Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan

5 Okt 2011

Arus Besar Perempuan Jakartaan Menghantam Moralitas Desa


Miris kawan, bila mengingat disorientasi sosial yang mendera kampung halamanku. Aku hanya berharap perubahan didusunku tak sampai pada level perilaku budaya seperti yang terjadi pada masyarakat dusun Tanjung Sari, dusun tetangga . Bila didusunku perempuan mudanya yang hengkang kejakarta masih bisa dihitung dengan jari, tapi didusun tanjungsari, sudah tak terhitung lagi.
 “Tanjung Sari dikenal sebagai dusunnya perempuan Jakarta`an. Dusun ini  Jaraknya tak jauh dari kampung halamanku. Perempuan Jakarta`an adalah label yang disandangkan pada Dusun Tanjung Sari disebabkan banyak perempuan mudanya yang berprofesi sebagai tukang Pijat Plus di Jakarta. Profesi tukang pijat plus di Jakarta sudah merupakan profesi massal dan bukan hal tabu lagi bagi eksistensi kehormatan keluarganya. Lima tahun lalu saat aku menginvestigasi ke dusun tersebut, kulihat dalam satu RT berderet-deret rumah mewah nan megah sementara rumah-rumah tersebut hanya dihuni oleh para orang tua yang berstatus sebagai buruh tani. Bila pada masyarakat  jaman  jahiliyah mekkah menyikapinya dengan kesedihan jika yang lahir anak perempuan, sebaliknya para orang tua buruh tani di Tanjung Sari sangat bahagia apabila bayi yang lahir berjenis perempuan. Punya anak bayi perempuan berarti kelak ia akan menjadi gadis penyelamat ekonomi kemelaratan keluarga. (Tentang Dusun Tanjung Sari dan perempuan Jakartaannya, pernah saya kupas panjang lebar dimajalah lokal budaya DEMORO).”  
 Tak habis pikir, kenapa riuh suara-suara adzan dikampung halaman tak mempan membendung gemuruh gelombang perempuan mudanya merantau  ke-jakarta, Batam, Menado untuk menjadi pekerja seks komersial. Apakah suara adzan melalui corong-corong  speaker itu sudah tak menentramkan hati mereka? Apakah panggilan-panggilan adzan itu sekedar teriakan nyaring tak berkait dengan makna keselamatan sosial- ekonomi yang sedang dihadapi kaum bawah dikampung halaman?
 Segelintir orang yang menjadi jamaah rutin sholat musholla dan masjid rata-rata koor hanya menyalahkan para perempuan pelacur terselubung ditanah rantau tersebut. Para kyai langgar, para takmir masjid, dan tokoh masyarakat, rata-rata menyikapinya dengan lontaran yang lebih pedas dari cabe yang paling pedas sedunia.
 Sementara Kyai sepuh veteran pejuang `45, Mbah Mudhar hanya bisa sebatas prihatin dengan kondisi sosial yang terjadi disekitar dusun. Suara lirih beliau memilih menyalahkan Negara yang telah menghianati amanah perjuangan kedaulatan bangsa yang termaktub dalam UUD 1945.
 Serentak semua hanya bisa menyalahkan masyarakat telah bertindak kalap dan ketidakbecusan negara dalam mensejahterakan rakyat. Tak pernah mereka mengkoreksi diri, apakah benar semakin banyaknya musholla, forum-forum pengajian, madrasah, TK Islam, masjid super megah telah masuk kategori yang dianjurkan Nabi Muhammad, bahwa kita telah berada dalam level sedang berlomba-lomba dalam kebaikan? Kalau itu memang untuk kebaikan, mengapa tidak memberi mamfaat pada kemiskinan akut yang dihadapi kaum bawah dusun?  Bukankah suatu ibadah dikata baik, bila memberi kemanfaatan pada hidup sesamanya? Mengapa ia tak mampu menghadirkan dan menggugah solidaritas tolong menolong demi keselamatan bersama dusun?

SALAM KENTHIR

4 Okt 2011

Hiruk Pikuk Maksiat Ditengah Gemuruh Suara Adzan


Dikampung  halamanku, dusun Karang Kontradiktif, RT Agamis-Simbolis  (Masuk wilayah Kecamatan Balung-Jember Selatan) yang luas wilayah dusunnya sekitar 10 hektaran, dihuni oleh 50 rumah tangga, mempunyai 5 musholla plus satu buah masjid besar. Masing-masing musholla mengumandangkan panggilan adzan menggunakan corong speaker. Setiap corong speaker (pengeras suara)  bisa terdengar sampai jarak 1 KM-an. Deret antara musholla satu dengan musholla lain berjarak sekitar 200 Meteran. Bila sudah waktu magrib tiba semua serentak mengumandangkan suara adzan. Seperti tak mau kalah dengan musholla disekitarnya, suara adzan yang terdengar dari masjid besar itu lebih kencang suaranya  sampai jarak sejauh 3 KM-an. Maklum disamping telah dilengkapi dengan sound system yang memadai, corong speakernya  dipancang jauh lebih tinggi daripada yang ada di musholla, yaitu, ditempatkan diatas menara masjid yang punya ketinggian 30 Meter an, dengan jumlah 4 corong speaker dipuncak  menara dan 2 lagi disamping kubah, masing-masing corong speaker tersebut menghadap kearah enam  penjuru. Belum lagi ditambah suara adzan yang terdengar dari radio dan telivisi yang dinyalakan  oleh masing-masing penduduk sekitar.
Bisa dibayangkan seperti apakah situasi kampung halamanku bila magrib dan isya` telah tiba. Namun jangan terburu mengklaim dan memvonis kalau kampung halamanku telah merepresentasikan  dirinya sebagai masyarakat religius.

Seharusnya bila semakin banyak musholla disertai adanya masjid besar disebuah dusun dalam panggilan massal, apalagi menggunakan corong speaker,  berarti volume yang berjamaah berjumlah banyak. Semakin keras suara panggilan muadzinnya berarti orang yang terpanggil untuk datang sholat semakin tinggi. Nyatanya, Kuhitung yang datang berjamaah dimusholla sebelah rumahku saja hanya 4 orang yakni; tukang adzannya, imamnya, dan 2 orang lagi pemilik mushollanya sepasang suami-isteri. Pun di musholla yang lain tak jauh berbeda kondisinya. Sedang dimasjid besar yang waktu pembangunannya menghabiskan dana 1 M lebih, hanya terdapat 5 jamaah laki-laki dan 3 perempuan. Esoknya dan seterusnya hasil surveiku menunjukkan angka masih tetap sama dengan hari sebelumnya, dan orang-orang yang sholat berjamaah masih yang itu-itu juga.

Pernah suatu ketika saat aku baru pulang dari begadang semalaman, aku tak bisa tertidur sebab terganggu suara kaset orang mengaji yang diputar keras-keras menggunakan corong speaker menjorok tepat kearah rumahku.  Kejadian seperti itu selalu terjadi setiap jam 3 dini hari.  Padahal waktu adzan subuh masih 1/2 jam-an lagi. Mau protes tidak mungkin karena pemiliknya adalah keluarga pamanku sendiri. Esoknya saat orang-orang sekitar musholla mulai bekerja disawah, aku masuk mushollah pura-pura akan sholat. Didalam musholla aku mulai beraksi dengan merusaki  alat-alat didalam pendorong  corong speaker. Aksiku berhasil dengan sangat sukses. Walhasil selama sebulan, setip pulang dari begadang semalaman aku dengan aman tertidur pulas tanpa teror suara bising  corong speaker lagi. (Adegan ini tidak boleh ditiru. Aksi ini kulakukan waktu aku masih menjadi pemberontak kemapanan simbolisasi agama didusunku)

Dilihat sekilas dari sisi simbolisasi agama pada kampung halamanku paling tidak perilaku sosial masyarakatnya seharusnya lebih mendekati moralitas nilai-nilai agama yang dianut. Nyatanya keberhasilan simbolisasai agama Islam disana tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial masyarakatnya. Adanya 5 musholla, 1 masjid besar, 1 TK Islam, 1 Madrasah, pengajian rutin jama`ah kaum bapak, pengajian rutin kaum muslimat dan fatayat, ceramah agama setiap jum`at, namun kontradiktif dengan kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat  kampung halamanku:

  • ”Sepuluh wanita muda nan cantik berprofesi menjadi tukang pijat plus dijakarta dan dua orang menjadi mucikari dibatam dan di manado. Tiga cowok menjadi gigolo dijakarta. Seperempat penduduknya pelanggan tetap togel. Tiga orang menjadi pengedar togel yang dua orang sekarang dipenjara.  Dua orang haji kaya tapi kikirnya minta ampun. Empat orang stress berat. Satu orang menjadi maling spesialis sapi (Entah sekarang sudah tobat atau belum). Sepuluh anak remaja menjadi penguntil barang-barang ditoko (Dua anak remaja sudah pernah dipenjara). Dua orang kyai langgar terlibat dalam skandal perselingkuhan, yang satu dengan guru TK dan  satunya dengan perempuan pengepul barang besi tua.  Satu orang kyai langgar lagi yang menjadi pengumpul dana hibah dari penduduk yang melacur ditanah rantau untuk sebuah acara pengajian akbar dan merenovasi mushollanya. Selebihnya mayoritas penduduk berprofesi sebagai buruh tani tertindas. Sisanya menjadi pemuda penggangguran atau menjadi perantau dinegeri Jiran. Oh ya, satu lagi pemuda murtadnya yang sekarang sudah bertaubat, yakni saya sendiri, he he.”  (Sumber: Mata- telingaku plus gosip para tetangga)

SALAM KENTHIR

1 Okt 2011

Belajar pada Teori Kritik Sosial ala Bu Joko Penjual Nasi Pecel


Dibalik keresahan kita atas nilai-nilai luhur tradisi keyakinan agama yang diguncang arus besar modernisasi dengan dalih demi meningkatkan dan memajukan taraf hidup manusia.
Dibalik ketidakberdayaan masyarakat santri, masyarakat agamis, kaum adat, terjebak dalam kubangan hitam kebudayaan keranjang sampah. 
Dibalik masyarakat dusun sudah terkena wabah penyakit individualisme akut.
Ternyata, masih ada yang tersisa, masih ada yang menampakkan diri. Karenanya seakan semua keresahan, ketidak berdayaan, wabah individualisme, menjadi sirna ditelan oleh kesahajaan pandangan dan sikap hidup sosok seorang nenek bernama bu Joko  yang sehari hari didesa berjualan nasi pecel.
Demikianlah kesimpulan sementara saya menilai sosok Bu Joko beserta celotehnya ditengah realitas sosial yang semakin menyesakkan dada kita.
Penilaian itu berasal dari ketidak sengajaan saya, saat mampir di warung nasi pecel desa Balung Kopi. Kesan pertama yang kutangkap dari Bu Joko, beliau ini tipe penjual nasi pecel ceriwis.  Keceriwisan bu Joko semakin menarik ketika mengarah menjadi lontaran teori teori  ala orang bawah, maka, tip rekam yang ada didalam tas, ku nyalakan dengan diam-diam.
Oh ya, saya bukan berprofesi wartawan, tapi memang saya suka menenteng tip rekam kemana-kemana. Dengan membawa tip rekam saya bisa merekam utuh teori teori kecil yang keluar dari mulut orang-orang bawah.  Saya beranggapan semua individu itu unik dan punya teori-teori tersendiri dalam menyikapi kehidupan yang sering berlawanan (alternatif) dengan teori teori besar (filsafat) yang selama ini menjadi kesombongannya kaum intelektual sekolahan.   
Adapun narasi dibawah ini merupakan catatan celotehan-celotehan Bu Joko yang sudah saya alih bahasakan dari bahasa madura dan dikemas menjadi susunan teori pengetahuan ala Bu Joko lima tahun lalu. Dan saya berharap kita semua bisa berguru dan belajar atas pesan-pesan moral implicit yang terkandung didalamnya.

+++++++++++++++++++++++++++
Memperbandingkan cara pandang dan sikap hidup Bu Joko dengan arus besar budaya hidup hedonis pada masyarakat desa maka ia menjadi sosok yang berhadap hadapan dengan anggapan kearifan lokal akan habis oleh nilai nilai global.  Tesis yang dibangun oleh Bu Joko yakni, kearifan lokalitas takkan bisa habis karena basis kedalaman iman pada tuhan seseorang takkan pernah bisa hilang. Selama kedalaman iman seseorang itu tak hilang dihati, maka itu akan menjadi pondasi penopang budaya luhur hidup masyarakat lokal yang khas dan takkan bisa dihabisi oleh apapun, termasuk arus besar globalisasi.
Bu Joko beranggapan jika hati warga masyarakat benar benar dipenuhi dengan nilai tiada tuhan selain Allah. Hanya Allah lah berkuasa pada hati, hanya Dialah yang memberi pertolongan, maka dan tentu saja masyarakat dusun tak menjadi penggantung terpaksa pada kebutuhan-kebutuhan sekunder. Karena hati masyarakat sudah tidak selalu zikir, akhirnya kebutuhan yang semestinya sekunder berubah menjadi primer. Akibatnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup itu semakin banyak dan menumpuk. Sementara kemampuan diri untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terlampau banyak itu tak mencukupi. Dengan demikian, bisa dipastikan keruwetan-keruwetan hidup akan terus berputar-putar melilit jiwa. Menyitir bahasa sederhananya Bu Joko, “Gak usah repot repot. Kita hidup itu kan, bisa makan agar kuat sholat. Bisa berbaju supaya tak malu menghadap tuhan. Punya rumah agar bisa kumpul keluarga. Jadi hanya itu, kan? Tetapi, yang terjadi kita selalu disibukkan oleh kebutuhan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Mubazir. Tapi kebutuhan yang tidak kita butuhkan itulah yang kita kejar-kejar setiap hari.
Bu Joko yang sudah 32 tahun berjualan nasi pecel dan sekarang usianya sudah 60 tahunan, mendapat pelajaran demikian itu diturunkan dari bapaknya dan diyakininya sampai sekarang. Mendasarkan hati sepenuhnya tertuju pada tuhan membuat ia tak pernah mengeluh pada orang lain. Bu Joko mencontohkan dirinya saat menghadapi rintangan hidup ia selalu ceria. Selama hidup ia tak pernah mengambil hutangan ke bank untuk modal jualan. Selalu ingin mendekatkan hati pada tuhan membuatnya optimis memandang kehidupan fana. Itu menggerakkan dirinya untuk bisa berbuat menolong orang lain semampunya.  ”Orang seperti saya ini jangan didatangi orang yang punya kasus perceraian. Pasti dia gak akan jadi bercerai. Hehehe..”
Pandangan bu Joko diatas memang bukan berasal hasil konsumsi buku yang bertumpuk-tumpuk. Ia bukan pula analis jitu yang kaya perspektif. Beliau hanya belajar pada kesederhanaan hidup dan keyakinan mendalam pada hari akhir.
Demikian itulah yang  membuat ia walau buta teori sosial tak menghalangi hatinya mewaspadai hegomoni buruk hiburan dunia telivisi pada masyarakat penonton. Hegomoni hiburan TV hanya membuat kita menjadi obyek pasif. Sebatas konsumen yang siap selalu untuk menuruti bujukan TV. Memang kita sering dipengaruhi tanpa sadar untuk meniru gaya hidup seperti yang ada dalam permainan TV agar menjadi kehidupan nyata yang harus diterapkan oleh kita. Oleh karenanya bu Joko gak mau tertipu dan selalu berhati-hati akan permainan hayal telivisi. Makanya bu Joko gak pernah nonton sinetron.
”Kalau Cris Jhon yang bermain, saya pasti nonton. Atau Jacky Chan dan Boboho. Nonton Crish Jhon, selain itu sungguhan, itu mengingatkan pada diri saya sendiri. Kelak saya akan dipukuli juga diakherat. Ini agar saya berhati hati. Walau tak tahu pasti saya ini akan dipukuli atau gak nantinya. Sedang menonton Jacky Chan dan Boboho itu karena memang lucu.” Tegas Bu Joko.
Mengenai fenomena krisis moral yang terjadi pada para ulama, ia tak pernah ingin menilai ulama lebih jauh, takut bisa menimbulkan fitnah. Ia hanya bisa mencontohkan dirinya, bahwa ia mulai jarang hadir ke pengajian pengajian umum karena ketika hadir yang didapat cuman dimarahi dan ditakut-takuti oleh para penceramah.
”Masak kita hadir ingin mengaji tahu tahu sampai ditempat dipengajian dimarahi dan ditakut takuti. Wong bapak ibu saya gak pernah memarahi seperti itu. Gak sholat dimarahi. Gak puasa dimarahi. Siapa yang gak mangkel dimarahi. Saya kan hanya ingin ngaji. Mereka jadi kyai itu karena orang-orang seperti saya ini ingin ngaji. Banyak yang ngaji makanya ada kyai. Kalau gak ada yang ngaji apa mungkin akan ada kyai?”
”Siapa yang gak tahu mereka (para kyai yang suka memarahinya) paling paling isi perutnya gak jauh berbeda dengan isi perut saya. Harus nya kalau berpidato membuat hati ini tergetar. Membuat hati kita sejuk. Membuat kita jadi tanpa harus dimarahi terlebih dulu. Kalau ada yang gak terima ucapan saya, saya siap mempertanggung jawabkannya”

SALAM KENTHIR

Berebut Menjadi Wong Desa


Konglomerat, kaum professional, para tengkulak, para petani kaya yang memiliki sawah berhektar-hektar, tak ayal termasuk golongan kaum beruntung sebagai masyarakat desa. Mereka ini lebih bebas bergerak memenuhi kebutuhan yang diinginkan. Lebih leluasa memilih dan menentukan masa depan keluarganya.
Tetapi, bagaimana dengan mereka yang tak punya sawah sepetakpun? Mereka yang hanya bisa berprofesi sebagai buruh tani, atau hanya bisa menjual tenaga kasarnya demi untuk mengasupi aus tubuh (tukang becak, kuli bangunan dll)?
Bagai piramida; mereka para kaum mustad`afin (kaum tertindas) adalah susunan masyarakat mayoritas yang hanya berposisi berada pada level garis hidup penopang segelintir kaum elit desa.
Karenanya kekuatan pada akses politik dan ekonominya sangat lemah dan mereka hanya bisa mengais sisa-sisa ekonomi yang tercecer, dan saling berebut sesama kaum mustad`afin lainnya mencari celah usaha bertahan hidup (survival) setiap hari.
Banyak orang bilang, peta ekonomi desa kekinian pada kenyataannya, tak lain adalah ekonomi saling berebut. Bukan ekonomi gotong royong (subsistensi). Kata kaum cerdik, bahwa, telah terjadi demam kapitalisasi yang akut didesa. Siapa punya modal kuat dialah yang menguasai. Modal menjadi diatas segala-galanya. Semua usaha ekonomi tak lain demi akumulasi modal. Berfikir dan bertindaknya terukur atas nama modal. Semua energi dan pikiran individu masyarakat dikerahkan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Bila masyarakat desa telah tersusun oleh ekonomi perebutan, maka nyata, struktur sosial yang terbentuk adalah struktur kontestasi. Masyarakat atas (elit) saling bersaing, yang masyarakat bawah (kaulo alit) juga saling bersaing. Saling menyerang diserang, bertahan dan menyerang balik. Tanpa terasa bagai siluman bergerak secara diam-diam, semua warga desa sudah saling bersaing, saling menyerang, dan saling bertahan. Bagaikan pola binatang hutan rimba, Si kuat memangsa si lemah, dan silemah bertahan mencari selamat.  Tapi, bagaimana dengan si lemah yang tak kuat bertahan dan selamat diarena kontestasi sosial desa?
Desa sebagai arena hukum kontestasi tak mengkompromi orang-orang lemah yang mudah menyerah. Hanya dua pilihan bagi orang-orang yang mudah menyerah. Memilih tetap bertahan didesa atau memilih terlempar keluar desa.
Ketika virus kontestasi sudah menyebar menjadi cara pandang umum masyarakat desa, maka dan tentu saja kaum mustad`afin sebagai masyarakat yang menempati level bawah desa, tak ingin dirinya diremehkan sebagai kaum pemalas yang mudah menyerah dalam kontestasi. Disepelekan dan dipinggirkan dari dunia kontestasi desa. Sebagai manusia yang diberi pikiran dan perasaaan  mereka akan mencari celah agar bisa dipandang dan dinilai oleh masyarakat yang lain. Dan sebagai warga desa para kaum tertindas ia ingin pula  dirinya dipandang sebagai sang kontestan desa.
Yah, siapapun selama ia berada dimedan makna pasti akan berkontestasi memperebutkan makna. Tak terkecuali kaum mustad`afin. Agar bisa dikatakan pula sebagai sang manusiawi.
Karenanya hidup adalah kontestasi memperebutkan makna. Maka, mampukah orang-orang desa itu berlomba-lomba demi kebaikan, seperti yang sudah banyak kita dengar tentang  fastabikul khoirot,? Bukan kebalikannya, berlomba-lomba demi kehancuran. wallahu a`lam bisshowab.
  • (Tulisan ini jejak rekam pikiran saya yang pernah saya tulis tahun 2006 dan saya publiskan dimajalah desa sebagai dedikasi kecintaan saya pada orang orang desa yang mengalami disorientasi sosial) 

SALAM KENTHIR

Mereka Di Jakarta


Beberapa waktu lalu aku dibuat kaget melihat gadis desa cantik jelita di jalanan desa dengan dandanan modis dan seksi. Aku pikir dia  ini  mahasiswi yang sedang KKN didesa ku, atau  salah satu bintang sinetron yang lagi shooting di desa. Setelah di telusuri lebih jauh ternyata dia hanya anak tetangga yang baru pulang merantau kejakarta.

Si Srintil (nama samaran) anak gadis desa itu,  dua tahun yang lalu sebelum merantau, penampilannya masih kampungan. Kulitnya masih hitam dan rambutnya masih keriting. Kalau ngomong logat maduranya masih kental. Dia juga hanya anak buruh tani dan hanya tamatan SMP. Tapi, sekarang? Srintil sudah menjelma seperti bukan anak gadis desa umumnya, penampilannya sudah tak pantas  lagi menjadi putrinya buruh tani miskin. Kulit wajah dan rambutnya sudah seperti para bintang sinetron. Penampilannya sudah gak dekil seperti dulu lagi. Kemana - mana bawaannya HP Blackberry. Bila bertandang  kerumah tetangga sebelah sering menenteng laptop.. Rumahnya sudah bergedung mengkilat. Srintil sekarang sudah gaul banget gitu, lho! 'Engkok been' (indo: kamu aku) sudah jarang terdengar dari mulutnya, tetapi elo guwe sering terlontar  setiap ia berkomunikasi dengan tetangga. Pokoknya Srintil sekarang sip deh. Berkat merantau ke-Jakarta dia sekarang sudah jadi orang kaya baru di desa. 

Mereka di Jakarta
Ternyata bukan hanya si srintil seorang yang sukses hidupnya merantau kejakarta, tetapi serupa banyak srintil srintil lainnya didesa lain mulai mudik kekampung halamannya. Penasaran dengan perubahan drastis para srintil jakartaan, aku tanpa sadar terdorong menginvestigasi seorang teman perempuan mantan Srintil jakartaan. Dengan tanpa berat hati ia memberikan testimoni kesaksiannya tentang apa dan bagaimana para Srintil itu di Jakarta.Berikut testimoninya.
+++++++++++++++++++
Kebanyakan perempuan desa yang ke - Jakarta kerjanya di panti pijat dan pastinya memijit.

Ada dua cara memijit yang satu pijit shiatsu (pijit ala Jepang) dan kedua pijit tradisionil. Kebanyakan yang di pijit adalah orang cian laki - laki (tionghoa muda). Kalau orang jawa jarang yang ke panti pijat. Saat bekerja biasanya memakai pakaian minim kayak you can see. Saat berjalan menemui tamu mereka umumnya masih menggunakan pakaian seragam. Tapi setelah mereka bekerja di kamar yang tertutup, seragam itu dilepas karena untuk bergerak memijit agak susah.

Tarif pijitnya para tamu umumnya per- dua jam Rp. 90-150rb yang langsung di bayar ke kasir. Fasilitasnya mandi uap, mandi panas dingin, bar dan lain - lain. Sebelum ketemu meses (mesage) tamu bertanya dulu ke wetris {lagi lagi saya bingung tentang ejaannya silahkan di benarkan sendiri} tentang meses yang cocok untuk memijitnya. Biasanya tamu lebih suka meses yang putih, yang kecil, yang pinter mijit dan pinter service, atau pinter semuanya. Yang pinter semuanya ini yang paling laris ketamu.

Upah perjamnya enam sampai tujuh ribu. Banyaknya upah kerja sehari tergantung pada banyaknya tamu yang datang padanya. Biasanya rata - rata sampai data delapan jam dikalikan enam ribu berarti 46rb. Kalau lagi sepi sekitar hanya dapat 25 ribu. Upah memijit tidak dibayar perhari langsung tapi perbulan. Gaji sebulan dari majikan kalau lagi stabil sekirat 1,5 juta-an. Sedang biaya hidup para meses sebulannya minimal 1,5 jutaan juga. Jadi upah mijit hanya cukup untuk biaya hidup sehari - hari di Jakarta. Selain gaji pokok perusahaan panti pijat, para meses juga dapat uang tips (uang yang langsung di berikan tamu). 

Uang tips ini kalau di total sebulannya lebih besar dari gaji pokok dari pe-rusahaan. Dapat uang tips tergantung pada ceweknya juga. Kalau si cewek sudah kategori ngetop hanya mijit saja tak ada servis lainnya, dia bisa di kasih Rp. 100.000,- minimal Rp. 50.000,- Ada juga yang gak ngetips istilahnya disana 'tamu bolong'. Uang tips di berikan tamu atas kesepakatan mereka ketika di dalam kamar. Kalau lagi ramai meses bisa dapat uang tips satu jutaan sehari.


Gaya hidup mereka kalau sudah dua bulanan mulai bekerja perubahannya cepat sekali di banding mereka di desa. Selain sudah akrab dengan cowok yang cakep - cakep mereka juga cepat dapatduit banyak . Mereka sering datang ke tempat tempat hiburan malam dan sesekali cari sampingan. Gaya dandanannya juga sudah berubah rambutnya sudah rebondingan. Bentuk tubuh dan kulitnya berubah lebih seksi, putih, mulus. Karena perawatannya memang mahal. Untuk wajah dan kullit agar putih bersih bisa sampai sekitar 1,2jtan. Kerja sebulan mereka sudah bisa beli HP, baju-baju bagus dan baru, kadang juga sudah mendapat pasangan. Nah pasangan ini juga bisa menjadi sumber keuangannya.  

SALAM KENTHIR

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More