Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

Tampilkan postingan dengan label Perjuangan Wong Tani Ketajek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan Wong Tani Ketajek. Tampilkan semua postingan

1 Okt 2011

Belajar pada Teori Kritik Sosial ala Bu Joko Penjual Nasi Pecel


Dibalik keresahan kita atas nilai-nilai luhur tradisi keyakinan agama yang diguncang arus besar modernisasi dengan dalih demi meningkatkan dan memajukan taraf hidup manusia.
Dibalik ketidakberdayaan masyarakat santri, masyarakat agamis, kaum adat, terjebak dalam kubangan hitam kebudayaan keranjang sampah. 
Dibalik masyarakat dusun sudah terkena wabah penyakit individualisme akut.
Ternyata, masih ada yang tersisa, masih ada yang menampakkan diri. Karenanya seakan semua keresahan, ketidak berdayaan, wabah individualisme, menjadi sirna ditelan oleh kesahajaan pandangan dan sikap hidup sosok seorang nenek bernama bu Joko  yang sehari hari didesa berjualan nasi pecel.
Demikianlah kesimpulan sementara saya menilai sosok Bu Joko beserta celotehnya ditengah realitas sosial yang semakin menyesakkan dada kita.
Penilaian itu berasal dari ketidak sengajaan saya, saat mampir di warung nasi pecel desa Balung Kopi. Kesan pertama yang kutangkap dari Bu Joko, beliau ini tipe penjual nasi pecel ceriwis.  Keceriwisan bu Joko semakin menarik ketika mengarah menjadi lontaran teori teori  ala orang bawah, maka, tip rekam yang ada didalam tas, ku nyalakan dengan diam-diam.
Oh ya, saya bukan berprofesi wartawan, tapi memang saya suka menenteng tip rekam kemana-kemana. Dengan membawa tip rekam saya bisa merekam utuh teori teori kecil yang keluar dari mulut orang-orang bawah.  Saya beranggapan semua individu itu unik dan punya teori-teori tersendiri dalam menyikapi kehidupan yang sering berlawanan (alternatif) dengan teori teori besar (filsafat) yang selama ini menjadi kesombongannya kaum intelektual sekolahan.   
Adapun narasi dibawah ini merupakan catatan celotehan-celotehan Bu Joko yang sudah saya alih bahasakan dari bahasa madura dan dikemas menjadi susunan teori pengetahuan ala Bu Joko lima tahun lalu. Dan saya berharap kita semua bisa berguru dan belajar atas pesan-pesan moral implicit yang terkandung didalamnya.

+++++++++++++++++++++++++++
Memperbandingkan cara pandang dan sikap hidup Bu Joko dengan arus besar budaya hidup hedonis pada masyarakat desa maka ia menjadi sosok yang berhadap hadapan dengan anggapan kearifan lokal akan habis oleh nilai nilai global.  Tesis yang dibangun oleh Bu Joko yakni, kearifan lokalitas takkan bisa habis karena basis kedalaman iman pada tuhan seseorang takkan pernah bisa hilang. Selama kedalaman iman seseorang itu tak hilang dihati, maka itu akan menjadi pondasi penopang budaya luhur hidup masyarakat lokal yang khas dan takkan bisa dihabisi oleh apapun, termasuk arus besar globalisasi.
Bu Joko beranggapan jika hati warga masyarakat benar benar dipenuhi dengan nilai tiada tuhan selain Allah. Hanya Allah lah berkuasa pada hati, hanya Dialah yang memberi pertolongan, maka dan tentu saja masyarakat dusun tak menjadi penggantung terpaksa pada kebutuhan-kebutuhan sekunder. Karena hati masyarakat sudah tidak selalu zikir, akhirnya kebutuhan yang semestinya sekunder berubah menjadi primer. Akibatnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup itu semakin banyak dan menumpuk. Sementara kemampuan diri untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terlampau banyak itu tak mencukupi. Dengan demikian, bisa dipastikan keruwetan-keruwetan hidup akan terus berputar-putar melilit jiwa. Menyitir bahasa sederhananya Bu Joko, “Gak usah repot repot. Kita hidup itu kan, bisa makan agar kuat sholat. Bisa berbaju supaya tak malu menghadap tuhan. Punya rumah agar bisa kumpul keluarga. Jadi hanya itu, kan? Tetapi, yang terjadi kita selalu disibukkan oleh kebutuhan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Mubazir. Tapi kebutuhan yang tidak kita butuhkan itulah yang kita kejar-kejar setiap hari.
Bu Joko yang sudah 32 tahun berjualan nasi pecel dan sekarang usianya sudah 60 tahunan, mendapat pelajaran demikian itu diturunkan dari bapaknya dan diyakininya sampai sekarang. Mendasarkan hati sepenuhnya tertuju pada tuhan membuat ia tak pernah mengeluh pada orang lain. Bu Joko mencontohkan dirinya saat menghadapi rintangan hidup ia selalu ceria. Selama hidup ia tak pernah mengambil hutangan ke bank untuk modal jualan. Selalu ingin mendekatkan hati pada tuhan membuatnya optimis memandang kehidupan fana. Itu menggerakkan dirinya untuk bisa berbuat menolong orang lain semampunya.  ”Orang seperti saya ini jangan didatangi orang yang punya kasus perceraian. Pasti dia gak akan jadi bercerai. Hehehe..”
Pandangan bu Joko diatas memang bukan berasal hasil konsumsi buku yang bertumpuk-tumpuk. Ia bukan pula analis jitu yang kaya perspektif. Beliau hanya belajar pada kesederhanaan hidup dan keyakinan mendalam pada hari akhir.
Demikian itulah yang  membuat ia walau buta teori sosial tak menghalangi hatinya mewaspadai hegomoni buruk hiburan dunia telivisi pada masyarakat penonton. Hegomoni hiburan TV hanya membuat kita menjadi obyek pasif. Sebatas konsumen yang siap selalu untuk menuruti bujukan TV. Memang kita sering dipengaruhi tanpa sadar untuk meniru gaya hidup seperti yang ada dalam permainan TV agar menjadi kehidupan nyata yang harus diterapkan oleh kita. Oleh karenanya bu Joko gak mau tertipu dan selalu berhati-hati akan permainan hayal telivisi. Makanya bu Joko gak pernah nonton sinetron.
”Kalau Cris Jhon yang bermain, saya pasti nonton. Atau Jacky Chan dan Boboho. Nonton Crish Jhon, selain itu sungguhan, itu mengingatkan pada diri saya sendiri. Kelak saya akan dipukuli juga diakherat. Ini agar saya berhati hati. Walau tak tahu pasti saya ini akan dipukuli atau gak nantinya. Sedang menonton Jacky Chan dan Boboho itu karena memang lucu.” Tegas Bu Joko.
Mengenai fenomena krisis moral yang terjadi pada para ulama, ia tak pernah ingin menilai ulama lebih jauh, takut bisa menimbulkan fitnah. Ia hanya bisa mencontohkan dirinya, bahwa ia mulai jarang hadir ke pengajian pengajian umum karena ketika hadir yang didapat cuman dimarahi dan ditakut-takuti oleh para penceramah.
”Masak kita hadir ingin mengaji tahu tahu sampai ditempat dipengajian dimarahi dan ditakut takuti. Wong bapak ibu saya gak pernah memarahi seperti itu. Gak sholat dimarahi. Gak puasa dimarahi. Siapa yang gak mangkel dimarahi. Saya kan hanya ingin ngaji. Mereka jadi kyai itu karena orang-orang seperti saya ini ingin ngaji. Banyak yang ngaji makanya ada kyai. Kalau gak ada yang ngaji apa mungkin akan ada kyai?”
”Siapa yang gak tahu mereka (para kyai yang suka memarahinya) paling paling isi perutnya gak jauh berbeda dengan isi perut saya. Harus nya kalau berpidato membuat hati ini tergetar. Membuat hati kita sejuk. Membuat kita jadi tanpa harus dimarahi terlebih dulu. Kalau ada yang gak terima ucapan saya, saya siap mempertanggung jawabkannya”

SALAM KENTHIR

Berebut Menjadi Wong Desa


Konglomerat, kaum professional, para tengkulak, para petani kaya yang memiliki sawah berhektar-hektar, tak ayal termasuk golongan kaum beruntung sebagai masyarakat desa. Mereka ini lebih bebas bergerak memenuhi kebutuhan yang diinginkan. Lebih leluasa memilih dan menentukan masa depan keluarganya.
Tetapi, bagaimana dengan mereka yang tak punya sawah sepetakpun? Mereka yang hanya bisa berprofesi sebagai buruh tani, atau hanya bisa menjual tenaga kasarnya demi untuk mengasupi aus tubuh (tukang becak, kuli bangunan dll)?
Bagai piramida; mereka para kaum mustad`afin (kaum tertindas) adalah susunan masyarakat mayoritas yang hanya berposisi berada pada level garis hidup penopang segelintir kaum elit desa.
Karenanya kekuatan pada akses politik dan ekonominya sangat lemah dan mereka hanya bisa mengais sisa-sisa ekonomi yang tercecer, dan saling berebut sesama kaum mustad`afin lainnya mencari celah usaha bertahan hidup (survival) setiap hari.
Banyak orang bilang, peta ekonomi desa kekinian pada kenyataannya, tak lain adalah ekonomi saling berebut. Bukan ekonomi gotong royong (subsistensi). Kata kaum cerdik, bahwa, telah terjadi demam kapitalisasi yang akut didesa. Siapa punya modal kuat dialah yang menguasai. Modal menjadi diatas segala-galanya. Semua usaha ekonomi tak lain demi akumulasi modal. Berfikir dan bertindaknya terukur atas nama modal. Semua energi dan pikiran individu masyarakat dikerahkan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Bila masyarakat desa telah tersusun oleh ekonomi perebutan, maka nyata, struktur sosial yang terbentuk adalah struktur kontestasi. Masyarakat atas (elit) saling bersaing, yang masyarakat bawah (kaulo alit) juga saling bersaing. Saling menyerang diserang, bertahan dan menyerang balik. Tanpa terasa bagai siluman bergerak secara diam-diam, semua warga desa sudah saling bersaing, saling menyerang, dan saling bertahan. Bagaikan pola binatang hutan rimba, Si kuat memangsa si lemah, dan silemah bertahan mencari selamat.  Tapi, bagaimana dengan si lemah yang tak kuat bertahan dan selamat diarena kontestasi sosial desa?
Desa sebagai arena hukum kontestasi tak mengkompromi orang-orang lemah yang mudah menyerah. Hanya dua pilihan bagi orang-orang yang mudah menyerah. Memilih tetap bertahan didesa atau memilih terlempar keluar desa.
Ketika virus kontestasi sudah menyebar menjadi cara pandang umum masyarakat desa, maka dan tentu saja kaum mustad`afin sebagai masyarakat yang menempati level bawah desa, tak ingin dirinya diremehkan sebagai kaum pemalas yang mudah menyerah dalam kontestasi. Disepelekan dan dipinggirkan dari dunia kontestasi desa. Sebagai manusia yang diberi pikiran dan perasaaan  mereka akan mencari celah agar bisa dipandang dan dinilai oleh masyarakat yang lain. Dan sebagai warga desa para kaum tertindas ia ingin pula  dirinya dipandang sebagai sang kontestan desa.
Yah, siapapun selama ia berada dimedan makna pasti akan berkontestasi memperebutkan makna. Tak terkecuali kaum mustad`afin. Agar bisa dikatakan pula sebagai sang manusiawi.
Karenanya hidup adalah kontestasi memperebutkan makna. Maka, mampukah orang-orang desa itu berlomba-lomba demi kebaikan, seperti yang sudah banyak kita dengar tentang  fastabikul khoirot,? Bukan kebalikannya, berlomba-lomba demi kehancuran. wallahu a`lam bisshowab.
  • (Tulisan ini jejak rekam pikiran saya yang pernah saya tulis tahun 2006 dan saya publiskan dimajalah desa sebagai dedikasi kecintaan saya pada orang orang desa yang mengalami disorientasi sosial) 

SALAM KENTHIR

Mereka Di Jakarta


Beberapa waktu lalu aku dibuat kaget melihat gadis desa cantik jelita di jalanan desa dengan dandanan modis dan seksi. Aku pikir dia  ini  mahasiswi yang sedang KKN didesa ku, atau  salah satu bintang sinetron yang lagi shooting di desa. Setelah di telusuri lebih jauh ternyata dia hanya anak tetangga yang baru pulang merantau kejakarta.

Si Srintil (nama samaran) anak gadis desa itu,  dua tahun yang lalu sebelum merantau, penampilannya masih kampungan. Kulitnya masih hitam dan rambutnya masih keriting. Kalau ngomong logat maduranya masih kental. Dia juga hanya anak buruh tani dan hanya tamatan SMP. Tapi, sekarang? Srintil sudah menjelma seperti bukan anak gadis desa umumnya, penampilannya sudah tak pantas  lagi menjadi putrinya buruh tani miskin. Kulit wajah dan rambutnya sudah seperti para bintang sinetron. Penampilannya sudah gak dekil seperti dulu lagi. Kemana - mana bawaannya HP Blackberry. Bila bertandang  kerumah tetangga sebelah sering menenteng laptop.. Rumahnya sudah bergedung mengkilat. Srintil sekarang sudah gaul banget gitu, lho! 'Engkok been' (indo: kamu aku) sudah jarang terdengar dari mulutnya, tetapi elo guwe sering terlontar  setiap ia berkomunikasi dengan tetangga. Pokoknya Srintil sekarang sip deh. Berkat merantau ke-Jakarta dia sekarang sudah jadi orang kaya baru di desa. 

Mereka di Jakarta
Ternyata bukan hanya si srintil seorang yang sukses hidupnya merantau kejakarta, tetapi serupa banyak srintil srintil lainnya didesa lain mulai mudik kekampung halamannya. Penasaran dengan perubahan drastis para srintil jakartaan, aku tanpa sadar terdorong menginvestigasi seorang teman perempuan mantan Srintil jakartaan. Dengan tanpa berat hati ia memberikan testimoni kesaksiannya tentang apa dan bagaimana para Srintil itu di Jakarta.Berikut testimoninya.
+++++++++++++++++++
Kebanyakan perempuan desa yang ke - Jakarta kerjanya di panti pijat dan pastinya memijit.

Ada dua cara memijit yang satu pijit shiatsu (pijit ala Jepang) dan kedua pijit tradisionil. Kebanyakan yang di pijit adalah orang cian laki - laki (tionghoa muda). Kalau orang jawa jarang yang ke panti pijat. Saat bekerja biasanya memakai pakaian minim kayak you can see. Saat berjalan menemui tamu mereka umumnya masih menggunakan pakaian seragam. Tapi setelah mereka bekerja di kamar yang tertutup, seragam itu dilepas karena untuk bergerak memijit agak susah.

Tarif pijitnya para tamu umumnya per- dua jam Rp. 90-150rb yang langsung di bayar ke kasir. Fasilitasnya mandi uap, mandi panas dingin, bar dan lain - lain. Sebelum ketemu meses (mesage) tamu bertanya dulu ke wetris {lagi lagi saya bingung tentang ejaannya silahkan di benarkan sendiri} tentang meses yang cocok untuk memijitnya. Biasanya tamu lebih suka meses yang putih, yang kecil, yang pinter mijit dan pinter service, atau pinter semuanya. Yang pinter semuanya ini yang paling laris ketamu.

Upah perjamnya enam sampai tujuh ribu. Banyaknya upah kerja sehari tergantung pada banyaknya tamu yang datang padanya. Biasanya rata - rata sampai data delapan jam dikalikan enam ribu berarti 46rb. Kalau lagi sepi sekitar hanya dapat 25 ribu. Upah memijit tidak dibayar perhari langsung tapi perbulan. Gaji sebulan dari majikan kalau lagi stabil sekirat 1,5 juta-an. Sedang biaya hidup para meses sebulannya minimal 1,5 jutaan juga. Jadi upah mijit hanya cukup untuk biaya hidup sehari - hari di Jakarta. Selain gaji pokok perusahaan panti pijat, para meses juga dapat uang tips (uang yang langsung di berikan tamu). 

Uang tips ini kalau di total sebulannya lebih besar dari gaji pokok dari pe-rusahaan. Dapat uang tips tergantung pada ceweknya juga. Kalau si cewek sudah kategori ngetop hanya mijit saja tak ada servis lainnya, dia bisa di kasih Rp. 100.000,- minimal Rp. 50.000,- Ada juga yang gak ngetips istilahnya disana 'tamu bolong'. Uang tips di berikan tamu atas kesepakatan mereka ketika di dalam kamar. Kalau lagi ramai meses bisa dapat uang tips satu jutaan sehari.


Gaya hidup mereka kalau sudah dua bulanan mulai bekerja perubahannya cepat sekali di banding mereka di desa. Selain sudah akrab dengan cowok yang cakep - cakep mereka juga cepat dapatduit banyak . Mereka sering datang ke tempat tempat hiburan malam dan sesekali cari sampingan. Gaya dandanannya juga sudah berubah rambutnya sudah rebondingan. Bentuk tubuh dan kulitnya berubah lebih seksi, putih, mulus. Karena perawatannya memang mahal. Untuk wajah dan kullit agar putih bersih bisa sampai sekitar 1,2jtan. Kerja sebulan mereka sudah bisa beli HP, baju-baju bagus dan baru, kadang juga sudah mendapat pasangan. Nah pasangan ini juga bisa menjadi sumber keuangannya.  

SALAM KENTHIR

26 Sep 2011

Nenek Tua dan Gerobak Tua: Hidup adalah Perjuangan Tanpa Henti



Menjadi Mbah sholeh seperti sekarang, dengan kaki pincang dan suami yang sakit-sakitan, bukanlah kemauannya pada waktu muda. Mbah Sholeh yang terlahir sebagai putri pasangan keluarga miskin ini, masa mudanya dilalui dengan menjadi gadis perkasa bekerja keras meraih masa depan. Namun nasib berbicara lain. Lima tahun setelah  menikah, anak semata wayangnya meninggalkan dia untuk selama-lamanya, Mbah Sholeh muda pernah mengadu nasib merantau ke Kecamatan Muncar Banyuwangi (kota paling timur di Jawa Timur). Di sana Ia berjualan Erok-erok (tahu petis) dan jagung bakar selama tiga tahun. Tapi hasilnya hanya cukup untuk dimakan sendirian. Dia merasa, kerja merantau tidak membawa hasil, lalu memutuskan kembali ke dusun Sumberjo - Glundengan (dusun asli tempat tinggalnya).  Kegagalan mengubah garis nasib ditanah rantau tidak menjadikan Mbah Sholeh putus asa. Berusaha dan berdoa'a adalah jalan yang harus ditempuhnya sebagai seorang muslim. Walau masa depan baginya masih suram, Mbah Sholeh muda terus saja berusaha bekerja apapun, kerja serabutan, yang penting halal. Pernah bekerja berjualan biji dawet keliling. Dan disela waktu lain Mbah Soleh muda berjualan pakaian bekas dan lain-lain. Dari kerja serabutan ini Mbah Sholeh muda mendapatkan penghasilan tiga ribu lima ratus rupiah per hari. Lumayan untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan suami tercintanya. Namun keadaan nyaman ini tidak berlangsung lama. Untuk mengatasi kemiskinan absolutnya (abadi), Mbah Sholeh muda menjadi buruh gudang tembakau dengan gaji seribu lima ratus rupiah per hari. Tapi tak berselang lama, dia di PHK musiman oleh perusahaannya.  Karena tidak terbiasa menganggur, akhirnya Mbah Sholeh coba-coba berjualan sayur-mayur pakai keranjang bambu dengan dijunjung diatas kepanya berkeliling dusun Sumberjo. Bukan hanya dusun Sumberjo Mbah juga sering berjualan di dusun tetangga yang jaraknya 3 km dari dusun Sumberjo. Hmm bukan jarak yang dekat ditempuh dengan hanya berjalan kaki.  Modal awalnya dari menjual seluruh pakaian bekas yang dipunyainya. Keadaan ini bertahan cukup lama.  Hingga pada suatu hari kesialan menimpa Mbah Sholeh. Alas keranjang bambu satu-satunya yang ada diatas kepalanya jebol tak kuat menyangga beban barang dagangannya. Mbah Sholeh mengisahkan, "Setelah keranjang tempat nasi itu jebol, oleh tetangga diberikan (gratis) keranjang yang sudah kotor sekali! Ini Mbah Sol, keranjang sayur!. Besok jualan lagi ya,? Iya! jawab Mbah Sholeh"  Keuntungan sedikit dari berjualan sayur memakai keranjang ini oleh Mbah Sholeh dibelikan beras dimasak bersama suaminya. Mbah Sholeh berkisah,  "Uang itu saya belanjakan beras seperempat kilogram, lalu dimasak dengan suami Mbah, itupun Mbah sudah seneng le, meski Mbah gak punya anak. Setelah itu besoknya Mbah buat kulakan sayur lima ikat, dua ikat lalu dijual di sekitar daerah tetangga. saat Mbah berjualan, keranjang jualan tumpah ruah, lantaran kaki Mbah terantuk batu. Mbah jatuh di depan rumah Bu Sarinah. Berantakan, ikan laut didalamnya yang hanya ada tiga rantang juga ikut berantakan. Nyeri sekali! Sampai rumah Haji Sukur Mbah di naikkan becak. Tukang becaknya gak mau dikasih ongkosnya."  Fatal kecelakaan itu membuat kaki kiri Mbah Sholeh bengkak. Terpaksa dia harus beristirahat sejenak dirumah. Belum sembuh benar sakitnya, ia bergegas lagi berjualan sayur.Lantaran kakinya yang masih belum kuat benar, dia berjalan sering terjatuh. Akibatnya kaki si-Mbah yang sebelah kiri cacat permanen sampai sekarang. Seseorang sering melihat Mbah Sholeh saat berjalan  menjinjing keranjang sayur dengan kaki sebelahnya yang terseok-seok. Seseorang itu tak tega, lalu memuatkan gerobak dorong terbuat dari bambu  untuk Mbah Sholeh tanpa meminta imbalan sedikitpun. Sejak saat itu Mbah Sholeh tak lagi berjualan dengan menjunjung keranjang bambu. Dan si Mbah tidak sering jatuh lagi. Senang sekali Mbah Sholeh. Ia bisa menambahkan isi dan jenis barang dagangannya sesuai dengan kapasitas gerobak bambu barunya. Namun sayang seribu sayang, uang yang demilikinya terlampau sedikit untuk mengisi gerobak bambunya dengan bermacam-macam barang dagangan. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit,  Mbah Sholeh berusaha terus memupuk modal jualannya. Akhirnya, harapan untuk menambahkan isi dan jenis barang dagangan itu terpenuhi. Gerobak bambu itupun muatannya penuh dengan berbagai macam jenis makanan dan sayuran. Betapa bangga Mbah Sholeh telah mampu berubah menjadi demikian. Dengan semangat baru, gerobak bambunya terus saja didorong, tak peduli melewati cuaca panas dan hujan. Boleh saja, Mbah Sholeh tak peduli dengan  kesehatan tubuhnya yang terus menurun, tetapi, geobak bambunya mulai tidak mau diajak kompromi menemaninya memuat barang jualannya bertumpuk tumpuk setiap hari. Sepertiya gerobak bambu itu pun mulai protes, "Kekuatanku (gerobak bambu) ada batasnya Mbah Sol!!".  Hehehe..dan gerobak bambu reot itu mulai rewel setiap kali didorong. Gerobak bambunya sering berbunyi, "kriek-kriek-kriek!!"  Untungnya ada Mas Bari yang melihat (Mas Bari itu tetangga Mbah Sholeh yang sehari harinya menjadi tukang las listrik) kalau bahwa gerobak bambu Mbah Sholeh tidak lagi layak pakai. Lalu Mas Bari memanggil Si Embah dan menawarkan jasanya agar bambu-bambu yang reot itu diganti dengan jeruji besi. "Mengenai biaya diangsur semampunya aja Mbah", Kata Mas Bari.  Tanpa pikir panjang  tawaran Mas Bari disepakati oleh Mbah Sholeh. Kini Mbah Sholeh sedikit lebih senang. Gerobaknya sudah terbuat dari besi. Sudah lebih kokoh dari gerobak bambu sebelumyai. Dan barang dagangannya juga bertambah banyak. Pelanggannya sudah lumayan banyak. "Alhamdulillah!!" "Sekarang apa lagi yang Mbah inginkan dalam hidup ini ?", tanyaku membatin. Lamat lamat ia terlihat berlalu mendorong gerobak sayurnya. Kata temanku, Mbah Soleh masih pingin memperbaiki rumah yang sudah reot itu. Tetap setia merawat suaminya yang sering sakit-sakitan dengan sebaik-baiknya. Sampai tulisan ini dibuat, usia gerobak sayur Mbah Sholeh sudah berusia tiga tahun! Itu termasuk sudah tua, alias kuno. Sementara teknologi baru terus datajng silih berganti menyaingi gerobak sayur Mbah Sholeh. Belum lagi Supermarket, Mall, dll, yang siap menggerus konsumen Mbah Sholeh. Terus gimana yach, Mbah Sholeh menyikapi keadaan sulit itu? Dorong terus, maju terus ..! ya mbah? :D  "Hidup adalah perjuangan tanpa henti - henti. Usah kau menangisi hari kemarin. Hidup adalah perjuangan. Bukanlah arah dan tujuan. Hidup adalah perjalanan..." (DEWA)    

19 Sep 2011

Siasat Canggih Wong Tani Ketajek Memperjuangkan Tanah Seluas 478 Hektar


Uraian tulisan saya tentang perjuangan petani ketajek ini semakin jelas menunjukkan bahwa negara hanyalah subyek pasif. Apa-apa yang telah didapat rakyat sejatinya berkat perjuangan kerasnya sendiri. bukan hasil pemberian (political will) negara. negara dalam hidup kebangsaan yang sejahtera tak lebih sekedar pencuri dan pengambil hak-hak rakyat. Demikianlah jika negara ada tapi keberadaannya tidak untuk berpihak pada rakyat. Maka perampasan tanah-tanah rakyat terjadi dimana-mana. Tak terkecuali tanah rakyat ketajek yang telah dirampasnya mulai tahun 1973.



Dibawah koordinasi Soeparjo, mereka memulai gerilya melakukan pendekatan dan lobi terhadap semua pihak yang dianggap memiliki otoritas menyelesaikan persoalan tanah Ketajek. Mulai struktur yang paling bawah yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Jember, PDP, DPRD Tingkat II, DPRD Tingkat I, DPR RI hingga ke Komisi Nasional Hak Azasi Manusia.
Suparjo yang telah diberi mandat oleh warga ketajek untuk meneruskan arah perjuangan menganggap bahwa strategi lobi adalah strategi perjuangan yang paling utama untuk mencapai kemenangan sedang pilihan strategi lainnya merupakan sebagai penunjang untuk keberhasilan strategi lobi tersebut. Pilihan strategi lobi ini dimaksudkan agar pihak-pihak terkait terketuk pintu hatinya dan tidak salah persepsi atas perjuangan warga ketajek selama melakukan tuntutan kembalikan tanah warga ketajek. Tujuan utama dari strategi lobi tersebut agar selama melakukan perjuangan warga ketajek tidak bertindak sporadis, terorganisir secara rapi dan terencana secara sistematis.
Mereka sadar bahwa pilihan utama strategi lobi untuk mencapai tujuan ini butuh waktu yang sangat panjang, oleh karenanya lobi-lobi politik perjuangan yang direpresentasikan oleh Suparjo benar-benar didukung sepenuhnya oleh warga katajek secara spritual dan material. Secara spritual mereka melakukan do`a-do`a rutin yang berupa acara istigosah setiap minggu secara berkelompok. Sedang secara material mereka mengadakan iuaran sukarela antar anggota secara rutin dan kemudian dana yeng terkumpul digunakan untuk menopang kebutuhan perjuangan Suparjo dalam melakukan taktik perjuangannya (sudah berjalan selama enam tahun). Sering dana yang terkumpul oleh warga perjuangan tidak mencukupi, akhirnya suparjo sering kali merelakan harta pribadinya untuk kepentingan perjalanan tugas-tugas perjuangan. Setiap minggu tiga kali Suparjo memberikan laporan hasil-hasil lobinya pada warga ketajek dalam pertemuan mingguan yang terformat dalam pengajian rutin istigosah yang sudah berjalan selama 6 tahun. Menurut Suparjo, pengajian rutin istigosah yang dilakukan oleh warga ketajek adalah media ampuh untuk konsolidasi internal dan menguatkan daya tawarnya dalam melakukan lobi-lobi politik eksternalnya. Dari pengamatan penulis, siang dan malam suparjo harus melobi per-orang yang mempunyai kewenangan menyelesaikan kasus tanah ketajek, mulai dari tingkat pusat sampai daerah.
Dari catatan perjalanan lobi yang telah dilakukan Suparjo, seperti dituturkan pada penulis diantaranya; pertama-tama melakukan pendekatan pada BPN (Badan Pertanahan Nasional) Jember yang waktu itu dipimpin oleh bapak Ir. Sucahyo M.hum. Dengan bertamu mendatangi rumah bapak Sucahyo secara kekeluargaan, Suparjo berhasil menarik simpatinya pada perjuangan masyarakat ketajek. Berbekal empati dari pihak luar yaitu BPN Jember, Suparjo dan kawan-kawan dengan ditemani bapak Sucahyo berhasil bertemu dengan BPN Pusat dalam rangka konfirmasi keabsahan SK HGU PDP Ketajek yang waktu itu dikepalai Bapak Lutfi Nasution bertempat di jakarta pada tahun 2002. Pada tahun yang sama Suparjo dan kawan-kawan bersama kepala BPN pusat ikut serta terlibat dalam hearing dengar pendapat dengan komisi II dan III DPR RI bertempat digedung Senayan dalam agenda pengajuan tinjau lokasi sengketa tanah ketajek sesuai dengan fakta dilapangan. Atas pertemuan tersebut ditindak lanjuti dengan tinjau lokasi oleh Komisi II DPR RI yang dipimpin oleh KH. Yusuf Muhammad dan berhasil menemui titik terang karena nama-nama pemilik sebenarnya tanah ketajek akan dikeluarkan oleh BPN Jawa Timur.
Berbekal hasil-hasil pertemuan dengan BPN pusat dan DPR RI tersebut Suparjo melanjutkan lobi-lobinya ditingkat Propinsi Jawa Timur pada tanggal 1-12-2003 yakni Ke-BPN Jawa Timur dan ke-Komisi A DPRD I Jawa Timur.. Adapun maksud Suparjo seperti yang dituturkan yaitu, agar nama-nama pemilik tanah Ketajek dikeluarkan secepatnya. Kemampuan lobi Suparjo cukup mumpuni, karena jawaban hearing dengan komisi A DPRD Jawa Timur sangat mendukung agar nama-nama pemilik tanah ketajek dikeluarkan secepatnya. Akhirnya BPN Jawa Timur mengeluarkan dan menyerahkan nama-nama pemilik tanah ketajek sesuai dengan SK Kepala Inpeksi Agraria Jawa Timur No. 1/Agr/6/XI/122/HM/III tertanggal 17-12-1964 kepada sidang komisi A DPRD I Jawa Timur dan diserahkan kepada Suparjo sebagai Koordinator MPTK.
Perjuangan tanah segera kembali ketangan rakyat ketajek mulai menemui titik terang dengan ditemukannya daftar nama 803 pemilik tanah ketajek yang sekarang dikuasai oleh PDP Jember. Namun bukan serta merta hanya berbekal SK KINAG tersebut tanah dikembalikan begitu saja oleh pihak Pemkab Jember pada warga ketajek. Secara hukum tanah tersebut adalah sah milik warga ketajek. Tetapi keyakinan warga ketajek persoalan tanah tidak segera dikembalikan oleh pemerintah daerah Jember karena pertimbangan politik oleh penguasa daerah jember yang waktu itu dipimpin Bupati Samsul Hadi (2001-2006). Dalam pengakuan Suparjo Bupati Samsul Hadi enggan menyerahkan secepatnya faktor PDP sebagai aset daerah Jember dan persoalan tanah ketajek telah diselesaikan dengan ganti rugi uang sebesar 1 milyar kepada masyarakat ketajek.
Jadi dengan didapatkannya daftar nama-nama pemilik tanah ketajek sepertinya jalan menuju kemenangan perjuangan warga ketajek mendapatkan tanah masih penuh liku-liku. Oleh karena itu lobi-lobi politik ditingkat daerah jember terus digalakkan oleh Suparjo. Masalah ketajek menjadi pelik karena adanya keputusan pemerintah daerah jember antar DPRD dan Bupati Winarno, 4 Januari 2000, memutuskan penyelesaian tanah ketajek dengan ganti rugi uang 1 Milyar. Untuk memubaka jalan menuju penyelesaian yang diharapkan oleh warga ketajek yakni dikembalikannya tanah ketajek seluas 477,8 Ha bukan ganti rugi berua uang, maka Suparjo terus melakukan pendekatan pada anggota-angota Komisi A DPRD Jember agar membuka atau melihat kembali keputusan penyelaian tanah ketajek tahun 2000 dengan memperlihatkan SK KINAG diatas. Namun kebanyakan para anggota komisi A memandang sebelah mata karena memang persoalan tanah ketajek yang disodorkan oleh Suparjo tidak memberi keuntungan secara materiel.
Suparjo tidak patah semangat untuk melakukan pendekatan dan terus berusaha meyakinkan anggota dewan agar mengangendakan Hearing penyelesaian tanah ketajek. Tidak cukup sekali Hearing karena hasilnya jarang memuaskan warga ketajek. Karenanya warga ketajek berpuluh-puluh kali hearing sampai persoalan tanah ketajek dibawa dalam sidang pleno DPRD Jember yang hasilnya yaitu, tidak ada keputusan final karena suara anggota dewa terpecah.
Terpaksa warga ketajek harus tetap bersabar sambil menunggu masa bakti mereka (DPRD) berakhir dan terganti oleh DPRD hasil pemilu berikutnya tahun 2004. Namun para anggota DPRD 2004-2009 yang baru dilantik rata-rata buta peta persoalan tanah ketajek. Untuk itu Suparjo tidak jemu-jemu menjelaskan dan mendatangi ke rumah mereka masing-masing siang dan malam. Walhasil Komisi A merekomendasikan pada ketua DPRD Jember tertanggal 12 April 2006 bahwa tanah ketajek untuk diberikan kepada masyarakat petani yang berdomisili sekitar kebun ketajek dengan perioritas bagi kelompok yang tidak menerima unag ganti rugi (Tali asih) dan memakai cara kemitraan dalam pengelolaannya dengan pihak PDP jember.
Perkembangan terakhir hasil yang telah dicapai berkat kekuatan strategi lobi perjuangan warga Ketajek yakni keputusan Bupati Jember menetapkan tim verivikasi nama masyarakat diwilayah tanah Ketajek untuk: (1) Meneliti bukti administrasi data pemilik tanah Ketajek sesuai dengan penetapan dalam SK Kepala Inspeksi Agraria Jawa Timur Nomor 1/Agr/XI/122/ HM/ III Tahun 1964. (2) Meneliti kebenaran ahli waris nama pemilik tanah Ketajek berdasarkan SK Kepala Inspeksi Agraria Jawa Timur Nomor 1/Agr/XI/122/ HM/ III Tahun 1964. (3) Merumuskan berita acara hasil verivikasi nama masyarakat diwilayah / pemilik / ahli waris tanah ketajek dengan dikuatkan atau legalisasi berupa akta notaris dan melaporkannya hasil tugas kepada Bupati.


Salam Santri Kenthir

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More