dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Yang sangat mengesankan, aku tak pernah diperbolehkan bekerja mengandalkan otot (“Diajari tak tergerus arus mainstream”). Makanya, seringkali aku diajaknya keluar kota ikut berdagang, daripada bekerja disawah menjadi buruh tani.
Selain memang tidak ditradisikan bekerja dengan otot, aku tidak pernah bisa berdisiplin dan berkonsentrasi dalam teknis pekerjaan. Tubuh yang bekerja tapi pikiran tetap melayang kemana-mana. Makanya saat berjualan kerupuk keliling dari warung kewarung sejauh 30 km-an, kaki mengayuh sepeda pancal, mata awas kedepan, namun hati dan pikiran melayang-layang mencari kebenaran sejati. Hati selalu bertasbih dengan bacaan sholawat pada kanjeng nabi, sementara pikiran memikirkan ajaran hidup yang sedang aku jiwai. Lagi pula aku tak terlalu pintar mempertahankan daya tawar harga dihadapan pembeli. Aku gak tegaan, sering mengiyakan bujuk rayu para pembeli daripada menolaknya.

Didalam perjalanan pulang pergi berjualan kerupuk, aku hampir tak pernah berfikir bagaimana teknik penjualannya agar lebih maju; namun pikiranku sibuk memikirkan apa sebenarnya kehidupan itu? Bukan bagaimamana cara menghadapi pembeli, tapi bagaimana kehidupan itu harus disikapi. Aku lebih sibuk mencari jawaban-jawabannya, dan sibuk mengurainya berputar-putar dalam angan, sambil menjajakan kerupuk dengan semangat yang kurang gigih.

Jika mujur dagangan kerupuk itu habis dengan sendirinya, jika tidak, kerupuk itu akan meratapi kememplemannya. Rata-rata barang dagangan yang kubawa pulang masih banyak tersisa. Dan itu cukup untuk mendapatkan imbalan teguran berupa muka masam kakakku. Ia pasti mencemooh, aku ini hanyalah pemuda pemalas.

 Kebiasaanku pulang dari berjualan tak langsung menghitung perolehan penjualan: “Setelah mandi dan berganti pakaian, aku tak langsung menyetorkan modal hasil penjualan; cukup mengambili tiga ribu perak dari kantong buat beli rokok, dan selekasnya ngacir kerumah Cak Sul bersama-sama pergi kerumah Mbah Kyai Mudhar mendiskusikan segala macam pemikiran yang aku dapatkan dijalanan sampai larut malam”.

Jadi bukannya aku tidak mau rajin bekerja keras, tapi bekerja menjadi tukang jual kerupuk yang sedang aku lakoni adalah siksaan teramat berat bagi fisik dan mentalku. Terpaksa semua itu harus aku jalani.

SALAM KENTHIR

Negeri Impian dan Kiamat Atlantis


Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya. Orang itu bernama “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas seperti terangkai dibawah ini.
Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.
Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.
Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.
Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.
Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”
Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.
Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.
Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.
Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.
Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.
Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.
Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.
Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.
Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.
Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.
Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.
NB:Inggrid Benette yang dapat memvisualisasikan kehidupan masa lampaunya itu  misterius karena tidak diketahui dari mana asalnya orang itu. 
Sumber:  Dari berbagai Sumber

SALAM Santri KENTHIR

12 Sep 2011

Status Santri Kenthir


  • Please...!!keluarkan aku dari surga tandus ini kedalam kenikmatan nerakamu sayang (Sat, 19 Dec 2009 18:54:51 GMT)
  • Merenung kembali keberadaan sesuatu yang aku yakini dan kalian. "Tuhan ada? itu katanya. Malaikat ada itu katanya. Utusan tuhan itu datang, katanya. Dan kebenaran masa depan, itu juga katanya. Kita semua benar2 tidak pernah tahu persis!!" (Fri, 08 Jan 2010 00:42:06 GMT)
  • Menurut saya: Tuhan itu satu yakni Tuhan yang maha Kuasa ..tapi realitasnya sehari-hari kita menyembah banyak tuhan. Bagi yang telah menyembah Saifulrahman sebagai tuhan...tolong insaflah ..kembalilah pada jalan yang lurus dan benar.. (Wed, 13 Jan 2010 05:55:25 GMT)
  • TUhan jika aku kau takdirkan kelak disurga...Aku takkan minta para bidadari menemaniku...tapi tempatkanlah aku dengan kekasih hatiku...dan satu lagi.. koneksi internetnya jangan kau putus biar aku masih tersambung dengan temanku dedek yang di neraka... (Sat, 16 Jan 2010 11:51:53 GMT)
  • Menyiapkan mental: "Jum'at akan datang aku berani g ya menginterupsi hotbah jum,at jika materi hotbahx berisi fatwa haram merokok?" (Tue, 23 Mar 2010 20:37:38 GMT)
  • Kepingin menjadi pembela utama luna maya, tp sayang, luna maya yang satu ini sibuk dengan adukan wedang kopinya. luna maya tak perduli atas gunjingan para tetangganya, yang pernting dia bisa menafkahi keluargnya dg brjualan kopi didesa balunglor. (Wed, 30 Jun 2010 07:39:24 GMT)

Semoga Menginspirasi

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More