Ungkapan cintaku Lebih Kerbis dari Simbol Taj Mahal

Subtansi pengungkapan cinta terpendamnya Santri kenthir pada gadis pujaannya, itu sama halnya kisah cinta tulusnya Shah Jehan pada isterinya Mumtaz ul Zamani.

Awas! Saat Kaum Gay Bergentayangan Di Facebook Ku

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman unik selama berjejaring di facebook. Bukan untuk menghukumi minoritas kaum Gay.

Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Budaya. Tampilkan semua postingan

4 Okt 2011

Hiruk Pikuk Maksiat Ditengah Gemuruh Suara Adzan


Dikampung  halamanku, dusun Karang Kontradiktif, RT Agamis-Simbolis  (Masuk wilayah Kecamatan Balung-Jember Selatan) yang luas wilayah dusunnya sekitar 10 hektaran, dihuni oleh 50 rumah tangga, mempunyai 5 musholla plus satu buah masjid besar. Masing-masing musholla mengumandangkan panggilan adzan menggunakan corong speaker. Setiap corong speaker (pengeras suara)  bisa terdengar sampai jarak 1 KM-an. Deret antara musholla satu dengan musholla lain berjarak sekitar 200 Meteran. Bila sudah waktu magrib tiba semua serentak mengumandangkan suara adzan. Seperti tak mau kalah dengan musholla disekitarnya, suara adzan yang terdengar dari masjid besar itu lebih kencang suaranya  sampai jarak sejauh 3 KM-an. Maklum disamping telah dilengkapi dengan sound system yang memadai, corong speakernya  dipancang jauh lebih tinggi daripada yang ada di musholla, yaitu, ditempatkan diatas menara masjid yang punya ketinggian 30 Meter an, dengan jumlah 4 corong speaker dipuncak  menara dan 2 lagi disamping kubah, masing-masing corong speaker tersebut menghadap kearah enam  penjuru. Belum lagi ditambah suara adzan yang terdengar dari radio dan telivisi yang dinyalakan  oleh masing-masing penduduk sekitar.
Bisa dibayangkan seperti apakah situasi kampung halamanku bila magrib dan isya` telah tiba. Namun jangan terburu mengklaim dan memvonis kalau kampung halamanku telah merepresentasikan  dirinya sebagai masyarakat religius.

Seharusnya bila semakin banyak musholla disertai adanya masjid besar disebuah dusun dalam panggilan massal, apalagi menggunakan corong speaker,  berarti volume yang berjamaah berjumlah banyak. Semakin keras suara panggilan muadzinnya berarti orang yang terpanggil untuk datang sholat semakin tinggi. Nyatanya, Kuhitung yang datang berjamaah dimusholla sebelah rumahku saja hanya 4 orang yakni; tukang adzannya, imamnya, dan 2 orang lagi pemilik mushollanya sepasang suami-isteri. Pun di musholla yang lain tak jauh berbeda kondisinya. Sedang dimasjid besar yang waktu pembangunannya menghabiskan dana 1 M lebih, hanya terdapat 5 jamaah laki-laki dan 3 perempuan. Esoknya dan seterusnya hasil surveiku menunjukkan angka masih tetap sama dengan hari sebelumnya, dan orang-orang yang sholat berjamaah masih yang itu-itu juga.

Pernah suatu ketika saat aku baru pulang dari begadang semalaman, aku tak bisa tertidur sebab terganggu suara kaset orang mengaji yang diputar keras-keras menggunakan corong speaker menjorok tepat kearah rumahku.  Kejadian seperti itu selalu terjadi setiap jam 3 dini hari.  Padahal waktu adzan subuh masih 1/2 jam-an lagi. Mau protes tidak mungkin karena pemiliknya adalah keluarga pamanku sendiri. Esoknya saat orang-orang sekitar musholla mulai bekerja disawah, aku masuk mushollah pura-pura akan sholat. Didalam musholla aku mulai beraksi dengan merusaki  alat-alat didalam pendorong  corong speaker. Aksiku berhasil dengan sangat sukses. Walhasil selama sebulan, setip pulang dari begadang semalaman aku dengan aman tertidur pulas tanpa teror suara bising  corong speaker lagi. (Adegan ini tidak boleh ditiru. Aksi ini kulakukan waktu aku masih menjadi pemberontak kemapanan simbolisasi agama didusunku)

Dilihat sekilas dari sisi simbolisasi agama pada kampung halamanku paling tidak perilaku sosial masyarakatnya seharusnya lebih mendekati moralitas nilai-nilai agama yang dianut. Nyatanya keberhasilan simbolisasai agama Islam disana tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial masyarakatnya. Adanya 5 musholla, 1 masjid besar, 1 TK Islam, 1 Madrasah, pengajian rutin jama`ah kaum bapak, pengajian rutin kaum muslimat dan fatayat, ceramah agama setiap jum`at, namun kontradiktif dengan kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat  kampung halamanku:

  • ”Sepuluh wanita muda nan cantik berprofesi menjadi tukang pijat plus dijakarta dan dua orang menjadi mucikari dibatam dan di manado. Tiga cowok menjadi gigolo dijakarta. Seperempat penduduknya pelanggan tetap togel. Tiga orang menjadi pengedar togel yang dua orang sekarang dipenjara.  Dua orang haji kaya tapi kikirnya minta ampun. Empat orang stress berat. Satu orang menjadi maling spesialis sapi (Entah sekarang sudah tobat atau belum). Sepuluh anak remaja menjadi penguntil barang-barang ditoko (Dua anak remaja sudah pernah dipenjara). Dua orang kyai langgar terlibat dalam skandal perselingkuhan, yang satu dengan guru TK dan  satunya dengan perempuan pengepul barang besi tua.  Satu orang kyai langgar lagi yang menjadi pengumpul dana hibah dari penduduk yang melacur ditanah rantau untuk sebuah acara pengajian akbar dan merenovasi mushollanya. Selebihnya mayoritas penduduk berprofesi sebagai buruh tani tertindas. Sisanya menjadi pemuda penggangguran atau menjadi perantau dinegeri Jiran. Oh ya, satu lagi pemuda murtadnya yang sekarang sudah bertaubat, yakni saya sendiri, he he.”  (Sumber: Mata- telingaku plus gosip para tetangga)

SALAM KENTHIR

1 Okt 2011

Tantangan Budaya


Perkembangan ’pluralisme baru’ dalam skala global telah menciptakan ruang-ruang segmentasi (segmentation space) yang semakin kompleks, dengan ’ideolog iideologi’ yang semakin berwarnawarni: ada yang prokapitalisme, ada yang antikapitalisme; ada yang proindividualisme; ada yang antinegara, ada yang antiglobalisasi; ada yang proagama, ada yang antiagama; ada yang dekonstruktif, ada yang konstruktif; ada yang pluralis, ada yang anarkis-semuanya membentuk sebuah ’hutan rimba ideologi’ plural, yang sama-sama diberi label ’pluralisme’.

Di tengah-tengah hutan rimba pluralitas ideologi baru itu, persoalan yang segera muncul adalah persoalan ’identitas kultural’ (cultural identity). Ada upaya-upaya untuk menafsirkan ’identitas kultural’ itu dalam tafsiran barunya, yang tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang membawa pada nilainilai primordial, tetapi-seperti pakaian-bisa setiap hari diganti-ganti, dipermak, dimodifikasi, direkombinasi dalam wujud hibriditas dan ekelektisisme. Tafsiran seperti ini, tentunya semakin memperumit upaya menanamkan sikap pluralisme di dalam masyarakat bangsa ini, yang belum siap, bahkan dalam bentuknya yang paling konvensional pun.

Ketidakmampuan menanamkan kesadaran pluralisme konvensional ini, terbukti dengan masih maraknya konflik-konflik bernuansa suku, agama, dan ras hingga kini. Di pihak lain, pembiakan pluralitas baru dalam realitas keseharian masyarakat-bangsa ini telah membentangkan pula resiko resiko baru dan konflik-konflik baru (new conflicts), yang tidak lagi bersumber dari sentimen-sentimen kesukuan, keagamaan, dan ras.

Dalam ancaman matinya pluralisme di atas tubuh bangsa ini, belajar dari ’gerakan-gerakan lokal’-beserta ’solusi-solusi lokal’ yang dihasilkan dalam menanamkan kesadaran akan ’pluralisme kecil’ yang juga bersifat lokal-mungkin dapat menawarkan sebuah alternatif dalam menyelesaikan problem pluralitas besar masyarakat-bangsa ini. Semangat membangun diri sendiri, sambil berusaha membangun garis-garis hubungan, interaksi, dan jaringan dengan lokalitas-lokalitas lain barangkali dapat menjaga keseimbangan nasional, agar perjalanan bangsa ini tidak keluar dari orbit yang telah disepakati bersama

SALAM KENTHIR

30 Sep 2011

Gara Gara Propaganda Cap PKI, Ortuku Ikut-ikutan Impor Nama Arab


Nama asliku Muhaimain Iskandar. Nama ini pemberian orang tua saya sejak lahir. Sebutan nama kearab-araban seperti nama saya di Jawatimur tempat kelahiran saya sudah jamak. Mayoritas penduduk Jawa Timur Pasca Tragedi kemanusiaan 30 September 1965 berduyun duyun melekatkan nama pada anaknya yang baru lahir dengan nama Arab.
Maka orang tua saya pun ikut-ikutan memberikan nama kepada saya , dengan nama Arab. Sedang kedua orang tua saya sendiri masih memakai nama lokal khas Jawa Timur tempo dulu. Ibu saya bernama Juminten, sebuah nama yang tak ada padanannya di luar Jawa Timur. Juminten adalah nama khas yang sering dipakai penduduk Jawa Timur sebelum penduduk Jawa Timur dibombardir oleh nama impor dari arab.
Bapak saya bernama Mujiono. Sama dengan nama Juminten, Mujiono adalah produk lokal nama Jawa Timur tempo dulu. Kesamaannya, kedua nama orang tua saya adalah nama khas orang jawa timur sebelum Islamisasi nama menggurita.
Saya sebagai Anak bungsu dari tiga bersaudara. kedua kakak saya pun diberi nama-nama yang di impor dari Arab. Kakak yang pertama bernama Imam Syahrowi dan kakak kedua bernama Nurhasanah. Saya tidak mengerti mengapa kedua orang tua saya memutus begitu saja ketersambungan nama anak-anakny dengan nama mereka yang khas Jawa Timur.
Saya pikir kedua orang tua saya seenaknya sendiri asal ikut-ikutan dalam memberikan nama pada ketiga anaknya. Padahal nama ibu saya masih bersinambung dengan nama kakek saya yang bernama “Sarminto”. Sedang nama bapak saya masih ada titik temu kejawaannya dengan nenek saya yang bernama ‘Ngatini’. Tetapi kenapa saya yang diberikan nama Muhaimin Iskandar yang jelas tidak ada kesinambungannya dengan nama Juminten dan Mujiono. Ternyata apa yang saya alami atas kepunyaan nama Arab tersebut, juga banyak dipakai oleh teman-teman sebaya waktu itu (era 70-an sampai 80-an).
Lalu apa sebenarnya yang terjadi di balik pemberian nama Muhaimin Iskandar (sosio-historis dan kultural)?
Di tahun 1970, 1980, sampai 1990-an demam panggilan nama bermerek Arab di Desa saya telah terjadi. Di tahun-tahun tersebut diiringi dengan pertumbuhan pesat Islamisasi (santrinisasi) dan pertanda mulai memudarnya Jawanisme. Disamping Arabisasi, faktor modernisasi juga terlibat meminggirkan nama-nama yang ber-merk lokal Jawa Timur.
Tanda-tanda kemenangan islamisasi yang dipelopori kaum sarungan (baca santri) terlihat pada momen-momen penting di desaku yang bisa aku catat:
“Di dusun Tanjungan, desa Balung Lor, asal dusun ayah saya dibesarkan sebelum tahun 1970-an masih di dominasi oleh kaum abangan (berafliasi pada PNI dan PKI, bahasa sehari-hari campur sari dari bahasa jawa mataraman dan using banyuwangi). Setiap pemilihan kepala desa dari tahun 11920 sampai 1966 selalu dimenangkan oleh kelompok abangan. kaum santri beberapa kali (berafiliasi dg partai Masyumi sampai partai NU) mencalonkan diri tak pernah berhasil jadi pemenang. Bisa dikatakan sebelum tahun 1970-an kaum santri di tingkat desa tidak berposisi sebagai penguasa pemerintahan desa. Namun sejak 1990-an nama-nama kepala desa dengan merek arab mulai bermunculan. Konon setelah penumpasan serentak nyawa orang-orang komunis Indonesia, banyak orang abangan ketakutan dan menyembunyikan identitasnya dengan rame-rame meniru cara sosio-kultural kaum santri”
Situasi politik nasional pasca Gestapu (1966) merubah drastis politik kultural dimana-mana. Banyak orang abangan yang sebelumnya banyak menjadi penguasa di birokrasi pemerintahan disingkirkan dan tak diberi tempat lagi oleh kelompok militer. Namun pula kaum santri juga tak di beri tempat dalam birokrasi. Biasanya kaum santri menjadi patner utama dalam kebijakan yang menyangkut soal pertanian. Jadi bukan berarti kekalahan kaum abangan dijalur birokrasi menjadi kemenangan kaum santri. Karena jalur birokrasi masih dikuasai oleh orang militer. ‘
Kaum abangan terus terdesak sampai di jalur kultural dan kepercayaan. Stigmatisasi sebagai orang yang berbau komunis terus dikumandangkan oleh berbagai pihak. Sehingga gerakannya dalam mengekspresikan identitasnya benar-benar terancam. Mau tidak mau pilihan satu-satunya mengekpresikan diri didalam ruang batin (gerakan kebatinan) .Mereka hanya bisa beralibi jika praktek ritualnya diketahui publik, bahwa apa yang dilakukannya sekedar untuk menjaga dan menghormati tradisi nenek moyongnya.
Kelompok abangan benar-benar terdesak. sementara Kaum santri yang telah berjasa besar dalam menumpas PKI sampai ke akar-akarnya lebih leluasa (karena diberi ruang keleluasaan oleh negara) dalam ruang kultural dan praktek kepercayaannnya. Mengenai keterdesakan secara kultural dan kepercayaan kaum abangan, banyak orang menceritakan seperti ini:
” ditahun-tahun tersebut Banyak orang kejawen (kaum abangan) yang mulai belajar sholat,ngaji, pada tokoh-santri, bahkan tokoh kejawen yang kaya juga ikut naik haji. Sepulang dari haji biasanya namanya juga di rubah menjadi nama orang arab.”
Kaum santri yang selalu diolok-olok oleh kaum nasionalis dan PKI, sebagai kaum sarungan yang bisanya hanya menghitung tasbih ditangan, merasa perlu untuk segara memainkan politik kulturalnya memanfaatkan momen situasi dan kondisi yang mendukung mereka. Karena struktur kenegaraan masih dikuasai orang-milter maka ruang kultural adalah pilihan realistis untuk dimenangkan.
“Adalah pak Gumbrek, sesepuh kaum abangan di dusun Tanjungan (basis kaum abangan di desa saya) oleh bapak haji Jainuddin (tokoh kaum santri dusun karang anyar) di naikkan haji dengan biaya ditanggung oleh haji Jainuddin. Awalnya pak haji Jainuddin menawari bapak Gumbrek naik haji. Jika pak gumbrek bersedia, mulai dari proses persiapan belajar sampai keberangkatannya ditanggung oleh haji jainuddin. (cerita ini saya dapat dari tetangga saya). Padahal bapak gumbrek juga termasuk orang terkaya di dusunnya. Kalau untuk ongkos haji sangat mampu membayarnya. tetapi itu adalah barter kultural antara dua tokoh abangan dan santri ditingakat dusun. Bentuk kesepakatan kultural yang hanya mereka berdua yang tahu. Atau permainan simbol kemenangan dan kekalahan secara kultural. Pak gumbrek harus menerima tawaran haji Jainuddin untuk pertahanannya dari mara bahaya. Sedang haji jainuddin membuat penawaran tersebut sebagai simbol kemenangan tak kentara pada posisi sosial dan kulturalnya.”
Itu diatas hanya contoh kecil kasus, bagaimana posisi kaum abangan yang sangat terdesak, dan bagaimana intrik kultural kaum santri memanfaatkan situasi yang sedang berpihak padanya. Keberhasilan kaum santri dengan islamisasinya di desa saya, puncaknya ditandai dengan pembangunan masjid oleh Haji Jainuddin disamping rumahnya dimana jamaahnya mencakup sampai didusun bapak Gumbrek. Sedang pendanaannya dibiayai oleh kepala desa (kelompok militer) dan diresmikan oleh Bupati jember Abdul Hadi (TNI aktif).
Situasi politik, sosial, dan kultural didesa tempat saya di lahirkan waktu itu tak memungkinkan orang tua dalam memberikan nama-nama pada anaknya bebas menentukan sesuai pilihannya sendiri. Bapak saya tidak terdidik sebagai santri. Ayah ibunya mengajarkan nilai-nilai kejawenn kepadanya. Ia dibesarkan dilingkungan orang2 abangan. Pun ibu saya demikian. Kekalahan orang abangan dan keterdesakannya secara kultural dari kaum santri, membuat orang tua saya menyerahkan pemberian nama pada anak2nya yang baru lahir kepada Kyai untuk perlindungan sosialnya:
Jadi teman-teman semua itulah latar historis dan kultural penamaan saya. Dan itulah kenapa sekarang saya menggunakan nama pena Santri Kenthir, karena ternyata nama saya bukan terlahir dari Doa orang tua, tapi dari dampak sejarah kelam bangsa 30 September 1965 yang sampai kini masih belum terang dan menjadi keinsyafan bangsa ini kedepan.

SALAM KENTHIR

12 Sep 2011

Sahur-Sahur Bersama Seni Jaranan




Sahur Sahur dengan Jaranan

oleh Santri Kenthir pada 05 Agustus 2011 jam 0:43

Bagi yang sudah tahu dan pernah tinggal dijember selatan (Jawa Timur), tepatnya diseputar kecamatan Ambulu, Wuluhan, Dan Balung, bulan ramadhan seperti sekarang merupakan ajang anak muda meramaikan tradisi saur-saur jika tengah malam telah tiba sampai waktu imsak (waktu dimulainya puasa). Tradisi saur-saur sudah jamak terjadi dan berlangsung turun temurun. Musik pengiring saur-saur yang diusung kebanyakan musik patrol atau sebatas sound system keliling dengan harapan para penduduk yang dilewatinya terbangun dari tidurnya dan segera bersiap makan sahur.

Namun jaranan dalam tradisi saur-saur adalah hal asing dan sedang berlangsung sejak pasca reformasi. Seiring dengan bebasnya penduduk desa menanggap jaranan, rupanya kelompok jaranan tak sungkan lagi ikut meramaikan tradisi saur-saur bulan ramadhan. “Kurang lebih tujuh tahunan dari sekarang, saur-saur jaranan telah ada tiap malam berkeling pada bulan ramadhan” demikian ujar Pak Namo salah satu pimpinan kelompok jaranan yang ada dibalung mengkonfirmasi pada saya.

Rombongan pemuda saur-saur jaranan malam itu  membuat saya semakin takjub pada seni jaranan dan saya dibuat banyak belajar tentang yang tersirat didalamnya. Ditilik dari semangat 45-nya, keikhlasan berkesenian, kekompakan dan kefasihannya menguasai seni jaranan ( umur mereka rata-rata 20- tahunan), saya kira, siapapun terutama mereka yang mengklaim dirinya ber seni tinggi patut malu pada mereka (seni jaranan) yang distigmakan sebagan kesenian rendahan.

Saya mencurigai (berprasangka baik) setelah lama mengikuti atraksi-atraksinya malam itu, bahwa sebenarnya  anak-anak muda itu tidak hanya sekedar meramaikan saur-saur bulan ramadhan, tetapi lebih dari itu mereka sedang mengusung dan mempertontonkan historitasnya, sedang mewacanakan neo-ideologinya, tentang pergeseran identitasnya, atau sedang mempanggungkan ragam makna, multi kultur dan lain-lain. Apabila dugaan saya ini benar, maka anak-anak muda itu pantas mendapat harta karun pahala dari tuhan.:D

Apa yang mereka telah tunjukkan bisa digaris bawahi, bahwa mereka telah melakukan aksi perayaan keragaman umat islam Indonesia. Diakui atau tidak, pendukung seni jaranan merupakan bagian dari umat islam. Itu faktuil. Mereka sholat dan berpuasa tapi pilihan keseniannya adalah jaranan.:)

Mudah-mudah-mudahan keberadaan saur-saur seni jaranan dibulan ramdhan ini menjadi oto- kritik pada PBNU dalam memandang seni jaranan selama ini. Kok dikait-kaitkan dengan NU? NU yang berpaham Islam rahmatan lil `alamin (Islam sebagai rahmat bagi alam semesta) tentu akan lebih mudah menyapa mereka dari pada kelompok Islam garis keras lainnya.  Jadi saya berharap dengan ini PBNU mengeluarkan fatwa bahwa Seni Jaranan adalah kesenian Umat Islam Indonesia. Dalam skala luas, PBNU sangat perlu menyelamatkan seni tradisi umat islam Indonesia yang keberadaannya terus terdesak oleh jaman.  He..he..jadi ngelantur.

Saur-saur ala jaranan yang diusung anak-anak muda itu bukanlah peristiwa remeh temeh, hanya sekedar meramaikan even tahunan bulan ramadhan, tetapi, mereka menghadirkan sejarah keterpinggiarannya selama ini. Hal ini terlihat pada semangat dan aksinya dalam berkeliling kampung; sebagai orang pinggiran dan kesenian yang dipinggirkan, memicu semangat dan aksi pantang menyerah dalam berkeliling kampung tiap malam, walau tidak dapat manfaat secara material baginya, terpenting telah mementaskan diri pada ruang publik. Kira-kira, kepuasan batinlah yang mereka kejar, disamping dapat pahala telah mengisi bulan ramadhan, mereka juga puas memainkan dan menghadirkan diri dari pinggir ketengah-tengah ruang publik wacana umat islam. Jika ini dilakukan terus menerus dan dilakukan serentak oleh kelompok jaranan-jaranan lain, tidak mustahil kelak jaranan, bukan hal aneh lagi, bisa tampil diacara-acara Imtihan pesantren. :)

Semangat dan aksi mereka sungguh luar biasa. Mereka start perjalanan dari desa Balung Kulon sampai berkeliling kecamatan balung memakai waktu sekitar empat jam. Sambil mengayuh sepeda dan becak, mereka menabuh alat-alat musik jaranannya. Lalu beberapa orang kampung meminta mereka memainkan jaranan dihalaman pos kamling yang lebih luas. mereka berhenti dan menerima tawaran itu dengan senang hati.

Layaknya sedang mentas pada acara-acara formil pesta perkawinan, anak-anak muda ini bermain total. Dua pemain (umurnya sekitar 14 tahunan) yang semula normal-norma saja mendadak kesurupan dan mereka 'ndadi' dengan tarian-tarian khas jaranan.

Lagi-lagi saya dibuat takjub. Bukan karena tarian 'ndadinya' dua pemain itu. Kalau hal demikian sudah biasa saya saksikan. Namun seiring dengan itu, poskamling yang jadi pentas riuh musik jaranan itu letaknya tak jauh dengan masjid yang sedang menggelar tadarrusan dengan menggunakan pengeras suara. Dan masing-masing kedua kelompok ini tak merasa terganggu. seakan-akan sudah saling mengerti dan menoleransi. Anak-anak muda itu dan orang-orang kampung yang menanggapnya tidak merasa menganggu orang-orang ngaji dimasjid. dan orang masjid juga tidak merasa diusik oleh riuhnya musik jaranan. "Sama-sama sedang mengisi bulan ramadhan. sama-sama sedang mencari ridha tuhan. Jadi perasaan-perasaan su`udhan pada yang lain yang berbeda sudah tidak berlaku." kira-kira begitu yang ada dibenak mereka.

Sungguh itu peristiwa kultural yang luar biasa. Siapapun tak bisa memastikan dan menjamin kalau yang ngaji dimasjid itu bacaannya lebih diterima tuhan daripada senandung lagu-lagu jaranan dengan penari yang kesurupan. Tapi umumnya orang sudah memastikan peristiwa kultural tersebut dengan asumsi: "karena jaranan sudah kesurupan berarti pasti sudah bersama setan, lebih diterima setan, daripada diridhoi tuhan dan pasti keneraka kelak. Sedang yang ngaji dimasjid itu membaca firman tuhan, walau tidak tahu arti dan maknanya, pasti lebih diterima tuhan, dapat pahala, dan kelak masuk surga".
Tentu tidaklah bisa dipastikan demikian dan dijamin kalau yang ngaji lebih diterima tuhan dan yang jaranan dilaknat dan masuk neraka. Bisa jadi terbalik. Terserah tuhan dong. Itu wewenang mutlak tuhan. Yang bisa dipastikan, bahwa diantara mereka telah terjadi toleransi, jalinan saling mengerti dan memahami, kalau diantara mereka sedang sama-sama mengisi bulan ramadhan. Sama-sama ingin mendapat ridha tuhan. walllahu`alam bisshawab. (hanya tuhan yang paling tahu. kita semua tidak tahu hanya FPI dan sepaham dengannya saja yang sok tahu). :)

Saya kira siapapun yang melakukan kebajikan dengan sikap toleransi tinggi, itu sudah memenuhi subtansi agama. Tentu hal demikian akan diridhoi Tuhan.
He..he tanpa terasa dua buah lagu jawa banyuawangi telah usai dimainkan mereka dan yang ndadi (penari yang kesurupan) telah siuman. tanpa dikomando mereka bergegas meninggalkan pos kamling dengan kompaknya. menaata alat musiknya kembali pada posisi diatas sepeda dan becaknya. dan berkeliling kembali..."saur...saur...iki jaranan...iki jaranan...dan seterusnya..." suaranya semakin jauh terdengar.






 ·  · Bagikan · Hapus

Salam Santri Kenthir

Menggugat Perayaan Kemerdekaan



Bagi kaum buruh kasar, perayaan hari kemerdekaan  hanyalah keramaian kampung; berderet umbul-umbul dan bendera, segala bentuk perlombaan dari membaca puisi (deklamasi), balap karung, sampai panjat pinang, dan pertunjukan seni drama perang-perangan di malam hari.
Itulah persoalannya. Kita selalu disuguhi dan diajak mengenanig masa lalu hampir sepanjang tahun dalam berbagai bentuk ritual dari seminar, berdebat di media, karnaval, mnengheninglcan cipta, hingga sekedar libur kerja dan sekolah. Rritual-ritual untuk mengenang hari-hari keramat masa lalu kita seperti itu memang seolah memerlihatkan “totalitas” atau kesadaran kolekfif yang tunggal, tetapi sekaligus menghadirkan begitu banyak makna (interpretasi) yang berbeda-beda. Totalitasnya mempesona, meski sebagai peristiwa komunal ia tak juga mampu mendefinisikan  individu warga secara tegas. Di dalam perayaan kemerdekaan semua orang sepakat dengannya, tetapi tidak ada jaminan sedikit pun bahwa setiap orang setuju bagian-bagian tertentu darinya. Dengan demikian, sebenarnya perayaan kemerdekaan lebih pas dikatakan sebagai komunalitas yang terdiri dari individu-individu yang bukan saja berbeda pandangan dan orientasinya, tetapi, dan ini yang penting, tetap berada dalam keberbedaannya. Sebagai kerurnunan, perayaan kemerdekaan adalah bahasa argument, bukan koor harmoni. Di dalam hari kemerdekaan, konsensus dapat terbangun, tetapi setiap individu tidak hanyut sama sekali. Kebersamaannya terjaga, tetapi representasi individu tetap mungkin dan menjadi penting.
Kita memang bisa bilang “belajar dari masa lalu untuk masa depan”, “membaca masa lalu dengan perspektif masa kini”, atau  “hidup dilalui ke depan, tetapi dipahami ke belakang”. Tetapi melaluinya, ternyata tidak semudah mengatakannya. Meniti hidup ke depan dari pengalaman masa lalu, paling tidak dari pengamalan kekinian, ternyata tidak semulus yang dibayangkan, bukan karena masa depan bagaikan sebuah rimba yang tak mudah ditebak din dipetakan, tetapi masa lalu itu juga sebuah ruang terbuka yang mendorong multitafsir bahkan imajinasi yang juga teramat sulit dipetakan. Benar apa yang dikatakan sejarawan seperti Taufik Abdullah bahwa sejarah adalah “negeri asing”, tempat orang berbuat yang aneh-aneh. Lalu bagaimana jadinya, jika masa depan yang tanpa peta dipertemukan dengan (dibangun atas dasar) masa lalu yang berupa “negeri asing” yang juga hanya sebuah anak panah yang terlepas dari busurnya, sehingga siapapun bisa berbuat yang aneh-aneh terhadapnya.

Semoga Menginspirasi

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More